KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – “Kalau pakai (gunakan) uang-uang rusak, bawa (belanja) ke kios, biasanya ditolak. Apalagi kalau uangnya sudah lusuh, putus dan sudah robek (sobek). Sebab biasanya kami plakban (selotip). Kalau sudah seperti itu, biasanya penjual di kios tidak terima uang yang sudah rusak”.
Kalimat itu disampaikan salah satu warga Kampung Senggo, Distrik Citak Mitak, Kabupaten Mappi kepada para Petugas Pejuang Rupiah Bank Indonesia Papua, Ricky Yusuf dan Panji Rahmanda seperti yang terlihat dalam akun Instagram @cbp_rupiah_papua, yang diunggah pada 23 Juni 2026.
Permasalahan uang Rupiah lusuh, sobek, putus, dan tak layak edar, seperti dialami warga Kampung Senggo diakui Panji. “Kondisi uang yang di sini (Kampung Senggo) sangat lusuh, karena kondisinya yang beradar disini seperti ini (memperlihatkan kondisi uang lusuh) semua,” katanya.
Menjangkau daerah atau wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T), merupakan komitmen Bank Indonesia untuk memastikan uang Rupiah hadir dan dapat diaskes seluruh masyarakat, termasuk masyarakat di wilayah 3T, seperti di Kampung Senggo, Distrik Citak Mitak, Kabupaten Mappi.
Masyarakat di wilayah 3T di Kampung Senggo atau dikenal sebagai “Kampung di Atas Papan” ini, memang mengalami kesulitan mengakses uang Rupiah layak edar akibat kendala geografis ekstrem, minimnya infrastruktur perbankan, dan ketergantungan pada transaksi tunai, yang menyebabkan uang cepat rusak, lusuh, atau terlipat.

“Kita tahu, Kampung Senggo, Distrik Citak Mitak sini adalah suatu distrik di mana aksesnya itu cukup sulit dengan akses yang terbatas,” kata Ricky Yusuf, Petugas Pejuang Rupiah Bank Indonesia Papua yang menjalankan misi Clean Money Policy bersama Panji Rahmanda melalui kegiatan Kas Keliling Luar Kota (KKLK) di Kampung Senggo, pada 7-9 Juni 2026.
Clean Money Policy merupakan kebijakan Bank Indonesia, guna memastikan ketersediaan dan peredaran uang Rupiah di masyarakat kondisi bersih, berkualitas, dan layak edar. Kebijakan ini diwujudkan dengan cara menarik, memusnakan, dan mengganti uang lusuh, rusak, atau cacat dengan uang baru.
“Semoga kehadiran Bank Indonesia di Kampung Senggo ini memberikan arti luas untuk masyarakat, terutama dalam hal uang layak edar. Kegiatan keliling 3T di Kampung Senggo ini, sebuah program Bank Indonesia dalam rangka Clean Money Policy menukarkan uang lusuh, uang rusak kita tukarkan ke uang baru layak edar,” terang Ricky.
Perjalanan uang Rupiah ke Kampung Senggo menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran transaksi ekonomi serta memperkuat pemahaman masayarakat terhadap pentingnya Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
Tersedianya uang Rupiah layak edar, masyarakat dapat bertransaksi lebih nyaman, aman, dan efesien, untuk mendukung aktivitas ekonomi sehari-hari. “Sangat membantu kami dalam hal uang baru, sebelumnya uang-uang yang beredar sangat lusuh, sudah tak layak edar,” kata Kepala Bank Pembangunan Daerah (BPD) Papua Kantor Cabang (KC) Senggo, Stenly P. Sianturi.

Perkuat Penyediaan Uang Rupiah di Wilayah 3T
Bank Indonesia memperkuat penyediaan rupiah di wilayah 3T di Papua. Untuk itu, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Papua terus memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah cukup, pecahan yang sesuai, dan kondisi layak edar hingga ke wilayah 3T.
Menurut Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Papua Warsono, distribusi uang Rupiah yang merata menjadi bagian penting menjaga stabilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat di seluruh wilayah kerja Bank Indonesia Papua, yang meliputi Provinsi Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
“Saat ini, kami memiliki tujuh kas titipan yang bekerja sama dengan perbankan untuk memperluas layanan distribusi uang layak edar kepada masyarakat,” kata Warsono saat ditemui sejumlah wartawan pada kegiatan Capacity Building kepada Wartawan Ekonomi di Jayapura, Papua, Jumat malam, 3 Juli 2026.
Warsono juga mengatakan, keberadaan kas titipan tersebut, mempermudah akses layanan kas Bank Indonesia di berbagai daerah, tanpa harus bergantung pada kantor perwakilan di Jayapura.
“Selain tujuh kas titipan, kami juga rutin mengoperasikan layanan kas keliling luar kota yang menjangkau daerah terpencil, seperti Oksibil dan Asmat. Sehingga masyarakat tetap memperoleh uang Rupiah kondisi layak edar,” ujarnya.

