KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura – Akhir 2025 menjadi tahun yang berat bagi Roberth, 21 tahun, mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi di Kota Jayapura.
Tahun yang seharusnya menjadi tahun yang aktif dan dituntut memiliki tubuh sehat, karena tugas akhir yang harus diselesaikan tepat waktu.
Namun, akhir 2025 justru harus ditanggung Robeth dengan vonis dokter, ia terkena infeksi bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri ini menular lewat udara saat penderita batuk atau bersin, dan paling sering menyerang paru-paru. Ya, Roberth divonis terkena tuberkulosis atau TBC.
Berawal dari batuk berminggu-minggu dan tak kunjung reda, hingga berat badan Roberth menyusut tajam.
“Sa (saya) berat badan saat didera batuk-batuk itu menyentuh angka 49 kilogram, yang sebelumnya sa pu (punya) berat badan mencapai 68 kilogram. Kondisi ini sempat membuat sa takut dan drop,” kata Roberth mengawali perbincangannya dengan KabarPapua.co, Sabtu 25 Juli 2026.
Roberth ingat, beberapa minggu sebelum batuk menyerangnya, dia kerap berkumpul dengan teman-temannya dalam ruangan tertutup. Hal ini dilakukan untuk menyelesaikan tugas akhir ataupun berdiskusi ringan.
“Waktu awal batuk-batuk, sa pikir itu batuk biasa dan sa juga cepat merasa kelelahan. Apalagi kala itu, sa sering tidur larut malam dan tra (tidak) teratur dalam urusan makan. Sebelum sa kena batuk-batuk itu, ada beberapa teman yang juga su (sudah) batuk-batuk, tapi sa anggap itu biasa,” Roberth menceritakan.
Dengan kondisi yang tak biasa itu, akhirnya Roberth memberanikan diri ke dokter untuk memeriksa kesehatannya. ”Hasilnya, sa terkena TB,” kata Roberth.
Benteng Pertahanan
Penyakit TBC yang dideritanya membuat dia ketakutan. Bukan hanya takut akan penyakitnya, tapi dia juga takut dikucilkan, termasuk stigma yang akan hinggap pada dirinya.
“Sa terus mengurung diri di kamar, takut menularkan penyakit ini kepada keluarga, teman ataupun yang lain. Apalagi sa pu keponakan masih kecil-kecil. Kalaupun harus keluar dari kamar, sa selalu memakai masker,” kenangnya.
Bukan hanya itu saja, Roberth juga memisahkan alat makan dan minumnya sendiri. Dia menjadi lebih protect terhadap dirinya. “Sa cuci alat makan dan minum sendiri. Sa benar-benar pisahkan dari alat makan dan minum keluarga di rumah. Sa juga simpan alat makan dan minum ini di kamar, supaya tak digunakan orang lain di dalam rumah. Salah satu hal yang sa pikirkan adalah jangan lagi ada keluarga yang kena TB,” katanya.
Ketakutan Roberth akan pengucilan, justru runtuh dari benteng pertamanya, yaitu keluarga. Ketika vonis positif TBC itu keluar, kedua orang tuanya tidak mundur satu langkah pun. Tidak ada meja makan yang dipisah secara sepihak, dan tidak ada tatapan penuh curiga.
”Bapa dan Mama sempat melarang sa untuk pisah-pisahkan alat makan. Mereka bilang tidak apa-apa dan justru keluarga merangkul sa erat untuk meyakinkan bahwa sa bisa sembuh dari TB. Dukungan tanpa syarat dari keluarga menjadi energi terbesar dan membuat sa tidak merasa berjuang sendirian,” kata Roberth.
Layanan Kelas 3 yang Memanusiakan
Ujian yang dihadapi Roberth tidak berhenti di situ. Di tengah kondisi fisik yang melemah, status kepesertaan BPJS kelas 3 miliknya sempat tak aktif karena transisi pemutakhiran data dari pemerintah. Maklum saja, Roberth pemegang kartu BPJS Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK).
Saat dirinya berobat di Puskesmas Hamadi Jayapura, petugas kesehatan bukan menolaknya, malahan memberikan kebijakan kompensasi berobat gratis sambil menunggu masa jeda kepesertaan JKN aktif.
