KABARPAPUA.CO, Depapre– Pesisir Yewena dan Dormena di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua pernah menyimpan cerita kelam tentang sang penjelajah samudra, penyu atau kerap disebut Teteruga oleh masyarakat setempat.
Dulu, Teteruga bukan satwa langka yang harus dilindungi, tidak ada mitos keramat, tidak ada pula pantangan adat yang membentengi keberadaannya. Penyu hanyalah “ikan besar” atau rezeki berlimpah dari laut yang bebas dipanen kapan saja untuk mengisi perut.
Proses perburuannya terbilang gampang, sementara porsinya sangat melimpah. Apalagi jika Teteruga yang tertangkap sedang mengandung, kombinasi dagingnya yang tebal dan berlemak gurih serta butiran telur segar di dalamnya menjadi sajian yang paling lengkap.

Pesisir Pantai Yewena, Distrik Depape, Kabupaten Jayapura. Foto: Katharina Lita/KabarPapua.co
`“Penyu mudah didapat dan dagingnya lebih banyak. Kalau yang tertangkap penyu sedang mengandung dan punya telur, warga paling suka,” kata Stefanus Yaroseray, pemuda setempat, saat ditemui di Kampung Yewena, Jumat 2 Oktober 2026.
Daging Teteruga lalu diolah menjadi hidangan istimewa di setiap meja makan dan piring-piring warga, pesta adat hingga acara syukuran di gereja.
Karena ukurannya yang sangat besar, seekor penyu jarang dinikmati sendirian. Dagingnya dipotong-potong, lalu dibagikan secara cuma-cuma dari rumah ke rumah, dari sanak saudara hingga tetangga sebelah. Kebiasaan berbagi ini mempererat kehangatan dan rasa persaudaraan warga kampung. Namun tanpa mereka sadari, kehangatan di atas meja makan itu perlahan mendorong populasi Teteruga menuju jurang kepunahan.
Nurani yang Tergugah

Bak penampung pemeliharaan tukik sebelum dilepasliarkan di lautan lepas. Foto: Katharina Lita/Kabarpapua.co
Tragis. Dampaknya adalah populasi Teteruga terus menyusut. Meskipun penyu itu sudah dilindungi. Data BBKSDA Papua mencatat empat spesies penyu dilindungi bertelur di pesisir utara Jayapura. Ada Penyu Sisik, Penyu Hijau, Penyu Lekang, dan Penyu Tempayan. Tanpa perlindungan, kelangsungan hidup mereka terancam. Tingkat keberhasilan penetasan telur secara alami di bawah 30 persen.
Kondisi ini menyebabkan kegelisahan anak-anak muda Kampung Yewena dan Dormena. Diawali langkah pemuda bernama Andrias Indey yang teringat jejak perintis konservasi di keluarganya yang dilakukan sejak 1995. Hati Andrias atau yang akrab disapa Andi tak tenang melihat perburuan liar yang semakin tak terkendali. Bersama sahabatnya, Stefanus Yaroseray, kekhawatiran selalu membayangi pikiran keduanya. Jika tradisi santap Teteruga terus dibiarkan, anak cucu ke depan hanya bisa melihat penyu lewat lembaran foto ataupun gambar bergerak.
Pada 2021, Andi dan Stefan panggilan harian Stefanus, mulai merapatkan barisan. Mereka menggandeng para pemuda lainnya di lingkungan gereja mendirikan kelompok penangkaran penyu, namanya Markisi Nung.

Markisi Nung, tempat pemeliharaan tukik di Kampung Yewena. Foto: Katharina Lita/KabarPapua.co
“Kitorang (kita) tidak bisa diam saja lihat Teteruga habis,” kata Andi.
Lalu, aksi dimulai dari ronda malam bergiliran. Para pemuda gereja ini menyusun jadwal untuk meronda garis pantai dari tengah malam hingga fajar.
“Ayo bangun, pasang senter! Jang sampe (jangan sampai) ada sarang yang dibongkar,” teriak anak-anak muda ini menyemangati diri sendiri.
Mengubah tradisi yang sudah mengakar dan urusan perut bukan perkara mudah. Namun, para pemuda ini tidak membawa ancaman atau amarah, justru mereka membawa jalan yang santun untuk berdiskusi dan memberikan edukasi tanpa terkesan mengajari para tokoh adat, masyarakat hingga tokoh gereja soal kebiasaan menyantap daging Teteruga. Edukasi yang diberikan Andi Cs terkait keberlangsungan Teteruga bagi habitat laut dan juga manfaat pelestarian Teteruga bagi anak cucu di kampung tersebut.
Penyelamatan hingga ke Bangku Sekolah

Mulok terkait pelestarian penyu menyasar SMP Satu Atap Dormena, Kabupaten Jayapura Foto: Katharina Lita/KabarPapua.co
Edukasi santun yang dilakukan Andi dan para pemuda membuahkan hasil. Gerakan ini dilirik oleh kepala sekolah SMP Satu Atap Dormena. Andi cs diajak berdiskusi dan ditawarkan memberikan pelajaran muatan lokal (mulok) tentang pelestarian penyu di sekolah.
Dalam diskusi tersebut, kepala sekolah sempat berseloroh, para murid sulit membayangkan atau menangkap pembelajaran tentang benda antariksa, sehingga guru tersebut memberikan penawaran kepada para murid, bagaimana jika pelajaran tentang antariksa diganti dengan pemahaman terkait pelestarian penyu. Disitulah para murid bersorak kegirangan. Akhirnya, langkah Andi dan para pemuda lainnya makin mantap ke sekolah untuk memberikan pemahaman bagaimana melindungi penyu dari serangan predator.
“Jelas tawaran ini langsung disanggupi. Kami diberikan jadwal setiap hari Jumat mengajarkan tentang manfaat kehidupan penyu dan keberlanjutannya,” kata Andi.

