Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

RAGAM · 18 Mar 2024 21:40 WIT

Menyusuri Masuknya Islam di Kaimana Papua Barat


					Masjid Agung Baiturrahim Kaimana (Foto: Hari Suroto) Perbesar

Masjid Agung Baiturrahim Kaimana (Foto: Hari Suroto)

KABARPAPUA.CO, Kaimana– Kabupaten Kaimana di Provinsi Papua Barat menjadi salah satu daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Menurut salah satu kisah lisan, tokoh pembawa Islam pertama kali ke Kaimana adalah Imam Dzikir, dia tinggal dan berdakwah di Borombouw pada 1405. Kemudian Imam Dzikir menetap di Pulau Adi di Kaimana dan mengajarkan Islam yang kemudian diterima oleh keluarga kerajaan.

Penyebaran Islam di Kaimana juga melalui interaksi perdagangan dengan pedagang muslim dari Aceh, Arab, Ternate dan Tidore.

Kaimana menjadi wilayah dua pertuanan yang masing-masing dipimpin oleh seorang raja. Dua pertuanan ini yaitu Namatota dan Kumisi atau disebut juga Sran.

Wilayah Pertuanan Namatota meliputi Teluk Umar hingga Teluk Arguni. Pusat Pertuanan Namatota di Pulau Namatota. Pertuanan Kumisi berpusat di Pulau Adi, Distrik Buruway.

Kisah lisan menyebutkan dahulu pemukiman pertama berada di Pulau Adi. Namun karena diganggu oleh makhluk pemakan manusia yang meresahkan penduduk. 

Raja Kumisi kemudian memindahkan pemukiman ke Pulau Kilimala di timur Pulau Adi. Pada 1976, pemukiman kembali berpindah ke Pulau Adi hingga saat ini.

Meski hidup dalam kondisi modern, masyarakat Kaimana masih menghormati raja dan teguh memegang adat.

Raja sebagai pemangku hak ulayat dan hukum adat menjadi panutan. Titahnya menjadi hukum yang masih dipatuhi.

Pada 1898, agama Islam semakin banyak penganutnya di Kaimana setelah Naro’E menggantikan Nduvin menjadi Raja Kumisi dengan gelar Raja Sran Kaimana V. 

Pada saat itu, Naro’E menikah dengan anak kepala suku di Kaimana. Akhirnya pengaruh Islam di Kaimana semakin luas.

Pengaruh budaya Islam terlihat dari pemakaian alat musik rebana, penggunaan sorban serta tradisi Islam lainnya.  *** (Hari Suroto-Peneliti Arkeologi BRIN)

Artikel ini telah dibaca 732 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Aku Sembuh Tanpa Diskriminasi 

31 July 2026 - 22:23 WIT

Saat Tubuh Memberi Sinyal, Pentingnya Memahami Kesehatan Pria

30 July 2026 - 17:04 WIT

Percepat Transformasi Kawasan Transmigrasi di Papua, UNDIP Terjunkan 20 Tim Ekspedisi Patriot 2026

30 July 2026 - 11:57 WIT

Momen Hari Anak Nasional, PLN IP UBP Holtekamp Wujudkan Imajinasi Lewat Warna

29 July 2026 - 17:31 WIT

Abdullah Nakhodai KKSS Kepulauan Yapen

27 July 2026 - 16:42 WIT

GKI Lilin Kecil Sambut Hangat 149 Peserta Tour Rohani

24 July 2026 - 21:53 WIT

Trending di RAGAM