Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

LINGKUNGAN · 22 Oct 2025 14:25 WIT

BBKSDA Papua Klarifikasi Pemusnahan Mahkota Cenderawasih


					Kepala BBKSDA Papua, Johny Santoso  (tengah) bersama jajaran. Foto: Imelda/Kabarpapua.co Perbesar

Kepala BBKSDA Papua, Johny Santoso (tengah) bersama jajaran. Foto: Imelda/Kabarpapua.co

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua mengklarifikasi pemusnahan opset dan mahkota Burung Cenderawasih yang memicu protes dari masyarakat Papua.

Kepala BBKSDA Papua, Johny Santoso meminta maaf atas kejadian tersebut dan menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan untuk menegakkan hukum positif dan melindungi satwa liar yang dilindungi negara.

“Kami menyadari bahwa tindakan ini menimbulkan luka dan kekecewaan. Namun, langkah ini bukan untuk melecehkan budaya Papua, melainkan untuk memutus rantai perdagangan ilegal satwa dilindungi,” ujar Johny dalam siaran pers di Jayapura, Rabu 22 Oktober 2025

Klarifikasi ini disampaikan usai pelaksanaan Patroli Terpadu selama tiga hari (15–17 Oktober), yang melibatkan 74 personel dari berbagai instansi: Polda Papua, TNI, Dinas Kehutanan, Balai Karantina, dan Kesyahbandaran Jayapura. 

Dari hasil patroli, sebanyak 58 ekor satwa dilindungi hidup dan 54 opset satwa mati berhasil diamankan, termasuk tiga opset Burung Cenderawasih kecil, 8 mahkota Cenderawasih, serta aksesori berbahan bulu seperti sisir dan tusuk konde.

Barang-barang tersebut dimusnahkan sesuai dengan Peraturan Menteri LHK No. P.26/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2017, dengan pertimbangan hukum dan permintaan sebagian pemilik barang agar tidak disalahgunakan.

BBKSDA Papua menyampaikan pelestarian Burung Cenderawasih di habitat alaminya justru merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai budaya dan identitas masyarakat adat Papua. 

“Melindungi Cenderawasih bukan berarti meniadakan budaya, tapi menjaga kesakralannya sebagai simbol kehormatan,” tegas Johny.

Sebagai langkah lanjutan, BBKSDA Papua mengajak tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah untuk berdialog dan membangun sinergi antara pelestarian budaya dan konservasi alam.

 “Mari kita jaga kesakralan Cenderawasih  bukan hanya sebagai simbol budaya, tapi juga sebagai roh kehidupan hutan Papua,” Johny Santoso berujar. *** (Imelda)

Artikel ini telah dibaca 253 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

3 Perguruan Tinggi di Papua Perkuat Konservasi Laut di Melanesian Ocean Summit 2026

16 May 2026 - 22:12 WIT

PLN Perkuat Mitigasi Bencana di Pesisir Hamadi Lewat Program Desa Siaga Bencana

8 May 2026 - 13:49 WIT

Kolaborasi PLN IP UBP Holtekamp-DLH Kota Jayapura Peringati Hari Bumi

25 April 2026 - 09:43 WIT

Peringati Hari Bumi: Komitmen PLN IP Holtekamp Wujudkan Green Company

24 April 2026 - 14:31 WIT

Aksi Konservasi Bawah Laut Pertamina Patra Niaga di Negeri Laha

5 April 2026 - 17:50 WIT

PLN Tanam Ribuan Pohon, Rehabilitasi Pesisir Holtekamp Jayapura

29 November 2025 - 22:42 WIT

Trending di LINGKUNGAN