KABARPAPUA.CO, Kota Jayapura– Kalangan pemuda diingatkan agar tidak meremehkan hal-hal kecil dan produktif yang sedang dikerjakan saat ini, seperti memanfaatkan potensi lokal untuk merintis usaha maupun berkarya, misalnya lewat kuliner biji kopi dan sagu di Papua.
Apalagi kekayaan alam Papua yang melimpah kerap kali dihadapkan pada tantangan sumber daya manusia yang belum terkelola secara optimal.
“Saatnya anak muda di Papua turun tangan dan membuktikan bahwa anak muda Papua mampu menjadi motor penggerak ketahanan pangan lokal,” kata Co-Founder Gerakan Colo Sagu, Michael John Yarisetouw dalam Diskusi Sagu yang mengangkat tema Kopi, Pemuda dan Kebhinekaan yang digelar di BM Coffee Kotaraja, Kota Jayapura, Minggu 25 Oktober 2026.

Co-Founder Gerakan Colo Sagu, Michael John Yarisetouw (paling kanan) dalam Diskusi Sagu yang mengangkat tema Kopi, Pemuda dan Kebhinekaan yang digelar di BM Coffee Kotaraja, Kota Jayapura. Foto: Katharina/KabarPapua.co
Michael bahkan mengenang bagaimana inisiatif Gerakan Colo Sagu pertama kali dirancang pada 2023 di Kabupaten Jayapura dan justru saat ini menjadi ruang pemberdayaan bagi generasi muda yang konsen pada kepedulian terhadap potensi pangan lokal.
Dirinya yakin dengan langkah kecil yang dimulai dari secangkir kopi dan sepiring sagu dapat membakar semangat anak muda Papua untuk bangkit, mengambil peran, dan membuktikan bahwa tanah Papua menyimpan masa depan cerah.
Michael menjelaskan, kopi misalnya menjadi sejarah peradaban panjang, termasuk menjadi ruang lahirnya gagasan besar seperti Revolusi Perancis 1789 yang berawal dari diskusi-diskusi menyesap kopi di kafe.
“Jadi, duduk di cafe saat ini jangan tanpa arah, melainkan menjadikannya wadah produktif untuk membahas masa depan pribadi, daerah, hingga masa depan bangsa,” kata anak muda Papua ini yang juga sebagai peneliti di INSS (Intelligence and National Security Studies).
Bijak Bermedsos

Diskusi Sagu yang mengangkat tema Kopi, Pemuda dan Kebhinekaan yang digelar di BM Coffee Kotaraja, Kota Jayapura. Foto: Katharina/KabarPapua.co
Dalam diskusi kepemudaan yang diikuti 50-an anak muda di Papua ini juga diingatkan untuk pentingnya menjaga etika dan bijak menggunakan media sosial (medsos).
“Membangun dan menjaga kebhinekaan dan keutuhan negara dinilai bukan perkara mudah, sehingga pemuda diminta untuk lebih selektif dan menyebarkan informasi yang berlandaskan pada kebenaran serta fakta. Jari itu, lebih baik dipakai untuk tanam tomat, berkebun, bikin kopi, dan menghasilkan karya positif,” ujarnya.
Alih-alih terbuai dengan bayangan gerakan atau revolusi besar yang destruktif, para pemuda diajak untuk fokus membangun daerah melalui bidang yang ditekuni.
“Potensi lokal seperti pengelolaan kopi daerah dinilai memiliki daya tahan dan nilai tuntas jika ditekuni dengan semangat kebersamaan tanpa harus mencari-cari perbedaan,” katanya.
Mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto, selama masih ada generasi muda yang jujur, berani, dan setia, keutuhan Indonesia akan tetap terjaga. “Saya mengajak anak muda di Papua fokus berkarya, menghasilkan produk-produk positif berbasis potensi lokal, serta menjaga persatuan demi kemajuan daerah,” ajaknya. *** (Katharina)








