KABARPAPUA.CO, Kaimana – Juprianto Pali menjadi salah satu penumpang pesawat Smart Air PK-SNS yang mendarat darurat di laut Nabire, pada 27 Januari 2026 lalu.
Kepada wartawan di Kaimana, Juprianto menceritakan bagaiman detik-detik mesin pesawat mati hingga suasana didalam kabin pesawat ketika itu.
Diantara deretan penumpang dalam penerbangan pesawat Smart Air PK-SNS rute Nabire-Kaimana, 27 Januari 2026 lalu. Ada Juprianto yang duduk di kursi paling belakang.
Pria yang baru selesai menjenguk anak-anaknya di Nabire itu menjadi salah satu dari 11 penumpang bersama Pilot dan Co Pilot dalam pesawat yang mendarat darurat setelah mengudara kurang lebih tiga menit.
Penerbangan ini menjadi pilihan bagi Juprianto untuk kembali menjalankan tugas keseharianya sebagai Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Kaimana.
Seperti biasanya, ketika masuk dan duduk di dalam pesawat, Juprianto tak lupa memanjatkan doa dalam hati seraya meminta perlindungan dan pertolongan kepada Tuhan agar penerbangan ini dapat berjalan dengan aman dan lancar.
Setelah semua penumpang naik dan pintu ditutup, sang pilot pun menghidupkan mesin pesawat dan tak lama kemudian bergerak meninggalkan Apron di Bandar Udara Douw Aturure.
“Pada tanggal, 27 Januari, kebetulan saya berangkat dari Nabire ke Kaimana untuk kembali berdinas setelah pulang melihat anak-anak saya yang ada di Nabire,” ungkap Juprianto pada wartawan saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis, 12 Januari 2026.
Ayah tiga orang anak ini menceritakan bahwa pesawat itu berangkat dari Nabire kurang lebih hampir jam 1 siang. Ketika itu, semua berjalan normal dan tidak ada masalah.
“Pilot start engine, kami menuju taxiing kemudian masuk ke runway dan prosedur take off. Jadi kurang lebih dua sampai tiga menit kami mengudara, pesawat lepas landas dari runway, tiba-tiba pesawat itu engine atau mesinnya mati,” kisahnya.
Dalam kondisi itu, Juprianto mengaku sebagai menusia tentu dirinya bersama penumpang yang lain merasa panik dan takut.
“Kami yang ada di dalam termasuk saya ini sudah panik. Panik dalam artian tidak teriak-teriak, tapi saya berpikir yang positif saja. Saya berdoa dalam hati mudah-mudahan kami ini selamat,” katanya.
“Saya cuma pasrah, karena kebetulan saya setiap mau terbang selalu berdoa dalam hati ‘Tuhan lindungi kami, jaga kami’. Jadi pada saat masuk sampai di air itu, perasaan yang ada cuma pasrah saja,” katanya menambahkan.

Mendarat dengan Smooth
Di tengah mesin yang sedang mati, pesawat yang diterbangkan oleh pilot perempuan (Capt Tania Karima Sofyan) itu kemudian memutar dan bersiap untuk melakukan pendaratan darurat.
“Syukur puji Tuhan, pilot yang pada saat itu bertugas mengambil keputusan yang tepat, sehingga pesawat bermanuver kembali menuju runway. Cuma karena daya angkat sudah tidak ada di pesawat, jadi pilot mengambil keputusan mendaratkan pesawat di pantai atau laut,” jelasnya.
Pesawat tersebut, kata Juprianto, mendarat dengan smooth (mulus) walaupun ada benturan yang keras pada saat masuk di air dan semua penumpang bisa selamat termasuk kru.
“Jadi dari proses take off sampai kami ada di atas permukaan air laut, itu kurang lebih 5 sampai 10 menit,” jelas pria yang telah ditinggal pergi oleh sang istri karena meninggal dunia di tahun 2019 ini.
Sang pilot, kata Jupriato, kemudian membuka pintu ketika pesawat berhenti di atas permukaan air laut dan mengarahkan para penumpang untuk keluar.
Juprianto sendiri menjadi penumpang terakhir yang keluar dari dalam badan pesawat sebelum sang pilot. “Saat itu sudah banyak air laut yang masuk ke dalam pesawat,” katanya.
Seluruh penumpang bersama pilot dan co pilot, kemudian menyelamatkan diri dan berdiri di atas badan dan sayap pesawat yang masih terapung di atas permukaan laut.
“Kami bertahan di atas bodi dan sayap pesawat itu kurang lebih 30 menit sambil menunggu bantuan dari darat,” kataJuprianto.
Para pekerja dari perusahan yang berada di daratan dibantu warga sekitar, kemudian berenang ke posisi pesawat dengan membawa tali serta empat buah jerigen sebagai pelampung.
Tali itu kemudian diikatkan pada sayap di bagian belakang pesawat dan ditarik hingga mendekat ke dermaga perusahan yang berada di tempat ini. Setelah itu barulah dilakukan evakuasi terhadap seluruh penumpang ke atas dermaga.
Para penumpang kemudian diantar oleh tim pemadam kebakaran bandara ke Kantor Bandara Nabire untuk di data ulang oleh pihak airlines.

Mengaku Sangat Bersyukur
Pria yang lahir dan besar di Biak, Papua ini mengaku sangat bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk tetap hidup bersama dengan penumpang lainnya.
“Kalau saya bisa berbicara dengan Tuhan, dalam hal ini karena saya beragama Kristren, terimakasih Tuhan Yesus, terimakasih Tuhan masih sayang dengan saya, Tuhan masih lindungi saya,” kata Juprianto dengan nada sedikit bergetar.
Juprianto mengaku tak bisa membayangkan bagaimana nasib ketiga anaknya yang saat ini masih menempuh pendidikan apabila dirinya meninggal dalam peristiwa tersebut.
“Anak-anak saya yang tiga orang ini siapa yang mau urus, karena kasihan, saya sudah tidak ada istri, anak-anak saya masih sekolah semua. Itu saja yang ada di pikiran saya,” katanya.
“Tapi puji Tuhan, Tuhan Yesus sayang. Saya masih diberi kesempatan. Mudah-mudahan saya masih diberi kesempatan menjaga anak-anak saya yang menjadi titipan ini agar menjadi manusia-manusia yang hebat, jadi manusia yang berguna, menjadi contoh dan teladan bagi teman-temanya,” jelas Juprianto.
Juprianto berpesan kepada setiap orang untuk menghargai karunia hidup yang diberikan oleh Tuhan. “Buat teman-teman, saudara-saudara, hargai hidup anda. Profesi apapun anda hargai. Jadi orang yang baik dan berguna untuk banyak orang,” pesanya.
Pria yang pernah bekerja di Bandara Nabire dan Manokwari ini juga menegaskan, kisahnya ini bukan untuk mencari kesalahan dari pihak manapun, melainkan hanya ingin berbagi pengalaman sekaligus bersaksi tentang mujizat Tuhan dan tentang kondisi yang dialami.
“Terkait kronologis bagaimana pesawat jatuh, itu mungkin nanti dari pihak KNKT yang memberikan statement karena disini saya tidak punya hak untuk memberikan pernyataan apa sebab, kenapa dan bagaimana pesawat bisa mengalami hal itu,” bebernya. ***(Yosias Wambrauw)





























