Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

KABAR KEPULAUAN YAPEN · 6 Nov 2026 22:43 WIT

Matahari Buatan Manase Menjadi Energi untuk Nelayan Kampung Kanaki


					Panel surya milik Manase Swabra di Kampung Kampung Kanaki, Distrik Wonawa, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Foto: Ainun Faathirjal/KabarPapua.co Perbesar

Panel surya milik Manase Swabra di Kampung Kampung Kanaki, Distrik Wonawa, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Foto: Ainun Faathirjal/KabarPapua.co

KABARPAPUA.CO, Serui – Sosok Manase Swabra, lelaki berusia 68 tahun menjadi penolong bagi nelayan di tempat tinggalnya. Tak ada yang menyangka, panel surya yang dia sebut sebagai “matahari buatan” miliknya, menjadi energi mandiri bagi nelayan di kampungnya.

Manase menetap di pelosok Kampung Kanaki, Distrik Wonawa, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. Untuk menembus ke Kampung Kanaki, hanya dapat dilalui dengan transportasi laut yang ditempuh 4 jam perjalanan dari Pelabuhan Serui, yang berada di ibu kota Kepulauan Yapen.

Sampai saat ini, Kampung Kanaki belum teraliri listrik PLN. Keterbatasan ini justru membuat Manase merajut kemandirian energi untuk tanah kelahirannya. Bagi lelaki pensiunan guru ini, matahari Papua adalah energi murni yang gratis dan berlimpah dan bisa menjadi energi hijau bagi kehidupan di kampungnya.

Hampir empat dekade hidupnya didedikasikan untuk mencerdaskan anak bangsa. Dia diangkat sebagai guru sejak 1 Oktober 1979 hingga resmi purna tugas pada 29 November 2018. “Pensiun bukan berarti kitorang (kita) su (sudah) di garis akhir untuk mengabdi,”katanya.

Panel Surya Milik Manase

Benih perubahan justru bersemai saat Manase melangkah jauh ke Kota Tangerang pada 2019 untuk menghadiri wisuda anaknya. Di tengah gemerlap kota inilah, pikiran Manase justru melayang jauh ke Kampung Kanaki. Dia teringat rumah warga di kampungnya belum menikmati sentuhan listrik.

Sebelum mengenal sistem panel surya dengan kapasitas lebih besar, Manase telah menggunakan perangkat penerangan sederhana sejak 1988. Dia teringat pada tahun itu,merogoh kocek Rp3 juta dari kantongnya untuk pertama kali merintis penerangan sederhana untuk rumahnya.

Uang Rp3 juta dibelikan baterai, kontroler, dan satu panel surya mungil yang hanya sanggup menyalakan tiga titik lampu di rumahnya.

“Sa (saya) pu (punya) tekad bulat, jika ada berkat dari Tuhan, sa akan membawa pulang ‘matahari buatan’ raksasa ini. Salah satunya untuk membuat es batu, untuk menjaga kesegaran ikan bagi nelayan di kampung,” kata Manase yang ditemui kabarpapua.co di Kota Serui, Kamis, 5 November 2026.

Akhirnya pada 2019, Manase membeli satu paket peralatan panel surya seharga Rp26,5 juta dengan mendapatkan enam panel surya dan dua unit baterai. Setiap panel berukuran sekitar 1 x 1,60 meter, dengan kapasitas daya keseluruhan yang disebut mencapai 1.500 watt.

Panel surya dapat menyulap energi sinar matahari untuk memproduksi es batu sederhana di tengah kampung. Setiap hari, dari bilik kecil rumahnya, ia memproduksi sekitar 40 batang es batu berukuran hampir 35 sentimeter. Harganya bersahabat untuk nelayan, berkisar Rp7.000 per batang es.

Inovasi mandiri ini menjadi penyelamat nyata bagi nelayan tradisional di Kampung Kanaki dan sekitarnya. Tanpa harus menempuh perjalanan jauh dengan biaya mahal ke pusat kota hanya untuk mendapatkan es pengawet ikan.

“Akhirnya, para nelayan bisa mendapatkan es batu tanpa harus pergi jauh ke kota mencari kebutuhan ini,” kata Manase.

Manase Swabra di Kampung Kampung Kanaki, Distrik Wonawa, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua saat menunjukan matre panel surya. Foto: Manase

Dari usaha mandiri inilah roda ekonomi keluarganya berputar kokoh, hingga sukses mengantarkan anak-anak kembarnya menyelesaikan pendidikan tinggi dan meniti karier mapan.

