KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (Uncen) antusias mengikuti program Eksekutif Mengajar PT Freeport Indonesia (PTFI).
Dalam siaran pers PTFI kepada media di Papua, Rabu, 14 Oktober 2026, dikatakan, mereka belajar langsung dari jajaran manajemen perusahaan tentang teknologi, pengelolaan risiko, dan kompetensi yang dibutuhkan dalam industri pertambangan modern.
“Yang paling menarik, kami bisa melihat langsung bagaimana teori di kampus dipakai untuk menjawab tantangan nyata di industri,” kata Isabella Waicang, mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan Uncen.
“Tidak hanya belajar tentang pekerjaan di tambang, tetapi juga tentang cara berpikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia profesional,” kata Isabella menambahkan setelah mengikuti program Eksekutif Mengajar di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN di Jayapura, Papua, Selasa, 15 September 2026.
Program Eksekutif Mengajar ini merupakan penyelenggaraan kedua, menghadirkan narasumber Senior Vice President Operations Maintenance PTFI Ayep Dirmawan dan Vice President Community Relations Engel Enoch.
Pemaparan mencakup aspek penting dalam industri pertambangan, yaitu keandalan operasi melalui pengelolaan pemeliharaan dan teknologi hingga pentingnya membangun hubungan yang kuat dengan pemangku kepentingan.
Ayep menjelaskan, perkembangan teknologi membuat pendekatan maintenance tidak hanya berfokus pada perbaikan setelah terjadi kerusakan.
Pemanfaatan analisis data serta pendekatan preventive dan predictive maintenance memungkinkan potensi gangguan teridentifikasi lebih dini sehingga keputusan dapat diambil secara lebih tepat.

Senior Vice President Operations Maintenance PTFI Ayep Dirmawan menyampaikan paparan dalam kegiatan Eksekutif Mengajar #2 yang berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN di Jayapura, Papua, Selasa, 15 September 2026. (Foto dok: PTFI)
“Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi,” kata Ayep.
“Teknologi membantu pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, namun manusia yang mengelolanya tetap menjadi faktor terpenting,” jelas Ayep menambahkan.
Sementara itu, Vice President Community Relations Engel Enoch mengajak mahasiswa melihat industri pertambangan dari perspektif yang lebih luas, khususnya tentang pentingnya membangun kepercayaan dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Engel menekankan pentingnya kemampuan mendengarkan berbagai perspektif, memahami konteks sosial dan budaya, serta membangun ruang dialog di tengah perbedaan kepentingan.
Kemampuan tersebut, kata Engel, menjadi semakin penting dalam mengelola kegiatan usaha di Papua yang memiliki keberagaman sosial dan budaya.
“Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang,” kata Engel.
Adapun Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Cenderawasih Dr. Septinus Saa, S.Sos, M.Si., dalam pidatonya saat membuka acara mengatakan program Eksekutif Mengajar merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mahasiswa.
Pengalaman dan wawasan praktis seperti ini sangat bernilai dan tidak dapat diperoleh hanya dari ruang kelas perkuliahan biasa.
“Saya berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan momentum belajar langsung dengan praktisi eksekutif PTFI ini sebaik-baiknya sebagai bekal berharga sebelum memasuki dunia kerja,” katanya.
Program Eksekutif Mengajar pertama kali berlangsung di Kampus UNCEN pada 29 April 2026 menghadirkan narasumber Vice President Mining Safety Division, Eman Widijanto dan Vice President Corporate Communication, Katri Krisnati.

Vice President Community Relations PTFI Engel Enoch menyampaikan paparannya dalam kegiatan Eksekutif Mengajar #2 yang berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN di Jayapura, Papua, Selasa, 15 September 2026. (Foto dok: PTFI)
Tentang PT Freeport Indonesia (PTFI)
PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan tambang mineral terkemuka, afiliasi dari Freeport-McMoRan Inc. (FCX) dan Mining Industry Indonesia (MIND ID).
PTFI menjalankan kegiatan pertambangan, pengolahan, dan pemurnian mineral secara terintegrasi untuk menghasilkan katoda tembaga, emas, dan perak batangan. Melalui operasi hulu ke hilir, PTFI menjadi perusahaan tambang tembaga terintegrasi terbesar di dunia.
Kegiatan penambangan PTFI berlokasi di kawasan Grasberg, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, salah satu wilayah pegunungan terpencil dan ekstrem di dunia yang memiliki salah satu deposit tembaga dan emas terbesar.
Proses pemurnian dilakukan di fasilitas smelter PTFI di Gresik, Jawa Timur, sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap hilirisasi dan peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri.
PTFI tengah mengembangkan sejumlah tambang bawah tanah berskala besar dan berkadar tinggi di kawasan mineral Grasberg.
Melalui pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, penerapan teknologi canggih, dan standar keselamatan kelas dunia, PTFI berkomitmen untuk terus berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional. ***(Siaran Pers)








