KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Anak muda Papua kembali membuktikan menjadi motor penggerak perubahan. Lewat ajang Impact Papua, menjadikan wadah kolaborasi ekonomi kreatif di Jayapura. Para kreator muda Papua bangga berkarya dengan mengangkat identitas lokal ke level yang lebih tinggi.
Puncak anak muda kreatif ini ditandai dengan peluncuran film dokumenter berdurasi 33 menit berjudul “Tong Masih di Sini” yang diproduksi Imaji Papua. Film yang merekam denyut nadi rantai ekonomi dan kearifan lokal masyarakat Papua, bercerita mulai dari anak muda yang menjadi petani kopi, petani sagu, pedagang pinang, hingga petani sayur-mayur.
Simbol Gerakan Kolaborasi

Film garapan sutradara Yulika Anastasia ini menjadi simbol pemantik semangat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada pemerintah, melainkan ada di tangan masyarakat biasa dan anak-anak muda yang mau bergerak bersama.
”Tujuannya cuma satu, kalau kita berkolaborasi, kita akan jauh meyakinkan semua pihak, bisa bergandengan tangan, dan tumbuh bersama. Hari ini kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” kata Yulika di sela-sela peluncuran film Tong Masih di Sini di pelataran Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Rabu sore 12 Agustus 2026.
Simpul Kreatifitas

Gerakan Impact Papua berhasil menyatukan berbagai simpul kreatif anak muda, mulai dari sineas, fotografer, illustrator, musisi, hingga pelaku UMKM lokal. “Mereka melebur dalam satu visi untuk memperkuat fondasi ekonomi kreatif berbasis komunitas,” kata Ika, panggilan akrab Yulika yang juga menjabat sebagai Head of Imaji Papua.
Misalnya saja pada panggung Fashion Show, lima desainer berbakat Papua, mulai dari Agusta Bunai, Pretty Syul Rogi, Margaretha Uktoselya yang ketiganya berasal dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan apik menampilkan karyanya dengan mengangkat kearifan lokal Papua. Termasuk designer asal Kota Jayapura Lusi Umbora dan Alfianty Mandosir yang menampilkan karya kontemporer berbasis kearifan lokal.
Salah satunya, Agusta Bunai, mengolah rakitan rajutan handmade Mama-Mama Papua menjadi busana high-fashion. “Selama ini ruang bagi desainer dan model lokal masih minim. Panggung Impact Papua menjadi kesempatan besar untuk memamerkan karya, meningkatkan nilai ekonomi produk lokal, sekaligus menambah jam terbang kami,” ujar Agusta.
Sementara itu, pada pameran fotografi, sebanyak 240 jepretan yang terkurasi dari 34 fotografer anak muda Papua ditampilkan. Pameran foto memotret keindahan alam, denyut ekonomi, tradisi, hingga dinamika pembangunan dari sudut pandang para kreator lokal.
Koordinator Pameran, Yosin Kogoya menyampaikan ratusan bingkai foto tersebut dihadirkan untuk mengajak publik merasakan kisah nyata kehidupan masyarakat Papua.
Apresiasi Pemerintah

Staf Ahli Bidang SDM dan Kemasyarakatan Pemerintah Kota Jayapura, Sem Meraudje bilang, potensi anak muda Papua saat ini bisa memanfaatkan media kontemporer sudah tidak bisa dipandang sebelah mata.
”Tong masih ada di sini, tra habis! Daya cinta itu masih ada, kita masih bisa bangkit dan terus berkarya. Keberadaan kita membawa nilai-nilai positif bagi tanah ini,” kata Sem Meraudje dengan penuh semangat.
Sem menjelaskan, meski Papua kini telah dimekarkan menjadi beberapa provinsi, identitas kekayaan alam, budaya, seni rupa, hingga musik Papua tetap mengakar kuat.
“Anak-anak muda Papua semakin cerdas dan adaptif memanfaatkan platform digital, film, media sosial, hingga seni audio-visual untuk menceritakan realitas dan keindahan tanah Papua secara utuh kepada dunia,” katanya.
Pemerintah Kota Jayapura pun berharap ekosistem yang dibangun oleh para sineas dan kreator muda ini terus mendapatkan dukungan berkelanjutan.
“Tangan-tangan kreatif inilah lahir karya-karya berkelas yang tidak hanya merawat identitas daerah, tetapi juga siap bersaing di kancah nasional maupun internasional,” katanya. *** (Katharina)


















