KABARPAPUA.CO, Wamena– Pemerintah Daerah bersama aparat keamanan, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak terkait terus melakukan berbagai langkah untuk mendorong terciptanya perdamaian antara kedua kelompok yang bertikai.
Bupati Jayawijaya, Atenius Murip menyampaikan, penyelesaian konflik dilakukan dengan tetap menghormati budaya dan adat istiadat masyarakat Papua Pegunungan.
Menurutnya, pendekatan adat dan kekeluargaan menjadi bagian penting dalam menyelesaikan persoalan agar tidak menimbulkan konflik baru di kemudian hari.
“Pemerintah juga melakukan langkah-langkah struktural melalui koordinasi intensif bersama forkopimda, tokoh adat, dan masyarakat. Komunikasi terus dibangun guna menciptakan kesepahaman bersama demi terwujudnya situasi yang aman dan damai,” katanya, Jumat 22 Mei 2026 di Ruang Rapat Bupati Jayawijaya.
Bupati Atenius menjelaskan perdamaian kedua belah pihak disepakati dalam pelaksanaan prosesi adat “patah panah” sebagai simbol perdamaian dan berakhirnya konflik antar kedua kelompok. “Prosesi tersebut dijadwalkan berlangsung Sabtu 22 Mei 2026, pukul 10.00 WIT di lokasi netral, yakni di halaman Polres Jayawijaya, dan akan disaksikan oleh pemerintah serta masyarakat,”katanya.
Dirinya berharap semua pihak dapat menjaga situasi tetap aman dan tertib selama pelaksanaan kegiatan adat, serta hadir dalam prosesi “patah panah” hanya perwakilan terbatas dari kedua belah pihak guna menjaga keamanan dan kelancaran acara.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya optimistis bahwa melalui kesepakatan damai dan pendekatan adat yang dilakukan bersama, stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat dapat kembali pulih sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan normal kembali.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati didampingi oleh Kapolres Lany Jaya AKBP F.D. Tamaela serta perwakilan Kapolres Jayawijaya Edy F. Sabara selaku Kabag Ops menyampaikan bahwa situasi keamanan di wilayah Kabupaten Jayawijaya saat ini sudah mulai kondusif.*** (Agris Wistrijaya)


















