Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

KABAR KEPULAUAN YAPEN · 2 Mar 2026 21:52 WIT

Petani Kakao Yapen Menjerit Tak Ada Tempat Penampung


					Kebun Kakao di Distrik Angkaisera.  Foto: 
Ainun Faathirjal/Kabarpapua.co Perbesar

Kebun Kakao di Distrik Angkaisera.  Foto: Ainun Faathirjal/Kabarpapua.co

KABARPAPUA.CO, Serui– Potensi kakao kering di Kabupaten Kepulauan Yapen yang cukup melimpah, namun tak memiliki penampung hasil panen. Hal ini membuat petani kesulitan dalam memasarkan kakao sehingga berdampak pada menurunnya semangat berkebun.

Yeret Karubaba, petani kakao di Kampung Kainui II, Distrik Angkaisera mengaku telah menanam sekitar 500 pohon kakao sejak tahun 2018. Sayangnya, hingga kini belum tersedia penampung atau pembeli tetap di wilayah Kepulauan Yapen.

“Kalau mau jual, harus dibawa ke Jayapura karena di sana (Jayapura) ada penampungnya. Sedangkan di sini (Yapen) belum ada,” katanya, ditemui Senin 2 Maret 2026.

Yeret bilang, pohon kakao umumnya mulai berbuah dalam usia tiga hingga empat tahun. Komoditas ini berpotensi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik dan didukung sistem pemasaran yang jelas.

“Kami petani sebenarnya semangat untuk berkebun. Tapi kendalanya tidak ada penampung atau pembeli, sehingga kebun kakao kurang diperhatikan,” katanya.

Ia berharap dinas terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kakao, mengingat harga kakao kering di pasaran cukup tinggi. “Saat ini, sebagian petani memilih menanam dan menjual sayuran untuk mendapatkan pemasukan yang lebih cepat”.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) Kabupaten Kepulauan Yapen, Gasper Samai, mengatakan minat masyarakat menanam kakao sebenarnya cukup tinggi. Ia menyebut, pada periode 1985 hingga 2000, banyak masyarakat Yapen yang menggantungkan hidup dari hasil kakao. Bahkan hasil kakao bisa untuk membangun rumah dan membiayai sekolah anak.

Namun, memasuki tahun 2000, serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) menyebabkan penurunan kualitas dan produksi, sehingga pendapatan petani merosot tajam. Namun, sejak 2013 hama tersebut sudah tidak lagi menjadi ancaman utama. Akan tetapi, persoalan pemasaran yang belum teratasi membuat banyak petani kehilangan motivasi untuk kembali mengembangkan kakao.

“Kalau ada penampung di Yapen, pasti petani akan kembali semangat karena ada kepastian pasar,” katanya.

Pihaknya juga mendorong penggunaan bibit unggul jenis ‘Criollo’ yang dinilai lebih tahan terhadap hama dan sesuai dengan kondisi iklim di Yapen dibandingkan bibit Hibrida dari daerah lain seperti Jember dan Sulawesi.

Menurutnya, pada era 1980-an melalui program pemerintah Proyek Rehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor (PRPTE), produksi kakao di Yapen pernah mencapai masa kejayaan. Bibit saat itu didatangkan dari Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara.

“Kalau pemerintah ingin membangkitkan kembali kakao di Yapen, harus menggunakan bibit super yang cocok dengan iklim setempat” pungkasnya. *** (Ainun Faathirjal)

Artikel ini telah dibaca 98 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Polemik TPB Temui Titik Terang, Pemda Yapen Pastikan Nakes Dibayar Sesuai Perbup

27 April 2026 - 15:16 WIT

TPB Nakes RSUD Serui hanya Rp500 Ribu, Ada Apa?

25 April 2026 - 21:45 WIT

LKPJ 2025 dan Raperda RTRW 2026-2046 Disahkan, Pemkab Yapen akan Perbaiki Kinerja

25 April 2026 - 17:55 WIT

Realisasi PAD Minim, Pansus DPRK Yapen Soroti Kinerja OPD dalam Sidang LKPJ

24 April 2026 - 16:22 WIT

Program Kampung Nelayan Merah Putih Disambut Positif di Kampung Ketuapi

22 April 2026 - 17:51 WIT

Musrenbang Otsus Yapen: Satukan Gagasan dari Kampung demi Kesejahteraan Rakyat

22 April 2026 - 16:33 WIT

Trending di KABAR KEPULAUAN YAPEN