KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Namanya Voni Blesia, perempuan kelahiran Sorong 1990 adalah penyandang gelar doktor di bidang Biomedical Science dari University of Westminster London. Voni adalah penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Terapan ilmu yang dikuasai Voni mulai dari S1 hingga S3 adalah bidang kesehatan, namun setelah menyabet gelar doktor, dia malahan banting stir menjadi pendidik di Papua Hope Language Institute (PHLI) untuk generasi emas Papua.
Seperti dilansir dari laman lpdp, walaupun lahir di Sorong, Voni kecil hijrah bersama keluarganya ke Timika, sehingga Voni menempuh pendidikan SMP hingga SMA di Timika.
Perjuangan dan Prestasi
Voni yang dikenal sebagai siswi cerdas ini merupakan angkatan pertama program “1000 Doktor” yang dicanangkan oleh Gubernur Barnabas Suebu kala itu. Program ini bertujuan untuk mencetak banyak anak-anak Papua yang mengeyam pendidikan tinggi hingga doktor.
Mereka yang lolos proses seleksi dan rekrutmen kemudian dikirim mengikuti training persiapan di bawah asuhan langsung Yohanes Surya yang dikenal sebagai tokoh pendidikan peduli anak-anak Papua.
Di Karawaci, Jawa Barat itulah Voni bersama rekan-rekan Papua lainnya mendapatkan bekal pendidikan hingga akhirnya berangkat ke Coban University mengambil Ilmu Kesehatan pada tahun 2009.
Hampir empat tahun di negeri jauh bukanlah waktu yang menyenangkan, sebab persiapan yang cuma beberapa bulan itu tak cukup membuatnya mampu berbahasa Inggris dengan lancar.
“Kalau dilihat kemampuan berbahasa Inggris yang saya miliki, menurut saya seharusnya saya tidak bisa berangkat. Tapi ya dengan kerja keras kemudian akhirnya bisa mendapatkan hasil (bahasa) yang sangat baik” kenang Voni.
Bagaimanapun kepintaran Voni akhirnya tetap bersinar di tempat yang jauh sekalipun. Terus berlatih dan beradaptasi hingga mahir berbahasa Inggris. Namanya tercatat dalam database Coban University dengan predikat cumlaude di bidang Ilmu Kesehatan saat diwisuda pada Mei 2013.
Voni sebenarnya ingin langsung melanjutkan ke jenjang S2. Namun terkendala peraturan pemerintah daerah yang belum memberi kesempatan lagi.
Setelah berhasil meyakinkan pihak-pihak pemerintah daerah terkait bahwa S2 yang ingin ia tempuh akan punya dampak kontribusi bagi perkembangan Papua, lampu hijau kembali ke Inggris menyala. Voni resmi berangkat ke London lagi dengan mengambil Biopharmaceuticals di King’s College London pada 2013.
Tantangan baru terutama dari bahasa lagi. Ia dituntut cepat belajar aksen British sementara sebelumnya telah mati-matian belajar Inggris aksen Amerika. Belum lagi lingkungannya yang bagaimanapun harus perlu ada adaptasi segera dalam waktu cepat mengingat kuliah S2 di Inggris hanya setahun saja.
“Kuliah memang susah, tapi kalau kita punya komunitas yang tepat itu pasti sangat baik untuk membantu kita survive dan berkembang” ujar Voni.
Beasiswa S3 dari LPDP
Lulus S2 tak membuat Voni langsung berpuas diri. Dia lantas mencari beasiswa lainnya yang bisa membantunya untuk melanjutkan program studi S3. Akhirnya, beasiswa LPDP dipilihnya. Tak terlalu sulit bagi Voni untuk mengetahui adanya beasiswa LPDP yang mampu mewujudkan keinginannya merampungkan jenjang studi S3. Ia bercerita kala itu mendengar LPDP dari beberapa rekan dan orang-orang lainnya.
