KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Sebanyak 1000 benda artefak Papua, 20 ribu lembar foto dan 100-an rekaman suara yang 90 persen berasal dari Lapago dan Meepago dipulangkan ke Papua dan diserahkan ke Museum Universitas Cenderawasih (Uncen) pada Kamis 6 Agustus 2026.
Seluruh benda bersejarah ini merupakan koleksi dan pengarsipan pribadi peneliti asal Amerika Serikat, O.W. (Bud) Hampton, yang dikumpulkan selama masa penelitiannya di wilayah pegunungan Papua pada 1977 – 1999.

Pemulangan (repatriasi ) benda bersejarah ini mulai dilakukan sejak 2023 dan baru bisa dikembalikan ke Papua pada hari ini. Repatriasi koleksi budaya ini menjadi peristiwa pertama kali yang dilakukan secara mandiri dengan skema state-to-community (dari negara/lembaga luar negeri langsung ke komunitas lokal)
Proses Panjang
Kepala sekaligus Kurator Museum Loka Budaya Uncen, Enrico Yory Kondologit, menjelaskan proses mengembalikan kekayaan budaya ini membutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra.
Meski Nota Kesepahaman (MoU) telah ditandatangani sejak tahun 2023, proses fisik repatriasi baru berhasil direalisasikan pada pertengahan tahun 2026, memakan waktu hingga 3 tahun 7 bulan.
“Prosesnya panjang bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena urusan administrasi antarnegara yang sangat rumit. Ini adalah pembelajaran pertama bagi kami dalam melakukan repatriasi secara mandiri,” kata Enrico.
Repatriasi benda bersejarah merujuk pada kebijakan internasional UNESCO terkait proses rekonsiliasi dan pemulihan hak atas benda budaya. Model repatriasi state-to-community yang diterapkan Uncen diproyeksikan menjadi contoh dan rujukan bagi proses repatriasi benda bersejarah lainnya di Indonesia maupun tingkat global.

Enrico bilang, berdasarkan pemetaan dan data gerakan repatriasi, terdapat sekitar 50 ribu hingga 57 ribu koleksi artefak Papua yang tersebar di berbagai museum dan kolektor dunia. Bahkan, terdapat lebih dari 2.500 sampel kerangka manusia asal Papua yang dibawa keluar untuk kepentingan penelitian.
Keberhasilan repatriasi dari Amerika Serikat tidak lepas dari komitmen dan pembiayaan awal yang didukung oleh Pemda Jayawijaya dan Tolikara.
“Pentingnya kesiapan fasilitas dan Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua untuk memboyong kembali benda-benda berharga tersebut,” katanya.
Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Ferdinand Risamasu menyambut baik repatriasi benda bersejarah ini yang akan menambah koleksi di Museum Uncen dan juga sebagai edukasi masyarakat dan generasi muda setempat. *** (Katharina)


















