Menu ✖

Mode Gelap
Antisipasi 1 Desember, TNI Polri Patroli 2×24 jam di Kota Jayapura Pesan Sejuk Polri di Deklarasi Pemilu Ceria Tanah Papua Gedung Perpustakaan SMPN 5 Sentani Terbakar Hibah Pilkada Jayapura Cair 10 Persen, Deposit Kas Daerah Rp23 Miliar Disorot 1 Desember di Jayapura: Polisi Amankan Ratusan Botol Miras Ilegal, Penjual Ngacir

LINGKUNGAN · 11 Oct 2026 17:32 WIT

Kondisi Darurat Kabut Asap Kahutla Ancam Papua Barat, Bintuni dan Fakfak Status Merah


					Ilustrasi peta sebaran titik panas di wilayah Papua Barat. (Foto dok: BMKG) Perbesar

Ilustrasi peta sebaran titik panas di wilayah Papua Barat. (Foto dok: BMKG)

KABARPAPUA.CO, Kaimana – Kondisi darurat kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam Provinsi Papua Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Rendani Manokwari merilis peringatan dini menyusul terdeteksinya 268 titik panas (hotspot) dan penurunan jarak pandang hingga 1 kilometer.

Dalam Siaran Pers Nomor : HM.02.00/001/KMKW/X/2026 yang dirilis Sabtu, 11 Oktober 2026, Kepala Stasiun BMKG Manokwari Cipta Utama menyebut, penyebab utama adalah fenomena iklim global El Nino kategori Sangat Kuat.

“Hasil analisis kondisi iklim global menunjukkan ENSO bulan Oktober 2026 berada pada kategori El Niño Sangat Kuat dengan indeks NINO 3.4 sebesar +2.83. BMKG memprediksi El Nino 2026 akan bertahan hingga awal tahun 2027,” tulis BMKG dalam rilisnya.

Selain El Nino, Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada fase Positif hingga akhir 2026, ditambah Monsun Australia yang aktif lebih kuat dari biasanya, sementara Monsun Asia tidak aktif hingga pertengahan Oktober. Kombinasi ini membuat cuaca di Papua Barat menjadi jauh lebih panas dan kering.

Personil BPBD dan Dinas pemadam kebakaran Kabupaten Kaimana saat berupaya memadamkan api. (Foto dok: IST)

Bintuni dan Fakfak Status Merah

Berdasarkan Fire Weather Index per 11 Oktober 2026, tingkat kerawanan karhutla di Papua Barat didominasi kategori Sangat Tinggi (Merah) yang menyelimuti seluruh wilayah Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Fakfak.

Sementara Kabupaten Manokwari dan Kaimana berada pada kategori Tinggi (Kuning) hingga Sedang (Hijau), serta Kabupaten Teluk Wondama, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak pada kategori Rendah (Biru) hingga Sedang.

“Pemantauan hotspot periode 10 Oktober 2026 terpantau sebanyak 268 hotspot, didominasi tingkat kepercayaan Sedang sebanyak 245 titik, Rendah 4 titik dan Tinggi 19 titik. Sebaran terbanyak di Kaimana, Fakfak dan Teluk Bintuni,” jelas BMKG.

Dampaknya langsung terasa. Pantauan visibility di Stasiun Rendani Manokwari menunjukkan jarak pandang mendatar hanya berkisar 1 kilometer hingga 4 kilometer.

BMKG pun mengeluarkan peringatan dini asap yang dapat menyebabkan penurunan kualitas udara, mengurangi jarak pandang transportasi, serta menimbulkan gangguan kesehatan di tujuh kabupaten: Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Bintuni, Fakfak, Kaimana dan Teluk Wondama.

Untuk itu, BMKG mengeluarkan imbauan kepada masyarakat, yakni masyarakat dilarang membuka atau membersihkan lahan dan sampah dengan cara membakar. Gunakan air secara bijaksana dan antisipasi krisis air bersih.

Juga jaga kesehatan, perbanyak minum air putih dan wajib gunakan masker saat di luar ruangan. Lalu, pelaku transportasi udara dan laut diminta selalu update info cuaca karena jarak pandang menurun. Terus, pantau info BMKG via website http://www.cuaca.bmkg.go.id, IG/Twitter @bmkg_manokwari, aplikasi InfoBMKG, WhatsApp 081-1485-627. ***(Yosias Wambrauw)

Artikel ini telah dibaca 130 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

PLN Indonesia Power UBP Holtekamp dan Srikandi Gelar Coastal Clean-Up

12 October 2026 - 10:41 WIT

Karhutla Terus Meluas, Polres Kaimana Gelar Salat Istisqa Bersama Bupati dan Forkopimda

10 October 2026 - 19:20 WIT

Pemkab Kaimana Minta Bantuan Provinsi Papua Barat untuk Padamkan Karhutla 185 Hektar

10 October 2026 - 18:53 WIT

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kaimana Telah Mencapai 185 Hektar

10 October 2026 - 18:45 WIT

Kodim 1709 Yawa Tanam 6.500 Pohon, Dukung Pelestarian Lingkungan di Kepulauan Yapen

2 October 2026 - 20:42 WIT

Merajut Kehidupan Laut Jayapura, Mengubah Abu FABA Menjadi Surga Biota

18 September 2026 - 19:32 WIT

Trending di BISNIS