“Sa benar-benar merasakan, bagaimana petugas medis memberikan hak sehat sa tak terputus hingga tak mengenal status sosial. Selama berobat, sa tak pernah merasa dibedakan, entah pasien pemegang BPJS kelas 1, kelas 2 atau kelas 3 sekali pun, seperti sa. Para tenaga medis di puskesmas itu memiliki kepedulian yang sama,” jelasnya.
Termasuk saat rutin mengkonsumsi obat TB selama 6 bulan, tenaga medis dan keluarga sangat membantu. “Seisi rumah selalu mengingatkan sa untuk tak lupa minum obat, tetap berdoa, makan teratur, olahraga dan tetap berpikir positif,” kata Roberth.
Manfaat nyata program JKN juga dirasakan oleh Gerson, penderita Orang dengan HIV AIDS (ODHIV) di Kota Jayapura. Ia mengaku walaupun kepesertaan JKN berada di Waena, namun untuk memeriksakan dirinya ataupun mengambil obat ARV di Puskesmas Abe Pantai.
“Ini karena faktor kenyamanan saya sebagai ODHIV dan saya merasa nyaman dengan tenaga medis di sana (Puskesmas Abe Pantai) yang ikut menjaga privasi saya,” jelas Gerson.

Sikap ramah tenaga kesehatan kepada para komunitas ini, menjadi nilai plus bagi Gerson. Dia juga mengapresiasi sikap ramah tenaga kesehatan bagi penderita ODHIV yang patuh berobat.
“Bagi pasien yang memiliki tingkat kepatuhan berobat yang baik, petugas di puskesmas tersebut bahkan fleksibel dan siap jemput bola dalam memberikan kemudahan akses obat ARV. Saya salah satu orang yang mendapatkan fasilitas itu,” terang Gerson.
BPJS Tanpa Diskriminasi
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jayapura, Erika Verayanti Lumban Gaol memastikan pelayanan BPJS kesehatan dilakukan secara inklusif dan setara bagi seluruh peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Tidak ada perbedaan atau diskriminasi perlakuan, baik berdasarkan jenis kepesertaan maupun status sosial masyarakat, dalam mengakses fasilitas Kesehatan,” katanya, saat ditemui akhir Juni lalu.
Akses pelayanan kesehatan yang setara ini juga berlaku bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan penyakit tertentu, seperti HIV, Tuberkulosis (TB), hingga Malaria.
Sesuai dengan Permenkes Nomor 28 Tahun 2014, obat-obatan program khusus untuk penyakit seperti HIV, TB, dan Malaria disiapkan serta didistribusikan langsung pemerintah (Kementerian Kesehatan/Dinas Kesehatan). Namun, seluruh rangkaian pelayanan kesehatan dan tindakan medisnya tetap dijamin penuh JKN.
BPJS Kesehatan Kantor Cabang Jayapura mengajak masyarakat untuk secara rutin mengecek status kepesertaan program JKN agar tetap aktif.
Langkah ini penting dilakukan guna memastikan masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan secara aman, mudah, dan tanpa kendala, sekaligus memahami mekanisme reaktivasi kepesertaan apabila statusnya dinonaktifkan.
“Kami berharap, masyarakat dapat aktif mengecek kepesertaan JKN dan tak ragu untuk berobat ke faskes terdekat jika sakit,” jelasnya.
Hal ini selaras dengan komitmen pemerintah Provinsi Papua untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk peserta JKN di tanah Papua.
“Kami terus memperkuat akses layanan kesehatan bagi masyarakat di Papua. Walaupun masih ada keterbatasan jumlah rumah sakit, namun penguatan komitmen berkelanjutan penting, jangan sampai ada penolakan terhadap pasien karena pelayanan kesehatan kebutuhan dasar masyarakat,” kata Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen.
Tebar Kebaikan
Berbekal pengalamannya sendiri, Roberth kini aktif mengedukasi dan mendampingi rekan sesama penyintas yang sedang berjuang melawan TBC. Caranya, sekadar mengingatkan untuk patuh dan teratur minum obat, tidak patah semangat dan meyakinkan bahwa TBC bisa sembuh.
