Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

RAGAM · 26 Oct 2026 22:27 WIT

Ketika Kehangatan Sagu Mama Oce Felle Menyatu di Kompetisi Kopi Papua


					Sagu buatan Mama Oce Felle yang menyemarakan Kompetisi manual Brew Tarung Ti3a di BM Ceffee. Foto: Katharina/Kabarpapua.co Perbesar

Sagu buatan Mama Oce Felle yang menyemarakan Kompetisi manual Brew Tarung Ti3a di BM Ceffee. Foto: Katharina/Kabarpapua.co

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Kesibukan kompetisi menyeruak di antara aroma seduhan kopi Papua. Di atas meja barista, 27 pemuda Papua tengah beradu ketangkasan menyeduh kopi dalam ajang kejuaraan daerah Tarung Ti3a untuk berebut tiket berharga menuju pentas nasional Jakarta Coffee Week pada Desember mendatang.

Tak jauh  dari meja barisan racikan Papua, ada pemandangan yang tak kalah menyedot perhatian pengunjung dan peserta peracik kopi. Seorang perempuan Papua tersenyum ramah di balik meja yang dipenuhi hidangan olahan sagu. Dialah Mama Oce Felle.

Jarinya cekatan mengaduk sagu yang ditaruh di dalam loyang. Mama Oce menyajikan olahan sagu tradisional yang dibalut dengan gula aren khusus untuk para pengunjung dan peserta Tarung Ti3a. Aroma bakaran khas sagu tak kalah menyedot perharian pengunjung BM Coffee. Mondar mandir pengunjung mendatang meja Sagu olahan Mama Oce. Setiap kali Mama Oce angkat sagu dari loyang bakaran, tak sampai hitungan detik, sagu itu pun langsung laris disantap pengunjung.

Sagu buatan Mama Oce Felle yang menyemarakan Kompetisi manual Brew Tarung Ti3a di BM Ceffee. Foto: Katharina/Kabarpapua.co

Di tengah riuk-pikuk kejuaraan kopi anak muda, kehadiran Mama Oce bersama Komunitas Colo Sagu memberi sentuhan kehangatan serta rasa bangga akan identitas tanah kelahirannya. Bagi Mama Oce, momen ini bukan tentang berjualan kuliner, melainkan bentuk pengabdian untuk merawat warisan nenek moyang. Ia mengaku tersentuh melihat pangan lokal Papua mendapat panggung kehormatan di tengah acara kepemudaan yang bergengsi.

“Saya  bangga karena sagu bisa hadir dalam kegiatan anak muda.  Bagi kami, sagu bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari identitas dan budaya masyarakat Papua yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda,” kata Mama Oce bangga.

Mama Oce menyadari betul bahwa pola konsumsi masyarakat modern kini terus berubah. Tanpa ruang-ruang perjumpaan seperti ini, sagu berisiko lambat laun terpinggirkan dari piring anak-anak muda Papua.

Sagu buatan Mama Oce Felle yang menyemarakan Kompetisi manual Brew Tarung Ti3a di BM Ceffee. Foto: Katharina/Kabarpapua.co

“Harapan saya, sagu semakin dikenal luas dan mendapat tempat di berbagai kegiatan. Kita punya banyak olahan sagu yang harus terus diperkenalkan agar generasi muda juga bangga dengan pangan lokal kita sendiri,” tambah Mama Oce optimis.

Diana, siswi SMA di Sentani yang hadir di Kompetisi Kopi Tarung Ti3a tak menyangka dapat menemukan kudapan tradisional  di cafe modern. Dia mengaku kehadiran sagu buatan Mama Oce menjadi nilai plus di kompetisi Kopi Papua.  “Saya sudah makan sagu buatan mama (Mama Oce). Enak dan hangat. Sa (saya) suka,” katanya.

Dia berharap kedai-kedai kopi modern dapat menggabungkan kuliner tradisional Papua yang bisa disajikan bersama dengan kudapan lainnya.

“Kuliner tradisional tak kalah nikmatinya dan dapat disajikan dengan cita rasa berbeda dan khas. Sangat menarik jika kuliner tradisional bisa hadir bersama di kedai modern,” jelasnya.

Dirinya mengapresiasi Komunitas Colo Sagu yang gencar mengkampanyekan pangan lokal khususnya ke anak muda di Papua. “Pangan lokal akan menjadi potensi ekonomi yang subur jika terus dijaga dan dirawat, termasuk oleh teman-teman milenial,” katanya.

Jika arena kompetisi kopi menjadi ruang mengasah keterampilan dan kreativitas barista muda Papua mengejar mimpi hingga Jakarta, maka meja sagu Mama Oce Felle menjadi penjangkar yang mengingatkan mereka pada akar budaya dan kebanggaan akan pangan lokal. *** (Katharina)

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Peneliti INSS: Saatnya Anak Muda di Papua Jadi Motor Penggerak Pangan Lokal

26 October 2026 - 12:34 WIT

Kombes Fredrickus Ajak Pemuda Papua Inovatif Garap Potensi Lokal

26 October 2026 - 00:26 WIT

Jejak Ferdinan Mayer, Bawa Semangat Anak Muda Papua Lewat Biji Kopi

25 October 2026 - 23:46 WIT

Makan Puji+ Jadi Panggung Apresiasi Karya Pemuda Papua

24 October 2026 - 19:34 WIT

Kala Kompetisi Manual Brew Tarung Ti3a Regional Papua Menyatukan Keberagaman

24 October 2026 - 18:58 WIT

Warna, Jiwa, dan Ketegaran Perempuan Papua di Ujung Goresan Jeane Marien

23 October 2026 - 22:38 WIT

Trending di KABAR PUAN