Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

SOSOK · 12 Jan 2026 15:48 WIT

Kisah Dwi, Merawat Cerita pada Seujung Jarum


					Dwi, seniman tato saat mengerjakan karyanya pada seorang pelanggan. Foto: Pribadi Dwi Perbesar

Dwi, seniman tato saat mengerjakan karyanya pada seorang pelanggan. Foto: Pribadi Dwi

KABARPAPUA.CO, Nabire– Dahulu dipandang sebelah mata dan identik dengan citra negatif, kini seni rajah tubuh atau tato telah bertransformasi menjadi industri kreatif yang menjanjikan. Di balik suara dengung mesin coil dan rotary, terdapat para pekerja seni yang mendedikasikan hidupnya pada akurasi, higienitas, dan nilai estetika tinggi.

Bagi Dwi, seorang seniman tato di balik bendera Nabite, tato bukan sekadar hobi atau pekerjaan sampingan. Ini adalah profesi sakral di mana kulit manusia menjadi kanvasnya, sekaligus menjadi ladang produktif yang terus menambah pundi-pundi pendapatannya.

Jalur Otodidak

Memulai perjalanannya sejak tahun 2022, Dwi membuktikan bahwa bakat dan ketekunan bisa berjalan beriringan meski tanpa pendidikan formal di bidang seni visual.

“Saya jadi seniman tato sejak 2022. Saya belajar secara otodidak, tapi bersyukur banyak karya saya yang tidak mengecewakan klien,” jelas Dwi saat ditemui di studionya.

Harga Mati Sebuah Profesionalisme

Menjadi seniman tato profesional ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mahir menggambar. Ada tanggung jawab moral dan medis yang dipikul di ujung jarum. Dwi menekankan bahwa keamanan klien adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

“Selalu saya perhatikan keamanan medis, jadi tidak asal tato,” ujar Dwi sembari mengenakan sarung tangan latex hitamnya, bersiap memulai sesi. Sebelum jarum menyentuh kulit, proses sterilisasi peralatan menjadi ritual wajib. Penggunaan jarum sekali pakai dan tinta standar profesional adalah standar yang ia pegang teguh.

Melawan Stigma

Meski industri ini terus tumbuh pesat, tantangan terbesar bagi para seniman tato masih berkutat pada stigma sosial yang melekat sejak lama. Namun, gelombang baru seniman muda seperti Dwi memilih untuk menjawab keraguan masyarakat dengan standar profesionalisme internasional.

Secara ekonomi, industri ini pun kian menggiurkan. Satu karya tato kini bisa dihargai mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, sangat bergantung pada tingkat kerumitan desain serta jam terbang sang seniman.

Kini, tato juga dianggap sebagai bentuk terapi diri atau cara mengabadikan memori. Para seniman tato seringkali berperan sebagai pendengar yang baik, menyerap cerita hidup klien sebelum menuangkannya ke dalam desain visual yang unik dan personal.

Kini, industri tato modern tak lagi bicara soal pemberontakan, melainkan tentang apresiasi terhadap tubuh, kebebasan berekspresi, manajemen kerja profesional.

Bagi Dwi dan rekan seprofesinya, setiap tetes tinta adalah warisan visual yang akan dibawa seumur hidup oleh pemiliknya. Sebuah tanggung jawab besar yang dikerjakan dengan penuh rasa hormat. *** (Agies Pranoto)

Artikel ini telah dibaca 52 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Thomas Tabuni Raih Penghargaan The Best Legislatif Indonesia Golden Award 2026

1 February 2026 - 00:46 WIT

Kisah Bobby Colombo, ASN Papua Tengah Menembus Batas

12 January 2026 - 23:37 WIT

Khasiat ‘Emas Hijau’ dari Ampas Sagu Yapen

16 December 2025 - 16:36 WIT

Henry Koirewoa, Anggota Tentara Cenderawasih Cadangan yang Pernah Jadi Radio Telegrafis

11 November 2025 - 09:14 WIT

Fredriks Y. Hisage Berilkan Pengobatan Gratis Pasien Tak Mampu

6 November 2025 - 00:28 WIT

Tanpa Alas Kaki, Mia Hisage Juara BRC Electric Run PLN 2025

2 November 2025 - 16:40 WIT

Trending di SOSOK