KABARPAPUA.CO, Nabire– Serangan brutal memecah keheningan siang di pos kamtibmas PT Kristalin Ekalestari Nabire yang berada di Bendungan Kali Musairo SP1 Lagari Jaya, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, Sabtu 21 Februari 2026.
PT Kristalin Ekalestari (KEL) adalah perusahaan pertambangan emas. Lokasi operasional tambangnya berada sekitar 60 kilometer sebelah timur Kota Nabire. Perusahaan ini fokus pada eksplorasi dan produksi emas dengan konsesi area mencapai 198,00 hektar yang berlaku hingga 2030.
Serangan itu meninggalkan jejak abu, darah, dan duka mendalam. Bangunan pos pengamanan yang sebagian dengan material kayu hangus terbakar dan rata dengan tanah. Di antara tumpukan material abu bangunan itu ditemukan 2 jasad yang hangus terbakar.
“Dua korban ditemukan dalam reruntuhan bangunan yang habis dibakar. Kondisi jenazah mengalami luka bakar berat,” katanya.
Saat ini, tim medis RSUD Nabire tengah berpacu dengan waktu melakukan autopsi dan identifikasi untuk memberikan nama pada kedua raga yang telah tiada itu.
Di sisi lain, sebuah kendaraan operasional perusahaan berdiri kaku sebagai saksi bisu serangan brutal tersebut. Empat lubang bekas tembakan menganga di bagian depan, dengan radiator yang hancur diterjang proyektil.
Penyidik kepolisian menduga penembakan dilakukan secara dingin dari jarak sekitar 50 hingga 100 meter. Empat orang saksi yang merupakan pegawai perusahaan juga telah diperiksa. Berdasarkan keterangan saksi, penyerangan didahului dengan suara tembakan, dan terlihat sekitar tiga orang pelaku di lokasi kejadian.
“Kami sedang mendalami dugaan perampasan senjata dalam kejadian ini. Namun dipastikan tidak ada anggota Polri yang bertugas melakukan penjagaan di lokasi perusahaan tersebut,” ujar Tedjo.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani mengecam tindakan kekerasan yang menimbulkan korban jiwa. Penegakan hukum akan dilakukan secara profesional dan proporsional.
“Negara harus hadir untuk memastikan rasa aman bagi masyarakat serta menjaga stabilitas wilayah,” ujarnya.
Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga menyebutkan aparat keamanan telah melakukan pemetaan serta profiling terhadap kelompok yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.
Evakuasi Puluhan Karyawan

Dalam insiden itu, sebanyak 87 karyawan berhasil dievakuasi keluar dari lokasi perusahaan. Evakuasi melibatkan 150 personel gabungan, untuk evakuasi karyawan dan warga pendulang di sekitar lokasi.
Kapolres Nabire, AKBP Samuel Tatiratu menyebutkan proses evakuasi dilakukan bertahap. Sebagian personel melakukan evakuasi warga di bagian bawah sebelum lokasi kejadian. Sementara tim lainnya membangun perimeter pengamanan di sekitar titik pembakaran untuk mencegah gangguan lanjutan.
“Kami minta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi,” katanya.
Korban TNI
Kapendam XVII/Cen, Letkol Inf Tri Purwanto membenarkan penyerangan dan pembakaran pos pengamanan perusahaan.
Pihaknya belum memberikan keterangan terkait dugaan salah satu korban yang menjadi korban dalam penyerangan itu adalah anggota TNI.
“Sampai dengan saat ini, pihak aparat hukum masih mengumpulkan beberapa keterangan dari para saksi dan menunggu hasil identifikasi korban,” katanya.
Penyerangan 2,5 Jam
Deputy Director PT Kristalin Ekalestari Teguh Arief Herlambang melalui pernyataan resmi mewakili perusahaan menyatakan kejadian tersebut terjadi pada Sabtu siang, dimulai pukul 13.30 WIT hingga pukul 15.00 WIT.
“Kami menyayangkan insiden ini. Pos yang terbakar merupakan Pos Kamtibmas yang berbatas dengan akses menuju perusahaan. Kami pertegas bahwa lokasi kejadian di luar wilayah area perusahaan,” jelasnya.
Pos kamtibmas yang dibangun merupakan untuk membantu keamanan wilayah Pos tersebut dijaga aparat yang bertugas di wilayah.

Dari tim internal perusahaan masih menunggu hasil penyelidikan tim pemadam kebakaran, penyelidikan kepolisian dan pengamanan dari TNI.
“Kami menegaskan selama ini tak ada konflik di wilayah tersebut, dari keterangan tim internal kami pos penjagaan dalam kondisi sepi saat kejadian berlangsung.” ujarnya.
Klaim OPM
Mayor Aibon Kogoya bersama pasukannya bertanggung jawab atas penyerangan dan penembakan terhadap aparat militer Indonesia di Jalan Musairo, Kampung Biha, Distrik Makimi pada Sabtu, 21 Februari 2026 sekitar jam 14.30.
Juru bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom menjelaskan dalam penyerangan tersebut mengakibatkan lebih dari 2 aparat militer kolonial Indonesia tewas, satu unit pos militer Indonesia dibakar, penembakan satu unit mobil hilux serta perampasan 3 unit senjata laras panjang dan 1 unit pistol.
PIS TPNPB juga melaporkan bahwa aparat militer kolonial Indonesia yang tewas tersebut sedang melakukan pengamanan perusahan milik PT. Kristalin Eka Lestari di Lagari dan akibat dari sementara akibat dari aktivitas perusahaan tersebut mengakibatkan kerusakan pada hutan dan lingkungan sekitar milik masyarakat adat di Nabire.
PIS TPNPB mengatakan bahwa telah terjadi baku tembak antara aparat militer kolonial Indonesia dengan pasukan TPNPB saat aparat melakukan evakuasi seluruh korban, sementara dalam kontak senjata tersebut aparat militer kolonial Indonesia melakukan penembakan secara brutal namun tidak ada jatuhnya korban jiwa dari pasukan TPNPB. *** (Katharina)


















