Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

BISNIS · 13 Jul 2026 08:09 WIT

Dua Langkah Strategi Pengendalian Inflasi di Papua


					Gerakan pangan murah bagi masyarakat di Papua. (Foto dok: Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua) Perbesar

Gerakan pangan murah bagi masyarakat di Papua. (Foto dok: Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua)

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Mengendalikan inflasi di Papua kerap menjadi tantangan tersendiri. Sebab ketergantungan tinggi pada pasokan barang dan bahan pokok (bapok) dari luar Papua, geografis yang menantang, dan juga biaya logistik udara mahal, sering memicu melonjaknya harga bapok dan barang.

Namun Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui perluasan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan penguatan Kerja sama Antar Daerah (KAD). Dua langkah strategi ini perlahan membuktikan, inflasi bukanlah hewan buas yang tak bisa dijinakkan.

“Strategi ini ditempuh untuk menjaga stabilitas harga pangan, sekaligus memastikan pasokan kebutuhan bapok tetap tersedia di seluruh wilayah tanah Papua,” kata Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesai Provinsi Papua Warsono, saat ditemui wartawan dalam acara Capacity Building kepada Wartawan Ekonomi di Jayapura, Papua, Jumat malam, 3 Juli 2026.

Warsono juga mangatakan, Papua masih menghadapi tantangan besar, sebab sebagian besar kebutuhan pangannya dipasok dari luar daerah, terutama dari Sulawesi Selatan. Kondisi itu, membuat sinergi antardaerah menjadi kunci dalam menjaga kelancaran distribusi serta menekan gejolak harga di pasar.

“Sehingga perlu sinergi melalui KAD untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga. Hingga pertengahan 2026, kami telah melaksanakan sekitar 250 kegiatan GPM yang tersebar di seluruh wilayah kerja kami,” terang Warsono.

Pelatihan dan pemberian bantuan sarana prasarana kepada kelompok tani di Papua. (Foto dok: Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua)

Menurut Warsono, kegiatan ini menjadi salah satu instrumen utama dalam membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau.

“Selain GPM, kami juga aktif mendorong penguatan KAD dengan berbagai daerah penghasil komoditas pangan, guna memperlancar distribusi dan mengurangi tekanan inflasi di wilayah Papua,” jelasnya.

Dalam mendukung pengendalian inflasi, kata Warsono, Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua bersama pemerintah daerah dan berbagai mitra strategis terus memperkuat sinergi melalui sejumlah program nyata.

“Upaya tersebut, selain penyelenggaraan GPM, tapi juga ada pelatihan-pelatihan kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan kelompok tani, serta pemberian bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani,” jelasnya.

“Program ini diarahkan untuk menjaga ketersediaan pasokan, mendukung kelancaran distribusi, serta memperkuat kapasitas produksi pangan lokal, sehingga dapat membantu menjaga stabilitas harga di Papua,” kata Warsono menambahkan.

Pelatihan dan pemberian bantuan sarana prasarana kepada kelompok tani di Papua. (Foto dok: Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua)

Selain itu, kata Warsono, dalam menjaga kelancaran peredaran uang Rupiah, Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua juga menjalankan program kas titipan yang bekerja sama dengan perbankan di tujuh titik, serta layanan KasKeliling Luar Kota (KKLK) yang menjangkau daerah-daerah terpencil, seperti Oksibil dan Asmat.

“Distribusi uang Rupiah layak edar tetap menjadi perhatian, terutama di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), yang hanya dapat diakses melalui transportasi udara. Sehingga, layanan kas keliling terus dioptimalkan,” paparnya.

Menjangkau wilayah 3T, kata Warsono, merupakan komitmen Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua, guna memastikan uang Rupiah hadir dan dapat diaskes seluruh masyarakat. Namun tantangan utama dihadapi, kondisi geografis luas yang sulit dijangkau.

“Juga masih rendahnya literasi masyarakat terkait program Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, khususnya dalam hal penukaran uang tidak layak edar. Sehingga kami akan terus melakukan kas keliling,” katanya. ***(Syamsuddin Levi)

Artikel ini telah dibaca 58 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Listrik Tanpa Kedip Hadir di Festival Danau Sentani 2026 Foto

12 September 2026 - 19:25 WIT

Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Siapkan Hampir 1.000 Paket Bapok untuk Masyarakat

11 September 2026 - 19:14 WIT

KM Ciremai Docking, Pelni Siapkan KM Dobonsolo Layani Rute Serui

10 September 2026 - 23:27 WIT

Momentum Hari Pelanggan Nasional, PLN Energize Listrik 555 kVA untuk The Seven Hotel Merauke

10 September 2026 - 19:43 WIT

Perumdam Kepulauan Yapen: Penemuan Mayat di Bukit Toraja Tak Berkaitan dengan Pemadaman Air

10 September 2026 - 14:21 WIT

Bantu Korban Kebakaran, Srikandi PLN Indonesia Power UBP Holtekamp Hadir untuk Masyarakat

10 September 2026 - 11:57 WIT

Trending di BISNIS