KABARPAPUA.CO, Timika- Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley bersama Bupati Puncak Elvis Tabuni dan para hamba Tuhan resmi membuka Konferensi Sinode ke-IV Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Tengah di Gedung Graha GKII Timika, Selasa 13 Oktober 2026.
Konferensi diawali dengan peresmian Gedung Graha GKII Timika melalui pengguntingan pita oleh Bupati Puncak Elvis Tabuni disaksikan Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, dilanjutkan dengan ibadah dan pembukaan konferensi.
Sebelumnya, Kabupaten Puncak ditunjuk sebagai tuan rumah dalam konferensi ini, namun karena faktor keamanan, maka lokasinya dipindahkan ke Timika.

Bupati Puncak Elvis Tabuni, bersama Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley disela-sela Konferensi Sinode ke-IV Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Tengah di Timika, Selasa 13 Oktober 2026. Foto: Diskominfo Puncak
Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley menyampaikan konferensi akan memilih Ketua Sinode GKII wilayah II Papua Tengah periode 2026-2031. Dirinya berpesan, siapapun yang terpilih adalah kehendak Tuhan dan bekerja untuk melayani, bukan dilayani.
“Siapapun yang terpilih, jangan membuat kelompok. Lalu, jika ada yang kalah, lalu membuat gereja sendiri atau organisasi sendiri. Itu tidak boleh. Gereja ini harus dijaga, siapa pun yang terpilih, semua umat harus loyal kepada yang terpilih,” ajaknya.
Dia mengingatkan bahwa GKII adalah gereja terbesar di Papua Tengah dan pemuda GKII yang merupakan tulang punggung gereja harus bersatu dan bekerja sama dengan para hamba Tuhan untuk melayani umat.
“Sementara gereja dan pemerintah adalah mitra yang perlu berkolaborasi karena pemerintah tidak dapat berjalan sendiri tanpa gereja, agar pembangunan dan kedamaian bisa dirasakan masyarakat,” jelasnya.
Bupati Puncak Elvis Tabuni menyampaikan konferensi sinode bukan kegiatan berkumpul dan memilih pengurus, tetapi kesempatan bagi gereja untuk meninjau pelayanan yang telah dilakukan, mengevaluasi kekurangan, dan menyusun rencana pelayanan ke depan.
Menurutnya,perbedaan pendapat dalam konferensi adalah hal biasa, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita terpecah. “Mari kita mengutamakan kasih, persaudaraan, dan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” ujarnya.

Menurut Elvis, pembangunan daerah tidak hanya soal jalan, gedung, sekolah, dan rumah sakit, tetapi juga membangun manusia, memperkuat iman, dan membentuk karakter. Karena itu, pemerintah membutuhkan dukungan gereja, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dan seluruh masyarakat.
Ia mengajak para hamba Tuhan terus memberikan penguatan rohani, mengajak generasi muda menjauhi kekerasan, serta menanamkan semangat belajar, bekerja, dan membangun masa depan, serta meningkatkan pelayanan kepada jemaat, memperhatikan pendidikan anak, membina generasi muda, dan mendukung peningkatan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.
Ketua Panitia Thomas Tabuni menjelaskan konferensi dihadiri delegasi dari 28 klasis GKII Wilayah II Papua Tengah yang berasal dari Kabupaten Puncak, Intan Jaya, dan Puncak Jaya. Setiap klasis mengirim 10 perwakilan, dengan total peserta diperkirakan 700-800 orang. Konferensi berlangsung pada 13-17 Oktober 2026.
Ketua Sinode GKII Wilayah II Papua Tengah, Pdt. Hans Wakerkwa menjelaskan konferensi lima tahunan bertujuan mengevaluasi dan merumuskan arah pelayanan lima tahunan ke depan dan menjadi forum pengambilan keputusan strategis termasuk soal kepengurusan di tingkat sinode wilayah II, serta menyusun program kerja lima tahun,yang berdampak bagi jemaat di setiap klasis. Adapun tema GKII periode pelayanan 2026-2031 adalah “Bertumbuh Bersama”, itu artinya gereja mengajak setiap orang bertumbuh bersama.
“Tidak boleh satu orang pun mati sia-sia, entah karena sakit, konflik bersenjata, maupun perang suku, karena manusia berharga di mata Tuhan,” ujarnya.
Ia menghimbau agar umat saling menjaga dan menciptakan kedamaian serta ketenangan, mulai dari keluarga, jemaat, klasis, hingga sinode se-Tanah Papua. Ia juga berterima kasih kepada panitia, Pemerintah Kabupaten Puncak sebagai tuan rumah, dan sejumlah kabupaten di Papua Tengah yang mendukung kegiatan ini.
“Selama kita hidup, pelayanan ini akan tetap berjalan sampai Tuhan Yesus datang. Hidup ini untuk Tuhan, itu motto orang tua kita, generasi saat ini dan yang akan datang,” tambahnya. *** (Diskominfo Puncak)








