Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

PUBLIK · 7 May 2024 12:28 WIT

Suasana Haru Pertemuan Balita yang Lahir di Pengungsian dengan Kapolda Papua


					Saat Kapolda Papua Irjen Polisi Mathius D. Fakhiri melakukan vido call dengan balita yang lahir saat suasana pengungsian pilkada Yalimo. (Foto dok Polda Papua) Perbesar

Saat Kapolda Papua Irjen Polisi Mathius D. Fakhiri melakukan vido call dengan balita yang lahir saat suasana pengungsian pilkada Yalimo. (Foto dok Polda Papua)

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Suasana haru terlihat ketika Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua, Irjen Polisi Mathius D. Fakhiri dipertemukan kembali melalui sambungan video call dengan seorang balita yang lahir saat pengungsian akibat konflik pemilihan kepala daerah (pilkada) Yalimo, yang dia beri nama Yusi Martha Guinia (3 tahun), Senin, 6 Mei 2024.

Ini pertemuan pertama Fakhiri dengan sang balita yang lahir pada 30 Juni 2021 lalu. Saat itu, kedua orang tua balita meminta Kapolda Papua Irjen Polisi Mathius D. Fakhiri untuk memberikan nama kepada anaknya, yang saat itu lahir di tengah suasana pengungsian akibat konflik pilkada Yalimo di Elelim, Kabupaten Yalimo.

Sekadar diketahui, saat itu konflik sosial atau kerusuhan bermula terjadi akibat pilkada bupati dan wakil bupati Yalimo di Elelim, Kabupaten Yalimo pecah pada 29 Juni 2021. Akibatnya, ribuan warga mengungsi dan tertahan di Elelim karena saat itu massa memblokde jalan keluar dan masuk ke wilayah tersebut.

Hampir selama satu minggu para pengungsi terkurung di Elelim dengan stok bahan makanan terbatas. Baru pada 5 Juli 2021, blokade jalan berhasil dibuka setelah Fakhiri bersama anggota kepolisian turun langsung ke lokasi dan menemui massa. Setelah itu, 1.025 warga memilih mengungsi ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Sehari setelahnya, Fakhiri mendatangi lokasi pengungsian di Gedung Tongkonan Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Saat tiba di lokasi, dia justru diminta Yulius, ayah dari anak itu untuk memberi nama bayinya yang baru berusia seminggu.

Kaget atas permintaan itu, dia pun memberi satu nama yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu: Martha. “Biar mudah saya ingat saya beri nama bayi ini Martha karena ini nama ibu saya,” katanya. Usai momen itu, Fakhiri pun belum pernah bertemu kembali dengan Martha yang saat ini sudah kembali tinggal di Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan.

Melalui panggilan video di ruang kerjanya, Fakhiri terlihat sangat senang bercampur kaget dan terharu saat melihat anak dari pasangan Yulius dan Sri Komariah, yang lahir di pengungsian warga dan dia beri nama Martha, kini tumbuh dalam kondisi sehat dan ceria. “Hallo Martha, apa kabar? Sekarang ko sudah besar. Ko sehat-sehat to?” kata Fakhiri kepada Martha yang saat itu duduk dipangkuan ibunya, Siti Komariah.

Setelah terpisah selama kurang lebih 3 tahun, Fakhiri berjanji kepada Martha jika dalam waktu yang tak terlalu lama, dia akan bertemu dengan Martha di Wamena. “Kalau saya ke Wamena, jika sempat nanti saya akan ke Yalimo. Namun jika tidak, saya akan minta Kapolres Yalimo bawa ibu dan Martha ke Wamena,” ujarnya.

Diketahui, saat konflik sosial pecah di Yalimo terhitung sebanyak 1000 lebih warga memilih mengungsi termasuk keluarga kedua orang tua Martha karena takut menjadi korban amuk massa. Kerusuhan itu terjadi setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mendiskualifikasi pasangan calon bupati dan wakil bupati nomor urut 1, Erdi Dabi-Jhon Wilil.

Saat mengungsi, Siti Komariah dalam keadaan hamil tua. Pasangan Yulius dan Sri Komariah tidak pernah menyangka anak ketiganya akan lahir di saat kondisi di Yalimo lagi mencekam dan di tengah pengungsian. Hal itulah yang membuat ia mengalami kontraksi.

Tepat pada 30 Juni 2021, bayi perempuan yang kemudian diberi nama Martha itu lahir pukul 04.00 WIT dini hari, dengan dibantu dokter yang ada di pengungsian. Momen pemberian nama pun diberikan Irjen Mathius Fakhiri saat ia mengunjungi para pengungsi di Gedung Tongkonan Wamena. ***(Imelda)

Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Papua Target 95 Persen Tuntaskan PIN Polio untuk 188.659 Anak

22 May 2024 - 18:53 WIT

Stok Obat Habis, Rumah Sakit Jiwa Abepura Tutup Pelayanan Sementara

21 May 2024 - 17:45 WIT

P3W GKI Papua Produksi Seribu Pasang Sandal Hotel Berkat Program PENA

14 May 2024 - 20:01 WIT

9.537 Siswa SD-SMP Ikut Ujian Akhir, Pj Wali Kota Jayapura Harap Lulus 100 Persen

13 May 2024 - 18:27 WIT

Tingkatkan Literasi Anak, WVI Hadirkan Rumah Baca Silo di Biak Numfor

10 May 2024 - 18:47 WIT

Ratusan Warga Binaan Lapas Kelas IIA Abepura Ikut Penjaringan TB

7 May 2024 - 19:46 WIT

Trending di PUBLIK