Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

KABAR PAPUA TENGAH · 11 Jul 2026 20:55 WIT

Kendalikan Inflasi, Pemprov Papua Tengah Andalkan Data Riil Pangan


					Ilustrasi sembako/Net Perbesar

Ilustrasi sembako/Net

KABARPAPUA.CO,Nabire– Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengubah strategi pengendalian inflasi. Tak lagi mengandalkan perkiraan, Pemprov kini memajukan basis data riil produksi dan kebutuhan pangan masyarakat sebagai acuan intervensi pasar.

Pj. Sekretaris Daerah Papua Tengah, Silwanus Sumule, menegaskan pentingnya akurasi data hasil sinkronisasi bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

“Kita harus mempunyai basis data kebutuhan riil komoditas kita per hari atau per bulan, dan berapa kemampuan produksi dari petani kita. Semua variabel ini sangat menentukan pergerakan harga di pasar,” ujar Silwanus di Nabire, Sabtu 11 Juni 2026.

Langkah berbasis data ini diambil agar produksi lokal terserap optimal. Jika pasokan lokal mencukupi, pemerintah akan membatasi masuknya komoditas dari luar daerah.

  • Kebutuhan Telur Nabire: Mencapai 1.062.000 butir (60 ton) per bulan. Pemerintah membandingkan angka ini dengan hasil peternak lokal sebelum memutuskan keran pasokan luar.
  • Potensi Peternak: Salah satu usaha peternakan di Nabire bahkan sudah mampu memproduksi 12.600 butir telur per hari (22 ton/bulan).
  • Perbandingan di Mimika: Produksi telur mencapai 15,82 ton per hari (474,5 ton/bulan) dari populasi 440.280 ekor ayam.

Selain telur, Program Prioritas Gubernur juga menggenjot kemandirian pangan pada komoditas daging babi serta pengawasan ketat rantai pasok cabai dan tomat dari gangguan cuaca maupun hama.

Langkah cepat ini menjadi krusial mengingat BPS mencatat inflasi tahunan Nabire pada Juni 2026 menyentuh 4,44%—tertinggi di Papua Tengah. Laju inflasi didorong kenaikan harga bahan pokok serta lonjakan biaya distribusi akibat penyesuaian harga BBM non-subsidi.

Di Pasar Kalibobo Nabire, pergerakan harga komoditas pangan mulai bervariasi, harga cabai rawit turun Rp70 ribu dari sebelumnya Rp90 ribu. Lalu. harga bawang merah naik dari sebelumnya Rp60 ribu, saat ini menjadi Rp75 ribu. Kemudian, harga tomat dan bawang putih stabil di kisaran Rp40 ribu hingga Rp60 ribu. *** (Agis Pranoto)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Gubernur Papua Tengah Resmi Buka Rakorwasda 2026, Tekankan Penguatan Pengawasan dan Akuntabilitas Anggaran

27 October 2026 - 14:24 WIT

DPRP Papua Tengah Berkomitmen Dorong Kamandirian Ekonomi bagi OAP

15 October 2026 - 17:58 WIT

Pemprov Papua Tengah Gelar Pendidikan Vokasi, Siapkan SDM OAP yang Kompeten dan Mandiri

15 October 2026 - 07:28 WIT

Buka Konferensi GKII Wilayah II Papua Tengah, Wagub Deinas Geley: Jaga Persatuan Umat

13 October 2026 - 22:05 WIT

TPP Bangkit Papua Tengah Jajaki Kerja Sama dengan Bank Papua

10 October 2026 - 14:35 WIT

Edukasi Pelajar, IMI Nabire Gencarkan Sosialisasi Keselamatan Berkendara ke Sekolah

10 October 2026 - 14:10 WIT

Trending di KABAR PAPUA TENGAH