Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

KABAR PUAN · 4 May 2026 21:38 WIT

Cerita Ibu Guru Ory Bawa Teknologi AI di Tengah Keterbatasan Internet di Nduga


					Ory Mangiri saat mengajar anak-anak di Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Foto: ist Perbesar

Ory Mangiri saat mengajar anak-anak di Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Foto: ist

KABARPAPUA.CO, Nduga– Data BPS 2025 mengungkap ketimpangan pendidikan yang tajam di Papua Pegunungan. Rata-rata lama sekolah perempuan di wilayah ini hanya 3,6 tahun, jauh di bawah angka nasional sebesar 8,79 tahun. Di tengah tantangan ini, muncul sosok Ory Mangiri, seorang guru ASN yang membawa perubahan nyata dari pedalaman Kabupaten Nduga.

Perjalanan Ory Mangiri sebagai guru dimulai ketika ia diangkat sebagai ASN pada 2010 dan langsung ditugaskan di Kabupaten Nduga, wilayah pedalaman Papua Pegunungan.

Kabupaten Nduga menjadi salah satu daerah yang belum tersentuh jaringan seluler, listrik, maupun akses transportasi darat. Untuk mencapai sekolah tempat ia mengajar, satu-satunya pilihan adalah menggunakan pesawat kecil jenis Pilatus yang hanya mampu mengangkut 7-8 orang penumpang. Tidak ada penerbangan reguler menuju lokasi tugasnya. Setiap keberangkatan harus dilakukan dengan menyewa pesawat secara charter, dengan biaya yang dapat mencapai puluhan juta rupiah untuk sekali jalan. Akibatnya, para guru hanya dapat pulang dan pergi beberapa kali dalam setahun. 

Meski demikian, ruang kelas tidak pernah benar-benar sepi. Para siswa tetap bersemangat datang ke sekolah dengan antusias, membawa rasa ingin tahu yang besar meskipun fasilitas sangat terbatas.

Di wilayah tanpa listrik dan sinyal, Ory menghadapi tantangan berat yakni  pernikahan dini anak usia SD. Selama dua tahun, ia konsisten mengedukasi jemaat gereja dan orang tua agar memberikan kesempatan bagi anak perempuan untuk setidaknya menyelesaikan jenjang SMP.

“Anak-anak ini sedang membangun masa depan. Tolong beri mereka waktu untuk belajar,” ujar Ory. Perjuangannya membuahkan hasil, di mana perlahan pola pikir masyarakat mulai bergeser demi pendidikan anak.

Kini bertugas di SD Inpres Kenyam, Ory melakukan lompatan besar dengan memanfaatkan teknologi. Melalui program AI “AI for Educators” yang difasilitasi oleh Biji-Biji Initiative dalam program Microsoft Elevate. Ia pun meraih sertifikasi Microsoft Certified Educator.

Meski terkendala akses internet, Ory berhasil menerapkan Microsoft Copilot (AI) untuk menyusun rencana pembelajaran yang lebih kreatif dan terstruktur, menyederhanakan materi agar lebih mudah dipahami siswa dan membantu rekan guru lainnya dalam penyusunan raport digital Kurikulum 2013.

Duta Teknologi Papua Pegunungan

Keberhasilan Ory dalam mengintegrasikan teknologi secara kontekstual di ruang kelas membuatnya dianugerahi gelar Duta Teknologi Provinsi Papua Pegunungan 2024 oleh Kementerian Pendidikan.

Bagi Ory, kunci transformasi pendidikan di Timur Indonesia adalah pemberdayaan guru. “Perubahan cukup dimulai dari satu sekolah. Jika guru diberdayakan, perubahan akan menyebar secara konsisten,” katanya. *** (Rls)

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

PLN IP UBP Holtekamp Serahkan Bantuan Sarana Pendidikan

4 May 2026 - 14:14 WIT

Hari Kebebasan Pers Sedunia, Komnas Perempuan: Jurnalis Perempuan Hadapi Risiko Berlapis

4 May 2026 - 05:01 WIT

DP3AKB Yapen: Kontrasepsi Adalah Langkah Awal Cegah Stunting

3 May 2026 - 05:04 WIT

Sosok Srikandi PLN Terangi Ujung Timur Indonesia

2 May 2026 - 16:41 WIT

Tiga Momentum Satu Semangat untuk Kemajuan Perempuan Jayawijaya

30 April 2026 - 10:38 WIT

Jurnalis Perempuan di Tengah Ancaman Kekerasan dan Jerat Regulasi

25 April 2026 - 21:34 WIT

Trending di KABAR PUAN