KABARPAPUA.CO, Serui– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Yapen mewaspadai kondisi udara akibat kabut asap yang terpantau dalam beberapa hari terakhir.
Observer dan Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Sudjarwo Tjondronegoro, Hafidz Alamsyah Putra menyampaikan kondisi atmosfer saat ini turut dipengaruhi fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Berdasarkan pemantauan BMKG, pada Dasarian II Agustus 2026 nilai Southern Oscillation Index (ENSO) di wilayah Nino 3.4 mencapai +2,99 yang menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat. Kondisi tersebut secara umum dapat berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan dan meningkatnya kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Hafidz menjelaskan, kondisi atmosfer dan pola angin menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi penyebaran asap dari wilayah yang mengalami kebakaran.
“Kalau ada kabut asap, partikel PM2.5 yang berukuran sangat kecil dapat terbawa oleh pergerakan massa udara. Misalnya terjadi kebakaran di Nabire dan angin bergerak ke arah utara, maka asap atau partikel hasil pembakaran berpotensi terbawa menuju wilayah Kepulauan Yapen,” jelasnya, Selasa 25 Agustus 2026.
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap kebakaran, dan dapat terbawa mengikuti pergerakan angin.
Hafidz menyebut kondisi serupa juga terlihat di wilayah Biak, di mana jarak pandang di sejumlah lokasi dapat terganggu akibat kondisi udara yang berkabut atau berasap. “Untuk kondisi di Biak, sejak 22 Agustus 2026 sampai sekarang masih terlihat adanya gangguan jarak pandang di beberapa wilayah,” katanya.
Terkait kapan kondisi kabut asap di Kepulauan Yapen akan berakhir, Hafidz mengatakan belum dapat dipastikan. Hal tersebut bergantung pada sumber asap, perkembangan kebakaran, kondisi angin, serta perubahan cuaca.
“Untuk prediksi berakhirnya belum dapat dipastikan karena masih ada informasi mengenai kebakaran di beberapa wilayah. Namun, kita dapat memantau titik panas atau hotspot yang terdeteksi satelit untuk melihat wilayah yang terindikasi mengalami aktivitas kebakaran,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hotspot hasil deteksi satelit merupakan indikasi adanya anomali panas dan tidak selalu berarti kebakaran. Karena itu, informasi tersebut tetap perlu dikonfirmasi dengan kondisi di lapangan.
BMKG sendiri dalam pemantauan Agustus 2026 mencatat kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga masih terpantau terutama di sejumlah wilayah Kalimantan dan Papua.
Selain kondisi kabut asap, Hafidz juga mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di laut untuk memperhatikan kondisi gelombang di perairan Kepulauan Yapen. Menurutnya, pola dan arah angin dapat mempengaruhi kondisi gelombang di wilayah perairan utara maupun selatan Kepulauan Yapen.
“Untuk masyarakat yang beraktivitas di laut, kami mengimbau agar selalu memantau informasi cuaca dan ketinggian gelombang yang dikeluarkan BMKG sebelum melakukan aktivitas,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, terutama dalam kondisi cuaca yang relatif kering.
Sementara itu, untuk mengantisipasi dampak paparan asap dan partikel udara, masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk, terutama bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara.
BMKG sebelumnya dari pada siaran Pers BMKG tanggal 10 Juni 2026 memprediksi puncak musim kemarau 2026 terjadi pada periode Juli-September, dengan Agustus menjadi salah satu periode puncak kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk sebagian besar Pulau Papua.
Selain itu, BMKG pada periode 21-27 Agustus 2026 menyebut kondisi kering masih mendominasi sebagian besar Indonesia seiring menguatnya El Nino, meskipun hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Hafidz menambahkan, terdapat pula sistem gangguan atmosfer berupa bibit siklon di wilayah utara Papua. Namun, berdasarkan perkembangan terakhir, pengaruhnya terhadap kondisi cuaca di Kepulauan Yapen semakin tidak signifikan.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi BMKG terkait perkembangan cuaca, kualitas udara, angin, dan gelombang laut sebelum melakukan aktivitas di luar rumah maupun di perairan. *** (Ainun Faathirjal)




















