KABARPAPUA.CO, Serui – Guna menangani abrasi di Kali Manaenam di Kampung Mantembu, Distrik Anotaurei, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Yapen menurunkan satu unit alat berat jenis Ekskavator atau mesin pengeruk. Hal ini untuk menormalisasi Kali Manaenam, Sabtu, 3 Januari 2026.
Penanganan abrasi ini merupakan respon cepat Wakil Bupati (Wabup) Kepulauan Yapen Roi Palunga atas keluhan masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk mengalihkan arah aliran air agar tak lagi membujur dan mengikis bantaran kali yang berbatasan langsung dengan lokasi pemakaman warga.
“Sebagai pemerintah, kami siap menjawab keluhan masyarakat. Namun, tentu tetap harus mempertimbangkan kondisi keuangan daerah dan program yang telah direncanakan,” ujar Roi saat berdialog bersama warga di lokasi Kali Manaenam.
Selain penanganan darurat, Roi juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama memikirkan solusi jangka panjang, guna mengatasi abrasi kali yang terus terjadi.
Roi menyarankan agar pembangunan bronjong atau talud dapat diusulkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) serta dikawal dalam proses pelaksanaannya.
Roi juga meminta dukungan masyarakat agar pemerintah daerah dapat terus memperjuangkan pemulihan Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang saat ini terdampak kebijakan efisiensi anggaran.
“Kita berharap pada tahun 2026 dana Otsus dapat pulih dari pemotongan, sehingga pemerintah dapat menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk pembangunan bronjong di Kali Manaenam,” katanya.
Mewakili masyarakat Kampung Yapan dan Kampung Mantembu, Martinus Wandamani menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemkab Kepulauan Yapen atas respons cepat terhadap keluhan warga.
Sekadar diketahui, abrasi Kali Manaenam telah mengakibatkan kerusakan pada area pekuburan Kampung Mantembu setiap kali terjadi banjir. Dari pengakuan masyarakat, sejak 2024 hingga akhir 2025, tercatat 14 kuburan rusak akibat pengikisan tanah bantaran kali.
Dari jumlah itu, tujuh kuburan telah dilakukan penggalian dan pemindahan jazad tulang belulang. Sementara tujuh kuburan lainnya tak dapat diselamatkan. Melihat kondisi ini, Jumat, 2 Januari 2026, warga bergotong royong memindahkan enam kuburan yang ada di tepi kali ke lokasi aman dan layak. ***(Ainun Faathirjal)
























