KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Di ketinggian 1.600 hingga 3.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), kabut tebal dan udara dingin yang menusuk tulang menjadi saksi awal mula cerita salah satu kopi terbaik di Bumi Cenderawasih.
Lanskap pegunungan Papua yang megah menjadi tempat tumbuh suburnya potensi “emas hijau” ini. Suhu sejuk pegunungan menghasilkan karakter kopi Papua yang istimewa, beraroma khas, memiliki body yang tebal, serta meninggalkan rasa alami yang lembut di tenggorokan.
Harta karun dari pegunungan ini dipelihara dengan penuh kasih, berpadu dengan kebaikan alam Papua yang menyokong keberlangsungannya. Tak heran jika kopi Papua tak pernah gagal memikat hati para penikmatnya.
Dalam setiap tegukan, mengalir cita rasa autentik. Dari puncaknya yang indah, Papua tidak hanya menyuguhkan kopi, tetapi juga mengisahkan harmoni antara manusia, kerasnya perjuangan, dan kemurahan alam.
Faisal Muhammadi Rapid, pemilik Kopi Kasuari, adalah salah satu tokoh yang menyaksikan bagaimana harmoni alam tersebut meracik cita rasa kopi Papua hingga mampu merambah pasar global.

Green bean kopi disangrai untuk memunculkan aroma serta rasa, lalu digiling menjadi bubuk kopi sesuai kebutuhan. (Foto dok: PLN UIW Papua dan Papua Barat)
Faisal mengenang masa-masa awal mendirikan usahanya, ketika keterbatasan alat, minimnya modal, dan sempitnya akses pasar menjadi tembok tebal yang mengadang langkahnya.
“Proses olah biji kopi saat itu masih manual dan serba terbatas. Dalam sehari, kami hanya mampu memproduksi sekitar 10 kilogram kopi. Masa sulit itu pasti ada, tetapi kami memilih untuk terus belajar dan beradaptasi dibandingkan menyerah,” kenang Faisal.
Titik balik dari ketekunan itu akhirnya tiba. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat hadir memberikan pendampingan.
Dalam siaran pers Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN UIW Papua dan Papua Barat Irfan Djabar kepada media pada Rabu, 14 Oktober 2026, kelompok usaha Kopi Kasuari Berseri menerima dukungan alat produksi modern, mulai dari mesin sangrai (roasting), penggiling (grinder), hingga mesin pengemas (packaging).
Suntikan teknologi ini membawa perubahan drastis. Kapasitas produksi Kopi Kasuari melonjak pesat, dari yang semula 10 kilogram kini melesat hingga menembus 100 kilogram per hari. Kualitas olahannya pun naik kelas.

Kebun pohon kopi. (Foto dok: PLN UIW Papua dan Papua Barat)
Kopi nikmat dari pegunungan Papua ini tak lagi hanya dijual dalam bentuk biji mentah, melainkan dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tinggi: biji sangrai (roasted beans), kopi bubuk, kopi saset, hingga kantong seduh premium yang praktis.
Kebangkitan Kopi Kasuari turut membuka lapangan kerja baru di sektor produksi, operasional, hingga pengelolaan gerai. Lebih dari itu, rantai ekonomi petani kopi lokal di daerah hulu makin bergairah karena hasil panen mereka terserap dengan kepastian harga yang lebih baik.
“Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kami, tetapi juga mengalir dan menghidupi orang lain,” kata Faisal. Kini, Kopi Kasuari telah menjalin kemitraan dengan sekitar 40 jaringan Horeka (Hotel, Restoran, dan Kafe), serta merambah berbagai marketplace dan gerai pemasaran.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan pendampingan dari PLN. Dukungan ini membuat kami makin percaya diri untuk membawa Kopi Kasuari dari pasar Nusantara menuju kancah internasional,” tutur Faisal optimistis.

Kebangkitan Kopi Kasuari turut membuka lapangan kerja baru di sektor produksi, operasional, hingga pengelolaan gerai. (Foto dok: PLN UIW Papua dan Papua Barat)
Melihat perkembangan positif ini, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur menyampaikan, dukungan terhadap Kopi Kasuari merupakan wujud komitmen perseroan dalam menciptakan nilai tambah bersama (Creating Shared Value) bagi masyarakat.
“Kami melihat potensi yang luar biasa dari kopi Papua dan semangat pantang menyerah dari para pelaku usahanya. Kehadiran program TJSL PLN bukan sekadar bantuan alat, melainkan sebuah investasi sosial untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan,” jelas Roberth.
“Kami berharap Kopi Kasuari terus tumbuh menjadi ikon kebanggaan Papua yang tak hanya memberdayakan petani lokal, melainkan juga mampu bersaing dengan kopi-kopi terbaik di pasar global,” ujar Roberth menambahkan.
Perjalanan panjang Faisal dan komunitas petani membuktikan bahwa potensi lokal dapat bersinar jika dirawat dengan tepat. Dari sejuknya tanah Papua, seduhan Kopi Kasuari kini hadir membawa pesan kemandirian dan kebanggaan daerah yang siap bersaing di kancah mancanegara. ***(Siaran Pers)








