KABARPAPUA.CO, Serui – Kepedulian terhadap kelestarian bahasa daerah mendorong putra asli Kampung Ansus, Distrik Yapen Barat, Elisa Benediktus Ayorbaba menyusun Kamus Harian Bahasa Ansus-Indonesia sebagai upaya mendokumentasikan, sekaligus menjaga eksistensi Bahasa Ansus agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurut Elisa, kamus itu diterjemahkan bersama Yamen Aronggear, Zakarias Raweyai, Aris Tarkus Ayorbaba, dan Deni Auparai, lalu diterbitkan Yayasan Teluk Cendrawasih Peduli Pendidikan Bangsa.
“Kehadiran kamus ini diharapkan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang agar tetap mengenal dan menggunakan bahasa leluhurnya,” kata Elisa di Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Kamis, 16 Juli 2026.
Elisa juga mengungkapkan, gagasan menyusun kamus ini berawal dari keprihatinannya melihat semakin berkurangnya penggunaan Bahasa Ansus, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
“Kondisi itu terlihat ketika masih terdapat anak yang belum memahami Bahasa Indonesia sehingga guru harus terlebih dahulu menjelaskan materi menggunakan Bahasa Ansus,” jelasnya.
Menurut Elisa, dirinya menyusun kamus ini karena melihat beberapa anak belum memahami Bahasa Indonesia, sehingga materi harus dijelaskan terlebih dahulu menggunakan Bahasa Ansus.
“Dari situ muncul keinginan saya agar Bahasa Ansus tetap hidup dan tidak hilang begitu saja.Bahasa adalah identitas dan jati diri suatu masyarakat. Kalau bahasa hilang, maka jati diri kita juga perlahan akan hilang,” ujarnya.
Menurut Elisa, Kamus Harian Bahasa Ansus-Indonesia bukan sekadar kumpulan kosakata, melainkan dokumentasi kekayaan bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat Ansus.
Setiap kata disusun berdasarkan urutan alfabet dan dilengkapi padanan Bahasa Indonesia sehingga mudah dipelajari oleh pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum.
“Kamus ini saya susun sebagai sarana pembelajaran sekaligus dokumentasi bahasa. Harapannya, generasi muda dapat mengenal, mempelajari, dan menggunakan Bahasa Ansus dalam kehidupan sehari-hari sehingga bahasa ini tetap lestari,” katanya.
Selain memuat ribuan kosakata, buku ini juga dilengkapi kata pengantar, biodata penulis, tanggapan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Yapen, tanggapan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, tanggapan Kepala Bidang Kebudayaan, serta daftar isi yang disusun secara sistematis untuk memudahkan pembaca mencari kosakata.
Kamus berukuran 15,5 x 23 sentimeter itu diterbitkan oleh Yayasan Teluk Cendrawasih Peduli Pendidikan Bangsa dengan ISBN 978-634-04-8074-0. Buku tersebut diedit oleh Roy Marthen Rahanra, didesain oleh Sendi Gustiawan Saputra, serta dilengkapi dokumentasi Kampung Ansus oleh Pace AI’yana.

Profil Elisa Benediktus Ayorbaba
Pria kelahiran 3 November 1976 itu merupakan anak pertama dari lima bersaudara, putra pasangan almarhum Gr. Hendrik Ayorbaba dan Ensiana Bisai/Karubaba. Dalam kesehariannya, ia akrab disapa Elisa atau Richard.
Perjalanan pendidikannya dimulai di SD YPK Noak Aibondeni dan SD YPK Imanuel Ansus I, kemudian melanjutkan ke SMP YPK Eklesia Ansus dan SMA ONATE Serui. Pendidikan tinggi ditempuh di STISIPOL Perjuangan Serui sebelum akhirnya meraih gelar Sarjana Pendidikan Agama Kristen di STAK Ampari Serui pada 2024.
Selain pendidikan formal, Elisa juga mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan nonformal, di antaranya Program Penyesuaian D1 Teknik Sipil Universitas Cenderawasih, serta sejumlah workshop yang diselenggarakan LSM KIPRA dan ELSAM.
Di bidang organisasi, Elisa dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial, kepemudaan, dan kebudayaan. Ia pernah menjabat Sekretaris Karang Taruna Kampung Wimoni, Sekretaris PAC KNPI Distrik Yapen Barat, anggota ORARI Serui, Sekretaris Dewan Adat Suku 3W (Wondei, Wondau, Wonawa), anggota Komunitas SUANGGI Yapen, hingga Sekretaris Komisi Teknik Seni Dewan Kesenian Yapen.
Sementara dalam perjalanan kariernya, Elisa mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara sejak 2010. Sebelumnya ia pernah menjadi Koordinator LSM KIPRA dan Fasilitator Program Pengembangan Kecamatan. Berbagai pengalaman tersebut semakin memperkuat komitmennya dalam bidang pendidikan, sosial, dan pelestarian budaya.
Apresiasi kepada Pemkab Kepulauan Yapen
Elisa juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Kepulauan Yapen, khususnya Bupati Kepulauan Yapen beserta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, atas dukungan yang diberikan selama proses penyusunan hingga penerbitan kamus tersebut.
Menurut Elisa, ucapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga, sahabat, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga buku itu dapat diterbitkan.
“Pemkab Kepulauan Yapen berencana meluncurkan secara resmi Kamus Harian Bahasa Ansus-Indonesia pada Agustus 2026 sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga dan mengembangkan bahasa daerah,” jelas Elisa.
Di akhir wawancara, Elisa berharap kamus kedua yang disusunnya menjadi awal lahirnya dokumentasi bahasa-bahasa daerah lain di Kabupaten Kepulauan Yapen.
“Saya berharap kamus ini menjadi awal pelestarian bahasa-bahasa daerah lainnya di Kabupaten Kepulauan Yapen. Kita memiliki tujuh suku dengan bahasa yang berbeda-beda. Semoga ke depan setiap bahasa dapat didokumentasikan agar tetap lestari dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.
Menutup wawancara, Elisa menyampaikan sebuah pesan dalam Bahasa Ansus yang menjadi prinsip hidupnya, “TAMBENG WARO TATONG EA EMBENG,” yang berarti “Kita hidup untuk menghidupkan orang lain.”
Melalui penerbitan Kamus Harian Bahasa Ansus-Indonesia, Elisa berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga bahasa daerah semakin tumbuh, sehingga warisan budaya Kabupaten Kepulauan Yapen tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang. ***(Ainun Faathirjal)


















