KABARPAPUA.CO, Serui– Potensi kakao kering di Kabupaten Kepulauan Yapen yang cukup melimpah, namun tak memiliki penampung hasil panen. Hal ini membuat petani kesulitan dalam memasarkan kakao sehingga berdampak pada menurunnya semangat berkebun.
Yeret Karubaba, petani kakao di Kampung Kainui II, Distrik Angkaisera mengaku telah menanam sekitar 500 pohon kakao sejak tahun 2018. Sayangnya, hingga kini belum tersedia penampung atau pembeli tetap di wilayah Kepulauan Yapen.
“Kalau mau jual, harus dibawa ke Jayapura karena di sana (Jayapura) ada penampungnya. Sedangkan di sini (Yapen) belum ada,” katanya, ditemui Senin 2 Maret 2026.
Yeret bilang, pohon kakao umumnya mulai berbuah dalam usia tiga hingga empat tahun. Komoditas ini berpotensi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik dan didukung sistem pemasaran yang jelas.
“Kami petani sebenarnya semangat untuk berkebun. Tapi kendalanya tidak ada penampung atau pembeli, sehingga kebun kakao kurang diperhatikan,” katanya.
Ia berharap dinas terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kakao, mengingat harga kakao kering di pasaran cukup tinggi. “Saat ini, sebagian petani memilih menanam dan menjual sayuran untuk mendapatkan pemasukan yang lebih cepat”.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) Kabupaten Kepulauan Yapen, Gasper Samai, mengatakan minat masyarakat menanam kakao sebenarnya cukup tinggi. Ia menyebut, pada periode 1985 hingga 2000, banyak masyarakat Yapen yang menggantungkan hidup dari hasil kakao. Bahkan hasil kakao bisa untuk membangun rumah dan membiayai sekolah anak.
Namun, memasuki tahun 2000, serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) menyebabkan penurunan kualitas dan produksi, sehingga pendapatan petani merosot tajam. Namun, sejak 2013 hama tersebut sudah tidak lagi menjadi ancaman utama. Akan tetapi, persoalan pemasaran yang belum teratasi membuat banyak petani kehilangan motivasi untuk kembali mengembangkan kakao.
“Kalau ada penampung di Yapen, pasti petani akan kembali semangat karena ada kepastian pasar,” katanya.
Pihaknya juga mendorong penggunaan bibit unggul jenis ‘Criollo’ yang dinilai lebih tahan terhadap hama dan sesuai dengan kondisi iklim di Yapen dibandingkan bibit Hibrida dari daerah lain seperti Jember dan Sulawesi.
Menurutnya, pada era 1980-an melalui program pemerintah Proyek Rehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor (PRPTE), produksi kakao di Yapen pernah mencapai masa kejayaan. Bibit saat itu didatangkan dari Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara.
“Kalau pemerintah ingin membangkitkan kembali kakao di Yapen, harus menggunakan bibit super yang cocok dengan iklim setempat” pungkasnya. *** (Ainun Faathirjal)


