“Saya dengar dari percakapan-percakapan orang seperti itu, kemudian cari-cari di internet dan kemudian apply sendiri” kenang alumni PK-50 yang seingatnya ia sendiri perwakilan dari Papua.
Alumni SMA Negeri 1 Timika ini kembali ke London pada 2016. Disertasinya tentang kelebihan glukosa dan zat besi dapat memicu diabetes tipe-2 mengantarkannya meraih gelar PhD di tahun 2020.
Penelitian disertasi Voni juga terbit dalam jurnal PubMed berjudul “Excessive Iron Induces Oxidative Stress Promoting Cellular Perturbations and Insulin Secretory Dysfunction in MIN6 Beta Cells” pada Mei 2021.
Perempuan Bukan Hanya di Dapur
Mengakses pendidikan tinggi sebagai perempuan Papua juga punya makna mendalam. Ia ingin menjadi bagian dari inspirasi anak-anak Papua agar melihat sosok perempuan bisa tetap sekolah tinggi, bahkan hingga mengenyam pendidikan ke luar negeri.
“Kata orang, kita (perempuan) pasti kembalinya ke dapur, ya itu kan roleyang lain. Namun, hal itu tidak membatasi kita untuk menggapai impian perempuan,” katanya.
Voni beruntung memiliki orang tua yang paham pentingnya pendidikan. Walaupun ayahnya tak sekolah, bahkan untuk membaca pun tidak terlalu lancar dan sang ibu hanya berpendidikan hingga SD. Namun kedua orang tuanya berpikiran terbuka tentang pendidikan. Salah satunya dikarenakan ayahnay bekerja di tengah orang-orang yang berpendidikan tinggi pada salah satu perusahaan pertambangan di Timika.
“Jadi pemikiran terbuka dipengaruhi dari lingkungan pekerjaan dan keluarga, sehingga anak-anaknya diharapkan mampu mendapatkan pendidikan yang tinggi,” jelasnya.
Hasilnya, kakak tertuanya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Timika, kedua di sektor kesehatan di Kabupaten Biak, ketiga bekerja di New Zealand dan juga merampungkan studi PhD.
Memilih Pulang Kampung
Pindah haluan dari kesehatan ke pendidikan, Papua Hope Language Institute (PHLI) menjadi tempat berkarier Voni sejak merampungkan S3 pada 2020.
Di kelas matrikulasi inilah Voni berkiprah sehari-hari menjadi pengajar sekaligus kepala student life dan membantu pengurusan pemerintah.
Kelas matrikulasi adalah kelas khusus yang berisi anak-anak asli Papua lulusan SMA untuk disiapkan dalam melanjutkan pendidikan sarjana ke luar negeri.
“Kami membuka recruitment bagi setiap anak Papua mulai yang bersekolah di kota maupun yang di kampung. Kami mempost link di social media platform & siapa saja bisa mengaksesnya” kata Voni.
Para murid yang mendapatkan pendanaan dari pemerintah daerah akan digembleng dengan berbagai materi, terutama kemampuan bahasa Inggris dengan berjenjang. Mereka juga diajarkan tentang pembentukan rohani, kepemimpinan, pendidikan karakter, dan penekanan identitas sebagai orang Papua.
Dengan perannya sebagai pengajar sains dan kesehatan inilah segala materi dan wacana pengetahuannya hingga PhD ini menjadi punya arti yang mendalam saat disampaikan kepada anak-anak didiknya.
Sebagai orang Papua yang berhasil meraih pendidikan tinggi lalu mengabdi pulang, Voni memandang Papua harus berkembang dan terus memproduksi orang-orang kritis untuk pembangunan sumber daya manusia guna meraih kemajuan.
Pendidikan adalah pintu masuk bagi masyarakat Papua untuk berkembang pesat. Karena pendidikan mampu memunculkan pemikiran kritis dan itu yang dibutuhkan Papua saat ini, termasuk dengan adanya beasiswa LPDP. *** (Katharina)


















