Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

RAGAM · 17 Mar 2024 22:16 WIT

Belajar Toleransi dari Suku Dani di Papua Pegunungan


					Muslim Papua di Kampung Walesi Jayawijaya. (Kabarpapua.co/Katharina) Perbesar

Muslim Papua di Kampung Walesi Jayawijaya. (Kabarpapua.co/Katharina)

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Di Lembah Baliem, Papua Pegunungan, kita bisa banyak belajar tentang toleransi beragama.

Dalam sejarahnya, sebelum Islam masuk di Lembah Baliem sudah ada penganut Kristen Protestan dan Katolik. 

Agama Islam mulai berkembang di Lembah Baliem berawal dari program Presiden Soekarno yang mengirimkan para relawan Pelopor Pembangunan Irian Barat (PPIB) ke seluruh pelosok Papua untuk mempersiapkan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

Muslim Papua di Kampung Walesi Jayawijaya. (Kabarpapua.co/Katharina)

Para relawan ini, keseluruhannya  beragama Islam. Melalui interaksi yang intensif serta dakwah dari para relawan, sejumlah warga Suku Dani di Lembah Baliem kemudian memeluk agama Islam. Pada mulanya Islam berkembang di Kampung Megapura, kemudian berkembang di Kampung Hitigima, Welesi, Okilikik, Araboda, Air Garam, Kurima, Tulima, Apenas dan Jagara dan saat ini terus berkembang jumlahnya.

Pertahankan Budaya

Yang unik lagi, Suku Dani yang beragama Islam masih mempertahankan tradisi khas Lembah Baliem yaitu bakar batu. Tradisi bakar batu ini dilakukan dalam menyambut ramadan dan hari besar Islam lainnya. 

Selama ini dalam tradisi bakar batu di Lembah Baliem, bahan makanan yang dimasak adalah daging babi. Komunitas muslim Dani menggantinya dengan ayam kampung atau ayam broiler yang di Papua disebut dengan ayam es.

Muslim Papua di Kampung Walesi Jayawijaya. (Kabarpapua.co/Katharina)

Saat melakukan bakar batu, laki-laki menyusun batu di atas susunan kayu kering kemudian ditutupi dengan daun-daun serta rumput kering untuk selanjutnya dibakar. Tidak jauh dari lokasi batu dibakar, sebelumnya sudah dibuat sebuah kubangan dalam tanah.

Batu panas hasil pembakaran kemudian ditata merata di dalam lubang, selanjutnya di atas permukaan batu panas disusun berbagai jenis bahan pangan seperti sayuran, keladi, ubi jalar, singkong, pisang dan ayam. Bahan pangan ini kemudian ditutup dengan daun ubi jalar atau sayur-sayuran lainnya.

Bahan pangan ini akan matang dari panas panas yang bersumber dari batu. Setelah semua bahan pangan disusun, tumpukan makanan itu kemudian ditutup rapat dan kemudian meletakkan lagi batu panas. Setelah tiga jam, kemudian dibuka dan semua bahan makanan pun sudah matang dan siap disantap.

Dalam tradisi bakar batu menyambut ramadan, biasanya dilakukan di halaman masjid atau mushola. Dalam pelaksanaanya dilakukan secara bergotong royong, melibatkan Suku Dani yang beragama Nasrani.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari kehidupan beragama di Lembah Baliem adalah rasa toleransi beragama yang tinggi. Selain itu tradisi warisan leluhur masih dipertahankan. *** (Hari Suroto-Peneliti Arkeologi BRIN)

Artikel ini telah dibaca 350 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Capacity Building bagi Wartawan, Perkuat Komunikasi Kebijakan dan Peran BI sebagai Bank Sentral

4 July 2026 - 08:05 WIT

Suasana Hangat Berkesan, Katering Kopi dari Coffee Corner Hadir Jadi Andalan di Berbagai Acara

1 July 2026 - 21:26 WIT

Dedikasi Polisi di Pelosok Papua yang Jadi ‘Rumah Mediasi’

30 June 2026 - 16:47 WIT

LBH Papua Justice & Peace Gelar Pendidikan dan Pelatihan Paralegal Secara Online

29 June 2026 - 14:47 WIT

Festival Danau Sentani Diundur demi Kesiapan Sarana yang Maksimal

25 June 2026 - 22:42 WIT

Alasan Kota Jayapura Jadi Salah Satu Wilayah Tujuan Promosi Wisata Malaysia

12 June 2026 - 15:15 WIT

Trending di BISNIS