KABARPAPUA.CO, Nabire – Ada pemandangan unik, sekaligus menyegarkan dalam pembukaan acara Rapat Koordinasi (Rakor) Strategi Penguatan Intervensi Kesehatan dan Sinergi Lintas Sektor dalam Percepatan Penurunan Stunting, serta Integrasi Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem di Nabire, Selasa, 29 September 2026.
Sebab dalam rakor yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Papua Tengah itu, tidak dibagikan tas berbahan kain seperti biasanya. Tapi panitia justru membagikan Tas Noken asli buatan Mama-mama Papua kepada seluruh peserta.
Langkah anti-mainstream ini spontan memicu antusiasme tinggi dari puluhan peserta dari aparatur sipil negara (ASN), jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda), kepala perangkat daerah, serta berbagai pemangku kepentingan terkait yang hadir memenuhi ruang aula pertemuan.

Bahkan saat proses registrasi dimulai, raut wajah para peserta yang semula formal dan kaku langsung berubah penuh senyum. Mereka dikejutkan dengan pembagian Tas Noken dari rajutan benang kayu alami warna-warni khas Papua tersebut.
Tas Noken yang indah ini dikalungkan langsung ke leher atau disilangkan di pundak oleh para peserta, menciptakan pemandangan ruang rapat yang sangat estetik dan kental akan nuansa budaya setempat.

Kepala Bidang Perekonomian dan Sosial Budaya Bapperida Provinsi Papua Tengah, Irvan Sapulete menjelaskan, aksi unik membagikan Tas Noken asli rajutan dari Mama-mama Papua ini bukan sekadar gaya untuk mencuri perhatian.
“Sebab selain itu, filosofi Noken juga dapat menampung aspirasi dan hasil rapat yang dimasukkan ke dalamnya, hingga melahirkan kebijakan yang menyejahterakan. Hal ini bukan baru pertama, tapi sudah sering kami lakukan pada acara-acara besar yang diselenggarakan Bapperida Papua Tengah,” terangnya.
Irvan juga mengatakan, pihak Bapperida Papua Tengah sengaja membeli ratusan Tas Noken ini, langsung dari para pengrajin lokal, guna mendorong perekonomian kreatif Mama-mama Papua, serta mendukung komitmen daerah dalam melestarikan warisan budaya. ***(Agies Pranoto)













