KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Selama ini, frasa “Makan Puji” kerap disematkan pada sikap pamer berlebihan dalam percakapan keseharian di Papua. Namun, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, ungkapan “Makan Puji” bakal bersalin rupa menjadi gerakan apresiasi positif lewat panggung kreativitas
Inisiatif unik hasil kolaborasi Komunitas Colo Sagu dan Polresta Jayapura Kota siap dihelat di Hamadi Creative Space, Kota Jayapura. Ajang ini dirancang khusus untuk memberi ruang bagi anak muda Papua agar berani mengekspresikan karya, bakat, serta pencapaian terbaik mereka di berbagai bidang.
Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus Macklarimboen menuturkan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap istilah tersebut.
“Selama ini, istilah Makan Puji sering kali dipersepsikan secara negatif atau menunjukkan kesombongan. Lewat kegiatan Makan Puji+ ini, kita ingin membalikkan pemaknaannya ke arah yang lebih positif. Ini tentang bagaimana memberikan ruang dan apresiasi yang layak bagi pemuda Papua yang berprestasi dan berkarya,” ujar Fredrickus kepada wartawan, Sabtu 24 Oktober 2026.
Melalui Makan Puji+, stigma miring diharapkan terkikis dan berganti menjadi bentuk pengakuan serta rasa bangga atas kontribusi nyata generasi muda Papua bagi lingkungannya.
Menyatu dengan Spirit Pangan Lokal dan Identitas Budaya
Menariknya, Makan Puji+ tak sekadar panggung bakat biasa. Kegiatan ini berpadu erat dengan gerakan kultural Komunitas Colo Sagu yang konsisten mengobarkan semangat kembali ke pangan lokal Papua.
Bagi Komunitas Colo Sagu, mengajak masyarakat mengonsumsi sagu bukan semata-mata urusan isi piring, melainkan upaya menjaga warisan leluhur dan merawat identitas kebangsawanan budaya Papua.
Sagu bukan hanya sumber pangan, tetapi adalah bagian dari identitas, budaya, dan warisan Papua yang harus terus dipelihara. Lewat momentum Sumpah Pemuda ini diharapkan dapat terus menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap pangan lokal.
Kolaborasi antara Kepolisian dan komunitas kreatif ini menjadi angin segar yang menyatukan semangat nasionalisme,kebanggaan identitas lokal, serta pemberdayaan pemuda dalam satu wadah yang adaptif dan inklusif. *** (Katharina/Rls)