Roberth menceritakan pengalamannya saat mendampingi seorang temannya yang sempat drop dan frustasi dalam menjalani pengobatan dan Roberth bertindak sebagai ‘alarm’ pengingat.
“Sa tidak putus ingatkan teman-teman yang sedang pengobatan TB untuk tetap semangat dan jangan pernah takut dengan pengobatan ini. Sa juga sering membelikan susu untuk teman ini, guna menambah berat badannya,” kata Roberth penuh semangat.
Dia terus mengingatkan orang-orang di sekitarnya, bahwa TBC bisa sembuh. “TBC bisa disembuhkan asalkan kita disiplin dan mendapatkan lingkungan yang mendukung. Sa ingin teman-teman yang lain tahu bahwa mereka tidak perlu malu atau takut. Kita berhak sembuh, tanpa harus merasa terdiskriminasi,” Roberth menambahkan.

Dinas Kesehatan Kota Jayapura mencatat sepanjang 2025, pasien TB yang sembuh dengan keberhasilan dan ketaatan minum obat hingga tuntas mencapai 80 persen atau sebanyak 2.396 pasien.
“Sepanjang 2025, pasien TB yang ditemukan sebanyak 3.007 orang dan sekitar 80 persen sembuh dari TB,” kata Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jayapura, Yusnita Pabeno, Jumat 31 Juli 2026.
Upaya dalam menekan kasus TB agar tidak menjadi gunung es, Dinkes Kota Jayapura terus melakukan screening, salah satu yang gencar dilakukan adalah di kampus, sekolah dan juga pemukiman padat penduduk yang memiliki riwayat kasus TB.
Dinkes Kota Jayapura juga berkolaborasi dengan banyak pihak dalam memerangi TB dengan membangun jejaring kepada siapapun, misalnya dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga lintas sektoral terkecil seperti pengurus RT dan RW.
“Hasilnya, pemahaman masyarakat di Kota Jayapura terkait TB mulai terbuka dan justru masyarakat mencari solusi agar pasien sembuh ataupun masyarakat ingin mengantisipasi tak terkena TBC,” kata Yusnita.
Dinkes setempat berharap kepada pasien TBC untuk memberlakukan hidup sehat dan bersih, serta mengkonsumsi makanan bergizi.
Kementerian Kesehatan mencatat, sekitar 4 persen kasus TB nasional berasal dari tanah Papua. Salah satu tantangannya adalah masih rendahnya penemuan kasus dan belum optimalnya pelacakan kontak (tracing kontak serumah pasien TB). Bahkan, sebagian besar wilayah di Papua belum mencapai target penemuan kasus TB secara nasional.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong sejumlah langkah strategis yakni peningkatan skrining masif dan pelacakan kontak TB yang terintegrasi dengan CKG (cek kesehatan gratis).
Juga penguatan pendampingan pasien untuk memastikan kepatuhan pengobatan hingga tuntas, serta didukung dengan integrasi sistem pelaporan secara real-time dan pelibatan kader, keluarga maupun komunitas dalam penanganan pasien.
Gubernur Papua, Matius Fakhiri optimis penanganan TBC di Tanah Papua dapat berjalan dengan baik dengan adanya dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan kolaborasi lintas sektoral.
“Pentingnya dukungan berkelanjutan, khususnya dalam penguatan tenaga kesehatan dan pembiayaan program, agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal,” kata Gubernur Papua Matius Fakhiri
Dan terbukti, dengan dukungan dari berbagai pihak, serta kedisiplinan Roberth minum obat, perjuangan Roberth berbuah manis. Dia dinyatakan bebas dari TB pada Maret 2026. Pelan tapi pasti, berat badannya pun melonjak ikut naik hingga mencapai angka ideal 60 kilogram.
“Setelah enam bulan menjalani masa pengobatan yang panjang, sa berhasil keluar sebagai pemenang dan dirayakan dengan penuh syukur,” ujar Roberth penuh bahagia. *** (Katharina Lita)


















