KABARPAPUA.CO, Sorong– Kota Sorong di Provinsi Papua Barat selama ini dikenal sebagai pintu masuk ke Pulau Papua. Kota Sorong juga menjadi pintu masuk wisatawan yang akan ke Raja Ampat.
Namun, Kota Sorong juga dikenal dengan Kopi Senang yang melegenda. Wisatawan yang ada di Kota Sorong kerap mencari oleh-oleh Kopi Senang untuk dibawa pulang. Kopi Senang adalah kopi jenis robusta. Wisatawan yang berlibur di Raja Ampat atau Sorong, selama tinggal akan disajikan dengan Kopi Senang.
Peneliti BRIN, Hari Suroto menyebutkan ada ungkapan di masyarakat setempat bahwa dengan minum kopi senang, hidup akan senang terus.
Hari bilang, Kopi Senang diproduksi di Kota Sorong oleh pengusaha Tionghoa asal Padang. Awalnya, owner Kopi Senang yang bernama Herlina Tios merintis usaha pengolahan kopinya pada tahun 1985.
Herlina Tios berkeliling seluruh Indonesia mendatangkan kopi robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak. Ia mengambil biji mentah kualitas ekspor lalu mengolahnya di Sorong. Perpaduan biji kopi dari berbagai daerah membuat aroma kopinya sungguh harum. Kopi Senang dikenal dengan bubuk kopi biji robusta yang aromanya sangat khas.
“Namun citarasa kopi Senang ini masih kalah dibanding aroma kopi arabika di Papua seperti kopi Moanemani, Wamena, Pegunungan Bintang dan Amungme,” kata Hari, Senin 18 Mei 2026.
Herlina Tios punya cerita tersendiri tentang asal mula nama kopi Senang. Saat memutuskan merantau ke Sorong pada 1985, Herlina Tios ingin berbisnis kopi dan menceritakan cita-citanya itu kepada orangtuanya. Akhirnya, orangtua Herlina merestuinya
Orangtua Herlina saat itu hanya berpesan, semoga bisa bikin senang minum kopi. Lalu, saat mau memberi nama merek, Herlina terpikir untuk membuat ‘Senang’ karena mudah diingat. Sekarang memang kopi ini bikin yang menyesapnya senang dan orang yang meminumnya senang.
Walaupun Papua dikenal dengan kopi jenis arabika, namun di beberapa wilayah juga terselip kopi jenis robusta. Kopi robusta di Papua ditanam di ketinggian 20 – 1000 mdpl. Kopi robusta yang terkenal di Papua yaitu kopi Ambaidiru Yapen, kopi Agimuga Mimika, kopi Anggi Pegunungan Arfak, kopi Lembah Grime Jayapura. Tanaman kopi robusta ini ditanam dengan pola kebun semi hutan (agroforestry).
“Uniknya, kopi-kopi robusta cenderung dibiarkan tumbuh alami. Tak banyak perlakuan untuk meningkatkan hasil panen. Petani Papua membiarkan begitu saja karena menurut mereka cuma dibiarkan pun sudah subur,” kata Hari yang lama menghabiskan waktunya di Papua.
Dengan pola kebun semi hutan, kopi hasil panen sangat terbatas, tidak cukup untuk memenuhi permintaan pasar. *** (Katharina)


















