KABARPAPUA.CO, Serui– Berawal dari tingginya harga pakan ternak, Herberth Harry Auparay, akademisi dan peneliti asal Kabupaten Kepulauan Yapen berhasil mengembangkan inovasi pakan babi berbasis ampas sagu fermentasi.
Melalui riset ilmiah dan uji laboratorium, limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai, terbukti mampu menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan pertambahan bobot ternak secara signifikan. Ampas sagu yang selama ini dipandang sebagai limbah ternyata menyimpan potensi besar bagi dunia peternakan.
Herberth Harry Auparay (48) membuktikannya melalui penelitian dan inovasi pakan ternak babi berbasis bahan lokal.
Herberth, lahir di Serui, 11 Agustus 1977 merupakan lulusan Magister Ilmu Peternakan (S2 Pakan Ternak). Kegelisahannya bermula dari mahalnya harga pakan konsentrat yang selama ini menjadi beban utama peternak rakyat. Dari situ, ia mulai melirik ampas sagu limbah pengolahan pangan tradisional yang melimpah di Yapen untuk diolah menjadi pakan alternatif bernilai tinggi.
“Secara alami, ampas sagu memiliki serat kasar yang tinggi namun protein kasarnya rendah, hanya sekitar 1-3 persen. Tantangan saya adalah bagaimana meningkatkan kandungan protein kasar hingga 8-9 persen bahkan mencapai 15 persen untuk pakan penggemukan,” ujar Herberth ditemui kabarpapua.co. Selasa 16 Desember 2025.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Herberth mengumpulkan berbagai literatur ilmiah melalui jurnal dan sumber akademik daring. Ia kemudian melakukan serangkaian uji laboratorium dengan mengirim bahan pakan seperti ampas sagu, ampas tahu, dedak, jagung, daun petatas, tepung ikan, dan ampas kelapa ke Laboratorium Nutrisi Ternak Universitas Papua (UNIPA) Manokwari serta Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk analisis bahan kering dan proksimat.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, Herberth merumuskan komposisi pakan fermentasi berbasis kearifan lokal dengan kandungan Protein Kasar 15-16 persen dan Energi Metabolis sekitar 2.900 kkal/kg, sesuai kebutuhan ternak Babi fase grower.
Uji coba dilakukan terhadap 16 ekor babi fase pertumbuhan selama tiga bulan. Pakan diberikan secara terukur dua hingga tiga kali sehari, dengan pemantauan bobot badan secara rutin. Hasilnya, babi mengalami pertambahan bobot harian sekitar 0,7 ons, dengan capaian bobot 60-70 kilogram dalam waktu tiga bulan.
“Jika menggunakan pakan konsentrat pabrikan, waktu pemeliharaan bisa mencapai lima bulan. Dengan pakan lokal ini, tiga bulan sudah layak jual karena kualitas nutrisinya setara,” jelasnya.

Foto: Ainun Faathirjal/kabarpapua.co
Keunggulan lain dari pakan tersebut adalah bentuknya yang kering sehingga memiliki daya simpan lebih lama apabila disimpan dalam wadah tertutup. Dari sisi biaya, penggunaan pakan lokal mampu menekan pengeluaran hingga 40 sampai 50 persen, dibanding pakan komersial yang bisa menyerap biaya hingga 60 sampai 70 persen.
Hasil penelitian ini kemudian dipresentasikan dalam Seminar Ilmiah di UNIPA Manokwari, dan mendapat apresiasi serta masukan dari para pakar nutrisi ternak. Dorongan akademik tersebut mengantarkan Herberth untuk mendokumentasikan penelitiannya dalam bentuk buku berjudul “Emas Hijau Kepulauan Yapen: Ampas Sagu”, disusul karya kedua “Strategi Pembangunan Peternakan di Kepulauan Yapen”.
Kedua buku tersebut telah melalui proses penyuntingan profesional oleh Bima Utama Press Surabaya dan resmi terdaftar dengan ISBN dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, menjadikannya literatur nasional.
Herberth berharap inovasi ini mendapat dukungan pemerintah daerah agar dapat disosialisasikan secara luas melalui penyuluhan dan demonstrasi kepada masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP) di Kepulauan Yapen.
“Saya ingin masyarakat melihat bahwa ampas sagu bukan limbah, melainkan emas hijau. Dengan teknologi fermentasi sederhana, peternak bisa mandiri, menekan biaya, dan meningkatkan kesejahteraan,” katanya. *** (Ainun Faathirjal)
























