KABARPAPUA, Lanny Jaya – Di balik hamparan udara dingin Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan, tersimpan kehangatan dari sebuah dedikasi panjang.
Bagi keluarga Moses Yigibalom, segalanya bermula pada tahun 1985. Kala itu, bantuan bibit kopi dari pemerintah yang ditanam di lahan seluas 4,5 hektare tak sekadar tumbuh menjadi tanaman, tetapi menjelma menjadi urat nadi kehidupan.
Biji-biji kopi inilah yang membiayai langkah Moses hingga berhasil mengenyam pendidikan tinggi hingga ke kota yang dijuluki Paris Van Java.
Alih-alih terbuai oleh kenyamanan kota besar, Moses memilih sebuah jalan sunyi untuk pulang dan membesarkan kopi warisan sang ayah.
Menurut Moses, dunia kopi bukan menjadi hal yang baru, karena sudah diselami sejak kecil mulai dengan cara merawat, membersihkan hingga menghasilkan green bean.
“Setelah kembali ke Lanny Jaya, saya fokus menekuni bidang perkopian hingga menjadi petani kopi sekaligus mengembangkan usaha jual beli kopi baik yang berbentuk biji maupun bubuk dengan nama brand “Lani Mendek” sejak tahun 2016 hingga sekarang,” papar Moses, Rabu, 15 April 2026.

Tak ingin sukses sendirian, Moses memimpin Kelompok Tani Tiom yang beranggotakan 20 petani kopi untuk mengelola tanaman kopi dengan standar kualitas yang mampu bertarung di pasar luar.
Namun, seiring dengan tumbuhnya semangat para petani, alam memberikan ujian yang cukup berat. Cuaca yang tak menentu di Lanny Jaya kerap menghancurkan hasil panen yang sedang dijemur menggunakan terpal secara terbuka di halaman.
“Dulu proses pengeringan menjadi sebuah pertaruhan melawan cuaca. Kondisi alam yang tak menentu memaksa kami menunggu hingga satu bulan lamanya agar kopi bisa kering sempurna,” terangnya.
“Saat pulang dan melihat hasil kopi berjamur kena hujan, semangat saya rasanya patah. Melihat jerih payah rekan-rekan petani terbuang percuma, benar-benar menjadi pergumulan dan menghadirkan air mata bagi saya,” kenang Mosesmenambahkan.
Di tengah keputusasaan menghadapi tembok keterbatasan infrastruktur pascapanen tersebut, doa Moses dan para petani akhirnya terjawab.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) hadir membawa solusi konkret dengan membangun dome (rumah kaca) penjemuran permanen beratap ultraviolet (UV) untuk Kelompok Tani Tiom.
Menurut Moses, banyak hasil panen yang akhirnya berjamur dan terbuang percuma. Kondisi ini membuat pendapatannya menjadi tidak pasti. Sebelumnya, hanya mampu mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp27 juta namun dengan dome pengeringan ini efeknya sangat terasa.
“Kualitas biji kopi nya meningkat dan risiko gagal panen menjadi minim. Sekarang pendapatan kami meningkat dan bisa meraup hingga Rp 40 juta dalam sekali panen,” ungkapnya.
Berkat ketekunan Moses dalam memaksimalkan fasilitas yang mumpuni dari PLN sejak tahun 2025 lalu, kualitas Kopi Lanny Jaya kini diakui luas.
Hasil panen kelompok tani ini rutin menyuplai berbagai kedai kopi dan roastery ternama, seperti Highland Roastery dan berbagai kafe di Jayapura, Amungme Golf di Timika, hingga menembus pasar ibu kota melalui Gajah Mada Roaster di kawasan Pasar Senen, Jakarta.

General Manager PT PLN (Persero) UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Romsaur menyampaikan rasa bangganya terhadap sosok penggerak seperti Moses Yigibalom. PLN selalu berkomitmen hadir mendukung putra putri daerah yang memiliki visi menyejahterakan masyarakat luas.
“Kami menyadari, pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan pahlawan-pahlawan lokal di lapangan. Kisah Moses yang rela kembali untuk membangun daerahnya sangat menginspirasi,” jelas Roberth, Rabu, 15 April 2026.
Menurut Roberth, kehadiran dome penjemuran kopi ini adalah wujud nyata komitmen PLN yang tidak sekadar menerangi Papua Pegunungan dengan listrik, tetapi juga membersamai para penggerak lokal untuk menerangi asa dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara nyata.
Kini, dari balik dome penjemuran di Lanny Jaya, aroma kopi yang mengering sempurna terus tersebar, membawa cerita tentang seorang pemuda yang pantang menyerah untuk menyalakan asa.
Moses Yigibalom membawa cerita tentang kerja keras, peningkatan kesejahteraan petani dan sebuah kolaborasi yang berhasil menyalakan harapan di pucuk pegunungan Papua. ***(Advertorial)


