Stefanus Yoraseray, pemuda yang giat memberikan edukasi terkait pelestarian penyu dan kehidupan berkelanjutan. Foto: Katharina Lita/KabarPapua.co
Dari sekolah inilah menjadi cara terbaik mengubah hati orang tua untuk memulai mengurangi konsumsi daging penyu.
“Mendidik warga lewat anak-anak ternyata sangat efektif. Saat orang tua hendak mengkonsumsi daging penyu, justru anak-anak mereka yang memberi teguran dan orang tua pasti lebih mendengar permintaan anaknya,” kenang Stefan.
Ketekunan anak-anak muda ini pun dilihat warga. Ketekunan yang tak berorientasi profit ini membuat warga memancing keingintahuannya. Warga akhirnya belajar tentang keanekaragaman hayati hingga belajar tentang pentingnya keseimbangan alam.
Menanam Harapan

Pelepasliaran tukik di Pantai Yewena, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Foto: Katharina/KabarPapua.co
Tak hanya itu saja, para pemuda Yewena juga menciptakan jalan keluar yang bijak yakni sistem barter pangan.
Warga yang menemukan telur penyu di sepanjang pantai kini tak lagi membawanya ke wajan dapur, namun diserahkan ke Andi cs untuk dibawa ke lokasi penangkaran semi-alami. Sebagai gantinya, para pemuda memberikan kompensasi berupa bahan pokok seperti beras, minyak goreng dan gula. “Dapur warga tetap ngebul dan nyawa para calon Teteruga pun terselamatkan,” kata Stefan.
Lalu, lokasi penangkaran, telur-telur diselimuti pasir hangat dan dijaga ketat dari ancaman predator seperti anjing, biawak, maupun tangan perambah. Begitu cangkang pecah dan anak penyu (tukik) muncul ke permukaan, mereka dirawat dengan penuh kasih sayang hingga jemari sirip mereka cukup kuat untuk mengarungi lautan lepas
Fitri Henock, salah seorang siswi SMP Satu Atap Dormena tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya setiap kali hari Jumat tiba. Dari kegiatan edukasi yang didukung berbagai pihak, Fitri dan teman-temannya kini mengetahui dari 7 spesies penyu yang ada di dunia, 6 di antaranya berenang di lautan Indonesia.
Siswi kelas VIII ini mengaku momen paling emosional adalah ketika jemarinya memegang tukik yang hangat, lalu melepaskannya perlahan di garis pantai dan menyaksikan makhluk mungil itu berenang menyongsong gelombang Pasifik.
“Akhirnya Sa (saya) paham bahwa ada 7 spesies penyu di dunia, lalu 6 spesies penyu di antaranya atau 90 persennya hidup di laut Indonesia. Dengan pembelajaran mulok ini, Sa akhirnya bisa memegang tukik dan mencintai mereka (tukik) untuk hidup lebih lama,” katanya.
Fitri, guru setempat mengakui dengan mulok yang didapat, para siswa bisa menambah pengetahuan tentang kehidupan penyu.
“Mereka jadi paham betul tentang penyu, karena tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mempraktekkannya. Anak-anak selalu antusias jika belajar mulok, apalagi jika Kaka (Kakak) Stefan dan Kaka Andi bawa tukik untuk dilepasliarkan,” kata Fitri bangga.
Kehidupan Baru

Tukik yang dilepasliarkan di Pantai Yewena, Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Foto: Katharina Lita/KabarPapua.co
Energi baik akan menukar. Langkah tulus para pemuda dan warga Yewena tidak berjalan sendirian. Konsistensi mereka disambut Pertamina dan Balai Besar KSDA Papua.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas menjelaskan Pertamina mulai aktif mendampingi sejak 2024 dengan ikut memperkuat gerakan ini melalui penyuluhan, pelatihan penanganan satwa, hingga pembangunan fasilitas penunjang dan sarana edukasi.
“Kami (Pertamina) dan para local hero menyadari bahwa menjaga Teteruga berarti menjaga rantai makanan di laut. Jika penyu punah, ekosistem rusak, dan populasi ikan yang menjadi sumber penghidupan nelayan pun akan merosot,” katanya.
Kini, Kampung Yewena telah bersolek penuh senyum. Kawasan ini telah bertransformasi menjadi destinasi wisata minat khusus yang hangat dan ramah. Pengunjung tak hanya disuguhi indahnya pemandangan pesisir Depapre, tetapi juga diajak belajar merawat kehidupan laut.
Mitos lama bahwa Teteruga adalah sajian lezat di meja makan telah runtuh dan berganti dengan kesadaran baru yakni penyu adalah penjaga Samudera Jayapura yang harus dilindungi selamanya dan di atas pasir Yewena, jejak-jejak kecil tukik yang merayap menuju laut kini menjadi simbol harapan baru untuk keberlangsungan semua makhluk Tuhan. *** (Katharina Lita)








