KABARPAPUA.CO, Nabire – Di bawah terik matahari yang menyengat di Nabire, sosok wanita tangguh tampak sabar menunggu penumpang.
Sosok ini adalah Tarti (45), satu dari ribuan perempuan yang memilih menggantungkan hidupnya di atas jok sepeda motor sebagai tukang ojek, demi membantu ekonomi keluarga.
Bagi Tarti, jalanan bukan sekadar tempat melintas, melainkan medan perjuangan untuk menyambung hidup dan merajut masa depan kedua buah hatinya.
Turun ke jalanan dengan alasan ekonomi, keputusan Tirta untuk terjun ke profesi yang didominasi kaum adam. Tiga tahun sudah Tirta menekuni profesi ojek.
“Awalnya saya ibu rumah tangga, ya saya mikir aja harus cari tambahan keluarga, ya dari pada nganggur juga motor dirumah, akhirnya nekad jadi ojek,” ujar Tarti.
Memulai profesi baru di lingkungan yang keras tentu bukan perkara mudah bagi seorang perempuan. Tarti mengaku kerap menerima pandangan sebelah mata, baik dari tetangga sekitar maupun dari calon penumpangnya sendiri.
“Pernah hampir dibegal, dimintai uang, ada juga yang tidak bayar, tapi alhamdulillah nggak kenapa-kenapa. Saya yakin berkat ada saja yang datang,” ujarnya.
Setiap hari, aktivitasnya sudah dimulai sejak pukul 10.00 WIT pagi hingga pukul 17.00 WIT sore. Sebelum menyalakan mesin motor, Tarti harus menyelesaikan tugasnya lebih dulu; memasak sarapan, menyiapkan kebutuhan anak sekolah, hingga merawat sang suami.
Dalam sehari, penghasilan Tarti tak menentu. Ia juga mengungkapkan hanya menerima penumpang perempuan. Namun dengan profesi sebagai ojek, Tarti berhasil membiayai sekolah kedua anaknya, yang kini menginjak sekolah menengah atas.
Tarti telah membuktikan, keterbatasan ekonomi dan sekat gender, bukan penghalang ketika seorang ibu berjuang demi masa depan buah hati dan keluarganya.
“Saya tak pernah malu jadi tukang ojek. Pekerjaan ini halal dan berkah. Yang tertanam di pikiran saya setiap hari cuma satu, anakku harus berpendidikan lebih tinggi dari ibunya, mereka harus sukses,” kata Tarti penuh haru. ***(Agies Pranoto)


















