KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua membuktikan komitmennya bahwa Rupiah harus hadir di setiap jengkal tanah air, termasuk di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Sepanjang Februari 2026, BI Papua telah sukses menggelar tiga aksi Kas Keliling Luar Kota (KKLK) untuk memastikan masyarakat mendapatkan uang layak edar demi kelancaran ekonomi sehari-hari.
Deputi Direktur Bank Indonesia Papua, Warsono, menegaskan penyediaan uang Rupiah dalam jumlah cukup dan pecahan yang sesuai adalah prioritas utama, terutama menjelang momentum Ramadan dan Idul Fitri 1447 H.
Jejak Perjalanan Pejuang Rupiah
Perjalanan tim yang dijuluki “Pejuang Rupiah” ini tidaklah mudah. Mereka harus bertaruh dengan cuaca dan kondisi geografis yang menantang, mulai dari Kabupaten Waropen, Provinsi Papua pada 3-4 Februari 2026. Tim mendarat di Bandara Botawa menggunakan pesawat caravan sebelum merapat ke Pasar Uri dan Bank Papua. Masyarakat menyambut antusias penukaran Uang Tidak Layak Edar (UTLE) menjadi uang baru yang segar.
Lalu, Pejuang Rupiah lainnya melakukan perjalanan ke Distrik Atsj, Asmat (3-4 Februari). Ini adalah salah satu misi tersulit. Tim menempuh dua kali penerbangan (Jayapura-Timika-Asmat), lalu menyambung perjalanan darat dan kapal melintasi sungai dari Agats menuju Distrik Atsj. Di tengah kelembapan tinggi wilayah rawa yang membuat uang mudah lusuh, BI memberikan edukasi khusus cara merawat uang agar tetap awet.
Pada 10-11 Februari) 2026, Pejuang Rupiah menyinggahi Wamena, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan. Tim fokus menyediakan Uang Pecahan Kecil (UPK). Kelangkaan uang receh di pasar tradisional Wamena seringkali memicu kesulitan penentuan harga dan berdampak pada inflasi. Kehadiran BI diharapkan mampu menstabilkan daya beli masyarakat setempat.
Edukasi Cinta Rupiah
Tak sekadar menukar uang, Bank Indonesia juga menggencarkan kampanye Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Mengingat kondisi alam Papua yang unik, masyarakat diingatkan untuk menerapkan prinsip 5J dalam menjaga “wajah bangsa” pada lembaran Rupiah: Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan distapler, Jangan dibasahi.
Sementara, menjelang Idul Fitri, Warsono mengimbau masyarakat untuk tidak berlebihan dalam berkonsumsi. “Kami berharap masyarakat berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan agar stabilitas harga tetap terjaga. Sinergi penyediaan uang tunai dan akselerasi pembayaran digital akan memperkuat kelancaran sistem pembayaran kita,” katanya. *** (Katharina/rilis)


















