KABARPAPUA.CO, Timika– Sebelas korban jiwa hilang sia-sia akibat konflik antarsuku di Kwamki Narama, Kabupaten Mimika yang terjadi sejak Oktober 2025. Kondisi memprihatinkan ini memicu reaksi keras dari tokoh Provinsi Papua Tengah, Willem Wandik, SE, M.Si.
Mantan Bupati Puncak dua periode ini mendesak Pemerintah Provinsi di seluruh Tanah Papua, Majelis Rakyat Papua (MRP), dan DPRK untuk segera duduk bersama merumuskan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) Penanganan Konflik Antarsuku. Langkah ini dinilai mendesak guna memproteksi Orang Asli Papua (OAP) dari ancaman kepunahan akibat perang saudara.
“Kita harus buat Perdasus yang memberikan peluang agar hukum positif dikedepankan. Manusia Papua harus diselamatkan. Jangan hanya Perdasus untuk alam dan tanah saja, sementara manusianya habis di atas tanah sendiri,” tegas Wandik saat ditemui di Timika, Jumat 9 Januari 2026.
Ketua Harian DPD Golkar Provinsi Papua Tengah ini juga menekankan pentingnya kepekaan pemimpin daerah (Pemprov Papua Tengah, Pemkab Mimika, dan Pemkab Puncak) dalam mendeteksi potensi konflik sejak dini. Menurutnya, pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, melainkan harus melibatkan kolaborasi lintas sektor bersama TNI-Polri.
“Jika dari awal kita tangani bersama, pasti tidak akan berlanjut. Sebagai pemimpin, kita harus peka terhadap kondisi penduduk,” ujar sosok yang dikenal aktif dalam mendamaikan berbagai konflik di wilayah Pegunungan Tengah ini.
Penyelesaian Adat Secara Tuntas
Wandik mengingatkan penyelesaian konflik di Papua tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Ia menyarankan pemerintah memfasilitasi seluruh tahapan perdamaian secara adat hingga tuntas. Tanpa prosesi adat yang mendalam, bibit konflik diprediksi akan terus muncul kembali di masa depan.
“Ada tahapan adat yang harus dilalui agar perdamaian itu permanen. Pemerintah harus hadir memfasilitasi itu,” tambahnya.
Khusus untuk Pemerintah Kabupaten Mimika, Wandik menyarankan adanya pemetaan wilayah rawan seperti Kwangki Narama. Ia mengusulkan penanganan khusus di titik-titik tersebut, mulai dari peningkatan status kepolisian hingga percepatan pembangunan infrastruktur agar wilayah tersebut tidak lagi identik dengan zona konflik.
“Timika ini kota majemuk, daerah transit. Harus ada rasa aman bagi warganya agar kedamaian tercipta dan orang bebas tinggal di sini tanpa rasa takut,” jelas Wandik.
Seruan Mengakhiri Budaya Perang
Sebagai Tokoh Suku Damal, Wandik menyampaikan duka mendalam atas hilangnya 11 nyawa yang merupakan generasi masa depan Papua. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk meninggalkan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah.
“Suku-suku lain di luar sana maju dan bertambah banyak, sementara kita malah saling membunuh. Dalam nama Tuhan Yesus, saya minta cara penyelesaian masalah dengan perang suku ini harus dihilangkan,” pungkasnya dengan nada getir. *** (rilis)
