Distribusi uang Rupiah di tanah Papua, kata Warsono, menghadapi tantangan kondisi geografis yang luas dan keterbatasan akses transportasi. Apalagi sebagian besar wilayah 3T di tanah Papua hanya dapat dijangkau melalui jalur udara atau menggunakan transportasi pesawat terbang.
Menurut Warsono, pihaknya terus berkomitmen memastikan ketersediaan uang Rupiah tetap terjaga di seluruh wilayah tanah Papua. “Selain menjaga kelancaran distribusi uang Rupiah, kami juga terus tingkatkan literasi masyarakat melalui program Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah,” terangnya.
Edukasi ini, kata Warsono, bertujuan mengajak masyarakat mengenali keaslian rupiah, merawat uang dengan baik, serta menukarkan uang yang sudah lusuh atau tidak layak edar saat layanan kas keliling hadir di daerah mereka.
“Di sisi lain, kami juga bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi melalui pengendalian inflasi. Upaya itu dilakukan dengan memperkuat kerja sama antardaerah (KAD), guna menjamin pasokan pangan dan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara rutin,” jelas Warsono.
Selain itu, kata Warsono, masyarakat diharapkan berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan agar stabilitas harga tetap terjaga. “Sinergi antara penyediaan uang tunai yang memadai, akselerasi pembayaran digital, dan peran aktif masyarakat dalam bertransaksi bijak diharapkan dapat memperkuat kelancaran sistem pembayaran,” ujarnya.

Perjalanan Kas Keliling Luar Kota di Papua
Menurut Warsono, sepanjang Maret 2026, KPw Bank Indonesia Provinsi Papua telah melaksanakan beberapa kali kegiatan Kas Keliling Luar Kota (KKLK), guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam aktivitas perekonomian sehari-hari.
Kegiatan KKLK yang dilaksanakan pada 5-7 Maret 2026, merupakan upaya nyata Pejuang Rupiah dalam memenuhi kebutuhan uang Rupiah di Kabupaten Keerom. Kegiatan ini ditempuh melalui jalur darat dengan medan yang cukup menantang.
“Pada kesempatan itu, kami juga memperkuat edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai rupiah sebagai alat pembayaran yang sah,” kata Warsono dalam siaran persnya ke media di Papua, Senin, 13 April 2026 lalu.
Untuk kegiatan KKLK pada 10-11 Maret 2026, dilaksanakan di Kabupaten Supiori, khususnya Distrik Supiori Selatan.Pada KKLK ini, juga dilakukan CBP Rupiah, guna mendorong pemerataan distribusi Uang Layak Edar (ULE).
“Kondisi geografis yang terpencil dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transaksi tunai menyebabkan uang rupiah cenderung beredar dalam waktu lama, sehingga rentan mengalami kerusakan fisik,” jelas Warsono.
Menurut Warsono, hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan intensitas KKLK serta edukasi kepada masyarakat mengenai ciriciri uang layak edar dan cara menjaga kualitas uang. “Upaya itu diharapkan dapat mendukung kelancaran transaksi ekonomi serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah di wilayah itu,” terangnya.

Sedangkan kegiatan KKLK pada 27-30 Maret 2026, dilaksanakan di Kabupaten Paniai, Deiyai, dan Dogiyai. Karakteristik wilayah pegunungan ini sulit dijangkau dan terbatasnya akses layanan perbankan menyebabkan uang rupiah cenderung beredar dalam waktu yang lama dan rentan mengalami kerusakan fisik.
Menurut Warsono, tingginya ketergantungan masyarakat pada transaksi tunai serta rendahnya frekuensi penggantian uang menyebabkan uang beredar cepat rusak, namun tetap digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Kondisi ini menjadi semangat bagi Pejuang Rupiah untuk terus memperkuat distribusi uang tunai melalui KKLK 3T, serta memberikan edukasi berkelanjutan, agar kualitas uang yang beredar tetap terjaga dan mendukung efisiensi sistem pembayaran di wilayah pegunungan Papua Tengah,” terangnya.
Ke depan, kata Warsono, Bank Indonesia akan terus memperluas jangkauan layanan kas melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan guna memastikan rupiah hadir di seluruh pelosok, termasuk wilayah 3T.
“Dalam setiap KKLK, kami juga mengajak masyarakat untuk selalu merawat rupiah dan menerapkan prinsip 5J, yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan distapler, dan jangan dibasahi,” paparnya.
Untuk itu, mari terus jaga dan rawat uang Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa. Karena setiap langkah menghadirkan uang Rupiah hingga ke pelosok negeri dapat memberi makna bagi pemerataan layanan penguatan ekonomi lokal, dan kesejahteraan masyarakat Papua. ***(Syamsuddin Levi)


















