Menu

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

NOKEN · 6 Dec 2025 04:57 WIT

Strategi Branding Goldmine Zulhas


					Zulhas angkati beras di tengah bencana. Foto: Net Perbesar

Zulhas angkati beras di tengah bencana. Foto: Net

OPINI 

*Penulis: Nasarudin Sili Luli (Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign)

MENKO Pangan sekaligus Ketua Umum (Ketum) PAN, Zulkifli Hasan atau Zulhas, ramai disorot di media sosial (medsos) usai ikut memanggul beras karung saat memberikan bantuan logistik di lokasi bencana Sumatera. 

Adapun video aksi Zulhas itu diunggah di akun Instagram milik Zulhas dan PAN, dilihat Jumat 5 Desember 2025. Zulhas berkunjung ke Sumatera Barat pada 30 November lalu.

Viralnya meme Zulhas bukan akhir, tapi awal. Meme Zulhas bisa jadi branding goldmine kalau diolah dengan cerdas. Dalam dunia Gen Z, reputasi nggak  hanya dibangun lewat kesempurnaan, tapi lewat otentisitas.terlepas dari apapun sentimen negatif  publik saat ini.

Skenario alternatif Zulhas justru bisa ikut main di ruang itu? Misalnya, dia bikin video singkat di TikTok, reaksi santai terhadap meme-memenya sendiri sambil bilang, “Wah, kreatif banget kalian!” Bayangin efeknya, langsung viral dua kali lipat tapi kali ini dengan sentimen positif.Kata pakar politik ini.

Zulhas  bisa mengambil pendapat Sarah Banet-Weiser dalam Authentic: The Politics of Ambivalence in a Brand Culture bilang bahwa di era digital, otentisitas adalah mata uang paling mahal.

Publik bisa mencium ketidaktulusan dari jauh. Gen Z, apalagi, detektornya tajam. Mereka cepat tahu mana yang genuine dan mana yang cuma pencitraan.

Jadi kalau Zulhas bisa menunjukkan self-awareness, bahwa dia bisa tertawa bersama publik dan tidak marah, itu bukan kelemahan. Itu adalah  kekuatan. 

Dalam konteks branding, ini bukan hal baru. Alice Marwick dalam Status Update: Celebrity, Publicity, and Branding in the Social Media Age menjelaskan bahwa tokoh publik yang sukses di media sosial adalah mereka yang menampilkan “performed intimacy.” Artinya, mereka kelihatan dekat dan manusiawi, tapi tetap punya wibawa.

Contoh nyata lainnya, akun resmi Partai Gerindra pernah menunjukkan strategi brilian ini. Waktu ada tweet lucu yang nyamain Prabowo sama bayi di iklan “mybaby,” alih-alih marah, akun Gerindra justru ikut bercanda, “Kijang satu, monitor…” Netizen langsung meledak ketawa. Responsnya bukan cuma lucu, tapi juga menunjukkan bahwa mereka paham cara kerja internet.

Ahli strategi kampanye ini mengetik cepat: “That’s how you win the timeline.” Dengan ikut main, mereka bukan kehilangan wibawa, tapi justru mendapat simpati. Mereka terlihat fun, modern, dan nggak kaku.

Kalau strategi semacam itu diterapkan oleh Zulhas efeknya bisa luar biasa. Meme yang awalnya terlihat seperti ejekan bisa diubah jadi titik balik citra publik. Ia bisa membuka dialog santai dengan anak muda soal pertambangan,ilegal loving , investasi, atau ekonomi digital, tapi dikemas dengan gaya yang playful dan komunikatif.

Media elektronik menghapus batas antara panggung depan dan belakang. Publik sekarang pengin lihat sisi “backstage” dari pejabat, yang manusiawi, jujur, dan bahkan kadang kikuk. meme. 

Jika Zulhas bisa menanggapi dengan santai, dia bukan cuma dapat poin di mata netizen, tapi juga membuka era baru komunikasi publik di Indonesia. Ia bisa menunjukkan bahwa pemimpin modern itu bukan yang jauh dan formal, tapi yang bisa connect tanpa kehilangan substansi,” katanya, Sabtu 6 Desember 2025.

Bahwa yang sedang terjadi ini lebih besar dari sekadar meme. Ini tentang cara baru rakyat bicara kepada kekuasaan. Tentang bagaimana humor bisa jadi jembatan antara istana dan wargane“mungkin Zulhas nggak sedang di-olok, tapi sedang diundang.”

Diundang untuk hadir di ruang percakapan digital yang lebih cair, lebih manusiawi, dan lebih Indonesia karena, di zaman sekarang, branding bukan soal siapa yang paling berkuasa, tapi siapa yang paling bisa tertawa. ***

*) Isi opini atau artikel ini menjadi tanggungjawab penulis sepenuhnya, bukan menjadi tanggungjawab redaksi KabarPapua.co.

Artikel ini telah dibaca 35 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Jokowi Sulit Dijerat Hukum Proyek Whoosh

29 October 2025 - 21:16 WIT

Kecap Sagu ala Warga Kampung Gwinjaya Sarmi

15 October 2025 - 14:06 WIT

Mari Bersama Membangun Papua Pegunungan

27 August 2025 - 11:33 WIT

Evaluasi Quick Count

8 August 2025 - 11:52 WIT

Pilkada Papua: Strategi Perang PKS

31 July 2025 - 06:32 WIT

Merdeka Belajar dalam Bingkai Kearifan Lokal: Aktualisasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara di Mimika, Papua Tengah

4 July 2025 - 21:04 WIT

Trending di NOKEN