KABARPAPUA.CO, Serui– Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melalui Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Biak secara resmi menghentikan operasi pencarian korban kecelakaan laut di perairan Kampung Andei dan Kampung Waindu, Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen pada Jumat 2 Januari 2025. Operasi ini dihentikan setelah seluruh rangkaian operasi dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Biak, Andarias Alik dalam keterangan resmi melalui video Basarnas menjelaskan penghentian operasi dilakukan setelah pencarian maksimal dilakukan sesuai waktu dan area yang telah ditetapkan.
Kecelakaan speedbot yang membawa 21 orang penumpang terjadi pada malam 24 Desember 2025 di perairan Kampung Andei dan Kampung Waindu. Speedboat bertolak dari Kota Serui menuju Kampung Waindu. Dalam perjalanannya, speedboat mengalami kecelakaan akibat cuaca dan perairan yang tidak bersahabat.
Setelah menerima laporan kejadian, Basarnas segera mengerahkan tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI-Polri, Pemerintah Daerah, Aparat kampung, serta masyarakat setempat untuk melakukan operasi pencarian.
“Basarnas bersama potensi SAR, TNI-Polri, Pemerintah Daerah, aparat kampung, dan masyarakat setempat turut berduka cita yang mendalam atas musibah yang terjadi di Waindu. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujar Andarias.
Operasi pencarian dilaksanakan secara maksimal sejak 25 hingga 2 Januari 2026, dengan metode penyisiran melalui jalur laut dan udara. Namun hingga hari ketujuh pencarian, Tim SAR hanya berhasil menemukan dua korban dalam kondisi meninggal dunia, sementara korban lainnya belum ditemukan.
“Setelah adanya permintaan keluarga untuk perpanjangan operasi selama dua hari, namun hasil pencarian tetap nihil, maka bersama keluarga korban di Waindu disepakati untuk menutup operasi SAR ini,” jelasnya.
Meski demikian, Basarnas menegaskan bahwa operasi pencarian dapat kembali dibuka apabila di kemudian hari ditemukan petunjuk baru atau adanya laporan dari masyarakat terkait keberadaan korban.
Dengan dihentikannya operasi pencarian ini, diharapkan pemerintah daerah dan pihak terkait terus memberikan pendampingan serta dukungan kepada keluarga korban pascakejadian kecelakaan laut tersebut.
Jenazah Kembali Ditemukan

Korban kecelakaan laut speed boat di Perairan Tanjung Andei, Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua kembali ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Jenazah satu orang korban ditemukan di perairan barat Pulau Kurudu.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Biak, Kundori mengatakan jenazah ditemukan sekitar pukul 07.25 WIT oleh LKK Tenggara, berjarak sekitar 3,8 Nautical Mile (NM) dari titik duga awal lokasi terbaliknya perahu fiber di Tanjung Andei.
“Jasad korban ditemukan mengapung di perairan barat Pulau Kurudu. Penemuan tersebut merupakan hasil dari perluasan area pencarian yang dilakukan Tim SAR gabungan pada hari ketujuh operasi,” jelasnya, Kamis 1 Januari 2026.
Jenazah korban dibawa dengan menggunakan Kapal Negara (KN) SAR Wibisana 243 dan dilanjutkan dengan proses identifikasi di RSUD Serui. Sampai pencarian hari ini tercatat 3 korban selamat, 2 korban meninggal dunia, dan 16 korban lainnya masih hilang.
Kendala di Lapangan

Kepala Distrik Raimbawi, Dodi Lefta menyampaikan selama proses pencarian banyak menghadapi kendala, mulai dari cuaca buruk berupa hujan lebat, angin kencang, serta keterbatasan bahan bakar (BBM).
“Selama proses pencarian, warga setempat telah melaksanakan prosesi adat sebagai bagian dari kearifan lokal,” ujarnya.
Dirinya mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi cuaca dan muatan kapal sebelum melaut. Khususnya di Distrik Raimbawi, apabila Selat Andei tidak dapat dilalui akibat angin kencang dan risiko keselamatan yang tinggi, masyarakat diminta untuk tidak memaksakan penyeberangan.
“Sebagai alternatif, warga dari lima kampung terdekat di Distrik Raimbawi dapat menggunakan jalur darat melalui Kampung Andei atau Kampung Barawai, kecuali Kampung Aisau dan Sawendui,” jelasnya.
Dodi menambahkan, untuk Kampung Waindu sebenarnya telah tersedia akses darat. Namun, kondisi jalan yang masih memprihatinkan, terutama pada ruas Kali Mampuri hingga Kampung Woda, menjadi kendala utama. Titik rawan terdapat di tanjakan Adumama dan tanjakan Siriwi.
“Kondisi inilah yang diduga menjadi salah satu alasan masyarakat lebih memilih jalur laut dibandingkan jalur darat,” katanya.
Dokter Forensik RSUD Serui, dr. Anton Fonataba, mengatakan bahwa identitas korban terakhir mengarah kepada Arius Mabui (52), pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen. Identifikasi sementara didasarkan pada tinggi badan, kondisi gigi, serta keterangan pendukung dari pihak keluarga. *** (Ainun Faathirjal)
























