Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

KABAR KEPULAUAN YAPEN · 16 Jun 2025 20:01 WIT

RSUD Serui akan Lakukan Mediasi Bersama Keluarga Pasien


					Plt Direktur RSUD Serui,  Erends Ampisoi saat diwawancara wartawan. (KabarPapua.co/Ainun Faathirjal) Perbesar

Plt Direktur RSUD Serui, Erends Ampisoi saat diwawancara wartawan. (KabarPapua.co/Ainun Faathirjal)

KABARPAPUA.CO, Serui – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serui akan melakukan mediasi bersama keluarga pasien yang melakukan unjuk rasa terkait salah satu keluarganya meninggal dunia diduga akibat usai menjalani tindakan medis operasi usus buntu (peritonis akut), Senin, 16 Juli 2025.

Plt Direktur RSUD Serui Erends Ampisoi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pasien dan menjelaskan bahwa pihak rumah sakit akan melakukan mediasi bersama keluarga dengan menghadirkan dokter, serta dokumen medis yang mendukung.

“Dokter telah menyiapkan dokumen medis yang telah terintegrasi, namun tinggal tunggu manajemen melakukan mediasi dengan keluarga pasien. Yang terjadi hari ini sudah kami selesaikan dan akan dilanjutkan mediasi bersama dokter spesialis yang melakukan tindakan,” katanya.

Erends menjelaskan, sebelum dilakukan mediasi, pihak RSUD akan melengkapi dokumen medis sambil menunggu kepulangan dokter yang sedang melakukan pertemuan ilmuan tahunan di luar Kota Serui.

“Mediasi ini untuk memberikan informasi lengkap ke pihak keluarga, sebab akibat kematian secara ilmiah, hingga prosedur tindakan operasi dilakukan,” jelas Erends.

Menurut Erends, pelayanan telah dilakukan sudah sesuai prosedur, yang diketahui komite medik dengan penanganan langsung tenaga ahli, yakni dokter spesialis di RSUD Serui.

“Dasarnya ini dari bidang komite medik yang membawahi pelayanan-pelayanan dokter spesialis yang ada di rumah sakit dengan dasar hukum yang jelas,” terang Erends.

Erends menyebut, unjuk rasa dari keluarga pasien ini terjadi akibat adanya miskomunikasi dan akibat informasi-informasi yang tidak bertanggungjawab. Sehingga menimbulkan kericuhan di masyarakat.

“Kami berharap agar masyarakat tidak mudah terprovokasi berita yang belum tentu kebenerannya, yang dapat menimbulkan polemik diantara kalangan masyarakat,” katanya. ***(Ainun Faathirjal)

Artikel ini telah dibaca 170 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Dinsos Kepulauan Yapen Beberkan Penanganan ODGJ, dari Pendampingan hingga Pemulangan

7 November 2026 - 18:16 WIT

Matahari Buatan Manase Menjadi Energi untuk Nelayan Kampung Kanaki

6 November 2026 - 22:43 WIT

BPKAD Kepulauan Yapen Tertibkan 35 Kendaraan Dinas yang Masih Dikuasai Mantan Pejabat dan ASN

3 November 2026 - 21:59 WIT

Pemkab Kepulauan Yapen Perkuat Tata Kelola Alat Kontrasepsi dan Mutu Pelayanan KB

29 October 2026 - 10:24 WIT

Wabup Kepulauan Yapen Buka Aksi Konvergensi 5 Percepatan Penurunan Stunting 2026

28 October 2026 - 21:23 WIT

Reses di Kepulauan Yapen, Tonny Tesar Dorong Pembangunan Gereja dan Jalan

27 October 2026 - 20:51 WIT

Trending di KABAR KEPULAUAN YAPEN