KABARPAPUA.CO, Nabire– Panggung megah perayaan Dies Natalis ke-1 Mepa Boarding School yang digelar meriah pada Rabu pagi, 30 September 2026 mendadak riuh oleh gemuruh tepuk tangan. Sorak-sorai ratusan penonton dan tamu undangan bukan dipicu oleh penampilan bintang tamu terkenal, melainkan oleh aksi memukau dua siswa kelas 10 dan 11 yang didapuk menjadi Master of Ceremony (MC) utama.
Jika biasanya acara formal setingkat dinas dipandu oleh guru senior berpengalaman, kali ini pihak sekolah mengambil keputusan memilih siswa usia remaja menjadi MC. Hasilnya? Sebuah pertunjukan public speaking terjadi.
Dengan mengenakan pakaian Batik Papua dan ornamen hiasan kepala yang unik, kedua MC remaja yang akrab disapa Rain Mote Asal Paniai dan Julian Tebai Asal Dogiyai melangkah ke tengah panggung tanpa membawa secarik kertas teks (cue card).
Mereka hanya mengandalkan ingatan, koordinasi mata yang tajam, serta untaian guyonan segar khas anak muda yang sukses mencairkan suasana.
“Gugup itu pasti ada. Tapi berkat binaan Miss Grace dan Mr Linus, tugas menjadi MC mengalir saja dan rasa gugup itu hilang.” kata Rain.
Sementara itu, Miss Grace dan Mr Linus menjelaskan momen Dies Natalis menjadi wadah nyata untuk menguji mentalitas kepemimpinan dan kepercayaan diri siswa. Apalagi kemampuan public speaking adalah kecakapan hidup (life skill) penting yang tidak bisa hanya dipelajari dari dalam buku pelajaran saja.
“Mereka hanya seminggu latihan dan mereka bisa memberikan hasil yang bagus di atas panggung. Intinya harus terus belajar,” kata Grace. *** (Agis Pranoto)








