Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

POLITIK · 20 Sep 2025 10:43 WIT

Pentingnya Menjaga Harmoni Pasca PSU Pilkada Papua


					Direktur NSL Political Consultant and Strategic Campaign , Nasarudin Sili Luli . Foto: Pribadi Perbesar

Direktur NSL Political Consultant and Strategic Campaign , Nasarudin Sili Luli . Foto: Pribadi

KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Mahkamah Konstitusi menolak gugatan Benhur Tomi Mano dan Constant Karma terkait hasil rekapitulasi pemungutan suara ulang (PSU) Pilgub Papua. Benhur-Contant merupakan pasangan calon nomor urut 01 di Pilgub Papua.

Direktur NSL Political Consultant and Strategic Campaign , Nasarudin Sili Luli  mengingatkan  PSU Pilkada Papua masih meninggalkan dampak berupa perpecahan di tengah masyarakat akibat perbedaan pilihan politik. 

Oleh karena itu, pakar politik ini mengingatkan agar menjaga harmoni sosial pasca-PSU Pilkada Papua menjadi tantangan penting yang memerlukan kerja sama dari semua pihak, termasuk para kandidat, pendukung, dan para tokoh agama adat dan pemuda.

“Upaya rekonsiliasi harus dikedepankan agar masyarakat kembali bersatu untuk membangun tanah Papua,” katanya. 

Para kandidat memiliki peran sentral dalam menjaga ketenangan masyarakat. Kandidat yang menang  diharapkan menahan diri untuk tidak melakukan selebrasi yang berlebihan. Di sisi lain, kandidat yang kalah diimbau untuk menunjukkan kedewasaan politik dengan tidak memprovokasi pendukungnya menolak hasil pemilu secara sepihak apa lagi sampai mengancam terhadap disintegrasi bangsa. 

NSL mengingatkan agar pendidikan politik kepada masyarakat menjadi salah satu kunci dalam menciptakan suasana demokrasi yang sehat. Masyarakat perlu memahami bahwa perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Pilkada seharusnya menjadi ajang kompetisi sehat untuk mencari pemimpin terbaik, bukan pemicu konflik antarkelompok.Selain itu, pemerintah daerah dan aparat keamanan juga harus bersiap mengantisipasi potensi kerusuhan. Pendekatan persuasif lebih diutamakan daripada tindakan represif dalam menjaga stabilitas. Upaya mediasi dan dialog di wilayah yang berpotensi konflik menjadi langkah strategis untuk meredam ketegangan. *** (rilis)

Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Musda V Golkar Mimika, Willem Wandik: “Mimika Tetap Basis Golkar, Pertahankan Kemenangan”

20 September 2026 - 10:20 WIT

Rian Hendrik: “Kunjungan ke Ansus, Sekaligus Pantau Perbaikan Jalan”

19 September 2026 - 23:19 WIT

Dukung Pembangunan BUMKamp Kabuena, Tonny Tesar Salurkan Bantuan 20 Sak Semen

2 September 2026 - 18:21 WIT

Rian Hendrik Serap Aspirasi Warga Roswari, Soroti Air Bersih dan Infrastruktur

28 August 2026 - 20:45 WIT

Rian Hendrik Serap Aspirasi Pengemudi Ojek dan Moteres di Kawasan Cina Tua, Serui, Kepulauan Yapen

23 August 2026 - 10:06 WIT

HUT Ke-81 RI di Nusawani, Kepala Distrik Dorong Perhatian Pembangunan hingga Pelosok

19 August 2026 - 07:41 WIT

Trending di POLITIK