KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Guna mengantisipasi terjadinya kerusuhan serupa tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Polda Papua bersama TNI memperketat pengamanan laga spektakuler Play Off Road Liga 1 antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC. Pertandingan dijadwalkan berlangsung di Stadion Lukas Enembe, Sentani, pada Jumat 8 Mei 2026, pukul 17.00 WIT.
Kapolda Papua, Irjen Pol Patrige Rudolf Renwarin menjelaskan pihaknya melakukan penebalan kekuatan secara signifikan. Jika biasanya laga hanya dikawal oleh sekitar 400 personel, kali ini jumlah tersebut melonjak menjadi 700 personel gabungan.
“Sebanyak 700 personel gabungan yang berjaga terdiri dari Polda Papua, Satuan Brimob, dan Polres Jayapura. Jumlah tersebut sudah termasuk dukungan personel TNI yang juga dilibatkan,” ujar Patrige saat meninjau kesiapan di Stadion Lukas Enembe, Kamis 7 Mei 2026.
Irjen Patrige menegaskan skema pengamanan kali ini merupakan hasil evaluasi mendalam dari sejumlah insiden kelam sepak bola di Indonesia, termasuk tragedi di Kanjuruhan Malang dan Stadion Mandala Jayapura.
Sesuai instruksi Kapolri, setiap pertandingan kini wajib mematuhi aturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan yang lebih ketat untuk menjamin keselamatan penonton dan pemain.
Selain pengamanan di dalam area stadion, kepolisian juga menaruh perhatian pada potensi gangguan keamanan pasca pertandingan. Aparat mengantisipasi adanya konvoi suporter yang kerap memicu kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.
“Kalau Persipura menang tentu masyarakat senang dan bisa saja ada pawai. Kami berharap tetap tertib dan tidak mengganggu ketertiban lalu lintas,” tegas Kapolda.
Koordinasi Lintas Sektoral dan Objek Vital
Langkah preventif ini juga didukung penuh oleh TNI. Sehari sebelumnya, Pangkogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto, telah melakukan koordinasi intensif dengan Kapolda Papua.
Fokus pertemuan tersebut adalah memastikan pengamanan objek vital nasional, di mana Stadion Lukas Enembe menjadi salah satu prioritas utama. “Kami memastikan setiap potensi gangguan di titik-titik keramaian dan objek vital dapat diantisipasi secara dini melalui koordinasi lapangan yang solid,” tutup Irjen Patrige.. *** (Katharina)


















