KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Bank Indonesia memperkuat penyediaan rupiah di wilayah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) di Papua. Untuk itu, Bank Indonesia Provinsi Papua terus memastikan ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai, dan kondisi layak edar hingga ke wilayah 3T.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan, sepanjang Maret 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua telah melaksanakan beberapa kali kegiatan Kas Keliling Luar Kota (KKLK), guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam aktivitas perekonomian sehari-hari.
KKLK di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom
Kegiatan KKLK yang dilaksanakan pada 5–7 Maret 2026 ini, merupakan upaya nyata Pejuang Rupiah dalam memenuhi kebutuhan uang rupiah di Kabupaten Keerom. Kegiatan ini ditempuh melalui jalur darat dengan medan yang cukup menantang.
“Pada kesempatan itu, Bank Indonesia juga memperkuat edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai rupiah sebagai alat pembayaran yang sah,” jelas Warsono dalam siaran persnya ke media di Papua, Senin, 13 April 2026.
KKLK di Distrik Supiori Selatan, Kabupaten Supiori
Kegiatan KKLK ini dilaksanakan pada 10–11 Maret 2026, merupakan upaya nyata Pejuang Rupiah dalam memenuhi kebutuhan uang Rupiah di Kabupaten Supiori, khususnya Distrik Supiori Selatan.
Pada kesempatan itu, kata Warsono, Bank Indonesia juga memperkuat edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) rupiah untuk mendorong pemerataan distribusi Uang Layak Edar (ULE) serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.
“Kondisi geografis yang terpencil dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transaksi tunai menyebabkan uang rupiah cenderung beredar dalam waktu lama, sehingga rentan mengalami kerusakan fisik,” jelas Warsono.
Menurut Warsono, hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan intensitas KKLK serta edukasi kepada masyarakat mengenai ciriciri uang layak edar dan cara menjaga kualitas uang.
“Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran transaksi ekonomi serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah di wilayah tersebut,” terangnya.
KKLK 3T Simultan di Tanah Papua
Sedangkan kegiatan KKLK yang dilaksanakan pada 27–30 Maret 2026 ini, kata Warsono, merupakan upaya nyata Pejuang Rupiah dalam memenuhi kebutuhan uang rupiah di Kabupaten Paniai, Deiyai, dan Dogiyai.
“Karakteristik wilayah pegunungan yang sulit dijangkau dan terbatasnya akses layanan perbankan menyebabkan uang rupiah cenderung beredar dalam waktu yang lama dan rentan mengalami kerusakan fisik,” terangnya.
Menurut Warsono, tingginya ketergantungan masyarakat pada transaksi tunai serta rendahnya frekuensi penggantian uang menyebabkan uang beredar cepat rusak, namun tetap digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Kondisi ini menjadi semangat bagi Pejuang Rupiah untuk terus memperkuat distribusi uang tunai melalui KKLK 3T serta memberikan edukasi berkelanjutan, agar kualitas uang yang beredar tetap terjaga dan mendukung efisiensi sistem pembayaran di wilayah pegunungan Papua Tengah,” terangnya.
Ke depan, kata Warsono, Bank Indonesia akan terus memperluas jangkauan layanan kas melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan guna memastikan rupiah hadir di seluruh pelosok, termasuk wilayah 3T.
“Bank Indonesia juga mengajak masyarakat untuk selalu merawat rupiah dengan prinsip 5J, yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distapler, dan jangan dibasahi,” paparnya.
Selain itu, kata Warsono, masyarakat diharapkan berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan agar stabilitas harga tetap terjaga.
“Sinergi antara penyediaan uang tunai yang memadai, akselerasi pembayaran digital, dan peran aktif masyarakat dalam bertransaksi bijak diharapkan dapat memperkuat kelancaran sistem pembayaran,” terangnya. ***(Siaran Pers)


















