Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

RAGAM · 6 Aug 2026 23:52 WIT

Repatriasi Perdana: Ribuan Artefak Papua Akhirnya Kembali dari Amerika


					Salah satu benda artefak asal Papua yang berhasil direpatriasi dari Amerika Serikat. Foto: Katharina/KabarPapua.co Perbesar

Salah satu benda artefak asal Papua yang berhasil direpatriasi dari Amerika Serikat. Foto: Katharina/KabarPapua.co

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Sebanyak 1000 benda artefak Papua, 20 ribu lembar foto dan 100-an rekaman suara yang 90 persen berasal dari Lapago dan Meepago dipulangkan ke Papua dan diserahkan ke Museum Universitas Cenderawasih (Uncen) pada Kamis 6 Agustus 2026.

Seluruh benda bersejarah ini merupakan koleksi dan pengarsipan pribadi peneliti asal Amerika Serikat, O.W. (Bud) Hampton, yang dikumpulkan selama masa penelitiannya di wilayah pegunungan Papua pada 1977 – 1999.

Salah satu benda artefak asal Papua yang berhasil direpatriasi dari Amerika Serikat. Foto: Katharina/KabarPapua.co

Pemulangan (repatriasi ) benda bersejarah ini mulai dilakukan sejak 2023 dan baru bisa dikembalikan ke Papua pada hari ini. Repatriasi koleksi budaya ini menjadi peristiwa pertama kali yang dilakukan secara mandiri dengan skema state-to-community (dari negara/lembaga luar negeri langsung ke komunitas lokal)

Proses Panjang

Kepala sekaligus Kurator Museum Loka Budaya Uncen, Enrico Yory Kondologit, menjelaskan proses mengembalikan kekayaan budaya ini membutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra.

Meski Nota Kesepahaman (MoU) telah ditandatangani sejak tahun 2023, proses fisik repatriasi baru berhasil direalisasikan pada pertengahan tahun 2026, memakan waktu hingga 3 tahun 7 bulan.

“Prosesnya panjang bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena urusan administrasi antarnegara yang sangat rumit. Ini adalah pembelajaran pertama bagi kami dalam melakukan repatriasi secara mandiri,” kata Enrico.

Repatriasi benda bersejarah merujuk pada kebijakan internasional UNESCO terkait proses rekonsiliasi dan pemulihan hak atas benda budaya. Model repatriasi state-to-community yang diterapkan Uncen diproyeksikan menjadi contoh dan rujukan bagi proses repatriasi benda bersejarah lainnya di Indonesia maupun tingkat global.

Salah satu benda artefak asal Papua yang berhasil direpatriasi dari Amerika Serikat. Foto: Katharina/KabarPapua.co

Enrico bilang, berdasarkan pemetaan dan data gerakan repatriasi, terdapat sekitar 50 ribu hingga 57 ribu koleksi artefak Papua yang tersebar di berbagai museum dan kolektor dunia. Bahkan, terdapat lebih dari 2.500 sampel kerangka manusia asal Papua yang dibawa keluar untuk kepentingan penelitian.

Keberhasilan repatriasi dari Amerika Serikat tidak lepas dari komitmen dan pembiayaan awal yang didukung oleh Pemda Jayawijaya dan Tolikara.

“Pentingnya kesiapan fasilitas dan Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua untuk memboyong kembali benda-benda berharga tersebut,” katanya.

Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Ferdinand Risamasu menyambut baik repatriasi benda bersejarah ini yang akan menambah koleksi di Museum Uncen dan juga sebagai edukasi masyarakat dan generasi muda setempat. *** (Katharina)

Artikel ini telah dibaca 55 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Menghalau Takut di Pesisir Mimika

18 September 2026 - 22:29 WIT

Kementerian Kebudayaan Umumkan Pemenang Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan 2026

6 September 2026 - 18:53 WIT

Peringati Maulid Nabi 1448 H, Pemkab Waropen Tekankan Persatuan dan Toleransi

5 September 2026 - 21:41 WIT

Momen Maulid Nabi, PHBI Jayawijaya Galang Donasi untuk Korban Gempa NTT

27 August 2026 - 14:08 WIT

Resmi Dilantik, Pengurus Baru WKRI Siap Jadi Garam dan Terang di Tengah Masyarakat

25 August 2026 - 22:09 WIT

BNI Sediakan Akses Prioritas Menikmati Andrea Bocelli “Romanza” di Indonesia

22 August 2026 - 19:38 WIT

Trending di RAGAM