KABARPAPUA.CO, Serui – Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tindafai di Kampung Ketuapi, Distrik Anotaurei, Kabupaten Kepulauan Yapen, berharap pemerintah daerah (pemda) melalui dinas terkait kembali memberikan perhatian dan dukungan untuk mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar.
“Sebab dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan produksi akibat keterbatasan pakan dan sarana pendukung,” kata Ketua Pokdakan Tindafai, Yehuda Wayangkau kepada media di Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, belum lama ini.
Yehuda mengatakan, kelompoknya saat ini mengelola delapan kolam ikan air tawar dengan 10 anggota. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan nila gift dan ikan mas. “Usaha budidaya ikan di Kampung Ketuapi telah dirintis sejak sekitar 1992-1993,” katanya.
Sedangkan untuk Pokdakan Tindafai, kata Yehuda, secara resmi dibentuk pada tahun 2012. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan budidaya ikan air tawar di Tulungagung untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usaha perikanan.
“Jenis ikan yang kami budidayakan adalah nila gift dan ikan mas. Usaha ini sudah lama kami jalankan dan pernah memberikan manfaat bagi ekonomi masyarakat, terutama anggota kelompok,” kata Yehuda.
Yehuda menuturkan, produksi ikan sempat mengalami peningkatan pada 2023 hingga 2024. Permintaan pasar saat itu cukup tinggi, bahkan konsumen datang langsung ke lokasi budidaya maupun meminta ikan diantar ke tempat mereka.
“Dalam sekali penjualan, permintaan ikan rata-rata mencapai sekitar 25 kilogram dan pernah menembus hingga 60 kilogram. Hasil budidaya dipasarkan dengan harga sekitar Rp75 ribu per kilogram, termasuk kepada sejumlah warung makan di Serui,” terangnya.

Namun sejak 2025, kata Yehuda, usaha budidaya ikan mulai mengalami penurunan. Produksi tidak lagi sebanyak tahun-tahun sebelumnya sehingga kemampuan kelompok dalam memenuhi permintaan pasar ikut berkurang.
“Untuk sementara memang masih ada ikan di kolam, tetapi jumlahnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sejak 2025 usaha budidaya ikan ini mulai mengalami penurunan,” ujarnya.
Yehuda menjelaskan, kelompoknya menggunakan beberapa jenis kolam, mulai dari kolam alami hingga kolam yang dilengkapi waring. Seluruh anggota kelompok membudidayakan jenis ikan yang sama, yakni nila gift dan ikan mas.
Salah satu kendala utama yang dihadapi para pembudidaya saat ini adalah tingginya biaya dan terbatasnya ketersediaan pakan ikan. Padahal, pakan merupakan kebutuhan utama yang menentukan pertumbuhan ikan dan keberlanjutan usaha budidaya.
Karena itu, Pokdakan Tindafai berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat kembali memberikan bantuan, khususnya berupa pakan dan sarana pendukung lainnya, agar usaha budidaya ikan air tawar di Kabupaten Kepulauan Yapen dapat berkembang kembali.
“Kami berharap ada perhatian dari dinas terkait, khususnya untuk kelompok budidaya ikan di Kabupaten Kepulauan Yapen. Kendala kami salah satunya adalah pakan, karena pakan merupakan kebutuhan pokok dalam usaha budidaya ikan,” tutur Yehuda.
Ia menyebutkan, kelompoknya pernah menerima bantuan pemerintah pada 2022 dan 2023. Bantuan tersebut, terutama berupa pakan ikan, dinilai sangat membantu meningkatkan pertumbuhan ikan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha kelompok.
Dengan adanya dukungan serupa, Yehuda berharap Pokdakan Tindafai dapat meningkatkan kembali produksi ikan nila gift dan ikan mas, memperluas pemasaran, serta memberikan kontribusi terhadap perekonomian anggota kelompok dan masyarakat Kampung Ketuapi serta kelompok-kelompok ikalan lainnya di Kabupaten Kepulauan Yapen. ***(Ainun Faathirjal)




