Energi Hijau dari Tanah Papua

Luas Papua sekitar 418.707,7 km² dengan topografi yang sangat bervariasi dari perairan dan pesisir, dataran rendah hingga ketinggian alpine di 4.884 m dpl ini merupakan peluang dalam pendekatan teknologi sumber energi sesuai dengan lanskapnya.

“Dimana energi surya cocok dikembangkan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, sementara mikrohidro sangat relevan di kawasan pegunungan tengah yang memiliki banyak sungai deras dan curam,” kata Henderina Josefina Keiluhu, Dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih.

Sehingga kedua jenis energi ini tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga minim dampak kepada lingkungan hidup seperti polusi dari emisi yang dihasilkan, disamping itu teknologinya dapat ditransportasikan sampai ke daerah pedalaman Papua.

Hanya saja, menurut Laporan Kinerja Ditjen EBTKE Kementian ESDM Tahun 2024, hambatan dalam proses pengadaan pembangkit listrik tenaga EBT memerlukan waktu relatif lama dan mengakibatkan proses konstruksi terhambat serta berpotensi memperlambat realisasi investasinya.

Perluasan Elektrifikasi dan Masa Depan

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaurmenegaskan, komitmen perseroan (PLN) dalam menembus segala hambatan geografis demi menerangi seluruh pelosok tanah Papua.

Hingga Oktober 2026, PLN telah melistriki 128 desa terpencil yang tersebar di Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya melalui program Listrik Desa. Langkah strategis ini menegaskan keseriusan PLN mewujudkan keadilan energi bagi warga yang selama ini belum tersentuh akses listrik.

Menurut Roberth, upaya pemerataan ini dipastikan terus berlanjut. Ke depan, PLN telah menyiapkan program elektrifikasi lanjutan untuk 199 desa di enam provinsi, yaitu Papua, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Proyek perluasan akses energi ini ditargetkan rampung secara bertahap hingga tahun 2027.

“Kami menyadari tantangan alam dan infrastruktur di tanah Papua sangatlah berat, namun hal itu tidak menyurutkan dedikasi tim kami di lapangan,” kata Roberth.

PLN berharap kehadiran energi yang andal tidak hanya membebaskan masyarakat dari kegelapan, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi lokal, peningkatan kualitas pendidikan, dan kemajuan layanan kesehatan di seluruh penjuru tanah Papua.

Kehadiran energi inilah kini berdampak, termasuk bagi Manase. Sebagai guru, ruang kelasnya kini telah berpindah dalam mengajarkan ketekunan dan cara pandang solutifmendapatkan energi mandiri yang bisa diperoleh di lingkungan sekitar.

Kini warga di kampungnya, Kampung Kanaki mulai melirik kebutuhan digital. Manase kembali tertantang untuk menghadirkan jaringan internet mandiri berbasis satelit. “Sa ingin anak-anak muda di pelosok Yapen tak tertinggal zaman, meski hidup jauh dari pusat kota.”

Kisah Manase Swabra bergema kuat menembus batas-batas geografis Kepulauan Yapen. Dia selalu berkeinginan, agar hidupnya bisa berpendar terang seperti “Matahari Buatan atau Panel Surya” bagi sesama. ***(Ainun Faathirjal)

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

BPKAD Kepulauan Yapen Tertibkan 35 Kendaraan Dinas yang Masih Dikuasai Mantan Pejabat dan ASN

3 November 2026 - 21:59 WIT

Pemkab Kepulauan Yapen Perkuat Tata Kelola Alat Kontrasepsi dan Mutu Pelayanan KB

29 October 2026 - 10:24 WIT

Mudahkan Pelayanan, Beranda Imigrasi Hadir di Entrop Jayapura

28 October 2026 - 22:28 WIT

Wabup Kepulauan Yapen Buka Aksi Konvergensi 5 Percepatan Penurunan Stunting 2026

28 October 2026 - 21:23 WIT

Deklarasi Pemuda Keerom Menjaga Papua Damai

28 October 2026 - 20:42 WIT

Dari Perbatasan Papua, Kepala Suku Elseng Kumandangkan Semangat Sumpah Pemuda

28 October 2026 - 20:03 WIT

Trending di PUBLIK