Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

NOKEN · 3 May 2024 18:21 WIT

Tradisi Menginang Mahasiswa Papua di Yogyakarta Melalui Photo Story


					Buah pinang, sirih dan tepung kapur. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai) Perbesar

Buah pinang, sirih dan tepung kapur. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

OPINI

*Penulis: Verawati Widiastuti Bonai (Mahasiswi Ilmu Komunikasi dari Universitas AMIKOM Yogyakarta)

TRADISI menginang atau mengunyah pinang melekat pada masyarakat di Tanah Papua. Meskipun kebiasaan ini juga banyak dilakukan oleh masyarakat di daerah lain di Indonesia, namun menginang bagi masyarakat Papua seperti hal yang tidak boleh dilewatkan.

Biasanya menginang pada daerah lain hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah berumur. Namun di Papua, tradisi menginang dilakukan oleh banyak orang dari berbagai tingkatan usia, mulai dari anak kecil, remaja, orang dewasa hingga orang tua yang sudah berumur.

Kebiasaan ini membuat anak muda Papua yang merupakan mahasiswa di kota pelajar Yogyakarta juga sulit melepaskan tradisi tersebut. Mereka bahkan tetap melestarikannya hingga ke tanah rantau.

Menguliti buah pinang. (Foto : Verawati Widiastuti Bonai)

Verawati Widiastuti Bonai salah satu mahasiswi Ilmu Komunikasi dari Universitas AMIKOM Yogyakarta yang dibimbing oleh Sheila Lestari Giza Pudrianisa, M.I.Kom membuat sebuah karya fotografi jurnalistik berbentuk photo story dengan mengangkat tema mengenai tradisi menginang mahasiswa Papua di Yogyakarta.

Membuka buah pinang dengan gigi. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

Keunikan dari tradisi menginang ini sendiri yaitu ada pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, mulai dari segi budaya menyangkut tata pergaulan dan tata nilai dalam kemasyarakatan.

Memasukkan buah pinang ke mulut. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

Sisi interaksi sosial buah pinang merefleksikan identitas orang Papua serta menjadi simbol solidaritas dan persaudaraan. Dari sisi kesehatan, bahan-bahan untuk menginang dipercaya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan gigi dan mulut.

Menuangkan kapur.(Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

Terakhir dari nilai ekonomi, ada transaksi perdagangan yang terjadi di dalamnya. Serangkaian foto yang diciptakan bercerita tentang proses dari awal hingga hasil akhir dari tradisi menginang yang dilakukan oleh mahasiswa Papua di Yogyakarta dengan jumlah 9 foto.

Menyelupkan buah sirih ke kapur. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

Dengan 9 foto yang diambil mulai dari memperlihatkan buah pinang, sirih dan juga kapur sebagai bahan-bahan dalam melakukan tradisi menginang. Lalu memperlihatkan proses tradisi menginang sedang berlangsung yaitu dimulai dari menguliti buah pinang.

Mengunyah buah sirih dan pinang. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

Kemudian buah pinang tersebut dibuka menggunakan mulut, kemudian dimakan. Berikutnya menuangkan kapur ke tangan, dilanjutkan dengan menyelupkan buah sirih ke kapur. Langkah berikut, memasukan buah sirih untuk dikunyah secara bersamaan dengan buah pinang yang sudah berada di dalam mulut.

Hasil memerah dari proses menginang. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

Sampai pada hasil akhir dari buah pinang yang sudah melalui proses menginang hingga menjadi merah. Terakhir foto ditutup dengan memperlihatkan para mahasiswa Papua yang sedang melakukan tradisi menginang secara bersama-sama di suatu lapangan luas yang berada di daerah Seturan, Yogyakarta.

Menyatukan persaudaraan. (Foto: Verawati Widiastuti Bonai)

Verawati Widiastuti Bonai selaku pembuat karya membuat karya ini bertujuan sebagai bentuk apresiasi budaya atau tradisi yang masih terus dilestarikan oleh anak muda Papua. Walaupun sedang berada jauh dari tempat mereka berasal agar bisa memberikan kesadaran kepada para anak muda lainnya supaya melakukan hal yang sama. ***

*) Isi opini atau artikel ini menjadi tanggungjawab penulis sepenuhnya, bukan menjadi tanggungjawab redaksi KabarPapua.co.

Artikel ini telah dibaca 88 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Hak-hak Masyarakat Hukum Adat di Wilayah Tanah Papua

17 May 2024 - 22:04 WIT

Spei Yan Bidana, Pemimpin yang Visioner

13 May 2024 - 10:18 WIT

Perempuan Sentani Bangkit di Atas Tonggak Budaya

23 April 2024 - 19:09 WIT

Tahapan Penyelenggaraan Pilkada yang Terbuka Sesuai UU KIP

1 December 2023 - 15:59 WIT

Trending di NOKEN