KABARPAPUA.CO, Ansus – Anggota DPRK Kepulauan Yapen Rian Hendrik mengapresiasi pelaksanaan Festival Arus Ansus 2026 yang berlangsung pada 7-9 Oktober 2026 di Ansus, Distrik Yapen Barat, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.
Ia berharap festival yang mengangkat kekayaan budaya dan tradisi masyarakat pesisir itu dapat ditetapkan sebagai agenda tahunan. “Sukses terus bagi Ketua Panitia Pdt. Johanis Petrus Menanti dan semua pihak yang terlibat,” katanya, Jumat, 9 Oktober 2026.
Festival Arus Ansus merupakan program perdana Forum Arus Nusantara yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Festival ini jadi ruang perjumpaan mengenali kembali kekayaan budaya, sejarah, kreativitas, dan potensi Ansus, sekaligus mempertemukan masyarakat, generasi muda, komunitas, pelaku budaya, dan berbagai pihak untuk membangun kolaborasi bagi masa depan Ansus.

Suasana pelaksanaan lomba perahu dalam Festival Arus Ansus yang digelar selama 3 hari di Ansus, Distrik Yapen Barat, Kepulauan Yapen, Papua. (KabarPapua.co/Ainun Faathirjal)
Selama tiga hari pelaksanaan, festival menghadirkan beragam kegiatan budaya dan perlombaan yang melibatkan masyarakat setempat.
Sejumlah lomba yang digelar antara lain lomba dayung perahu ukiran Ansus, lomba dayung anak-anak, dan lomba dayung cege yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat pesisir.
Selain perlombaan, Pasar Ansus turut menyajikan beragam kuliner lokal yang menjadi bagian dari kekayaan cita rasa lokal masyarakat setempat.
Pengunjung dapat menikmati ikan asap, sagu bakar, donat kampung khas Ansus, acar gurita, sate kerang atau bia, sayur tumis genemo, hingga ketupat santan.

Suasana pelaksanaan lomba perahu dalam Festival Arus Ansus yang digelar selama 3 hari di Ansus, Distrik Yapen Barat, Kepulauan Yapen, Papua. (KabarPapua.co/Ainun Faathirjal)
Ansus sejak dahulu dikenal dengan sebutan Negeri Seribu Tiang, yang menggambarkan kehidupan masyarakat di rumah-rumah panggung yang berdiri di atas laut dengan tiang penyangga.
Bagi masyarakat setempat, perahu bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian penting dari identitas dan kehidupan sehari-hari, mulai dari bepergian antarrumah, memancing, berkebun, hingga berjualan.
Keunikan budaya maritim Ansus juga terlihat melalui perahu dayung berukir khas kampung Ansus. Ukiran yang menghiasi badan perahu mencerminkan kekayaan seni masyarakat setempat.
Ketika perahu bergerak, gerakan tangan para pendayung berpadu dengan irama dan koordinasi tubuh untuk menjaga arah serta keseimbangan selama perjalanan.

Suasana pelaksanaan lomba perahu dalam Festival Arus Ansus yang digelar selama 3 hari di Ansus, Distrik Yapen Barat, Kepulauan Yapen, Papua. (KabarPapua.co/Ainun Faathirjal)
Salah satu tradisi yang menjadi perhatian dalam Festival Arus Ansus adalah cege, yakni tradisi menyanyi sambil mendayung perahu.
Bagi masyarakat Ansus, laut bukan sekadar jalur perjalanan, tetapi juga ruang untuk mewariskan ingatan, pengalaman, dan perasaan melalui nyanyian.
Tradisi cege juga memperlihatkan kebersamaan perempuan-perempuan Ansus yang menyatukan suara melalui lagu ainuai, salah satu jenis lagu yang dikenal dalam tradisi tersebut.

Suasana pelaksanaan lomba perahu dalam Festival Arus Ansus yang digelar selama 3 hari di Ansus, Distrik Yapen Barat, Kepulauan Yapen, Papua. (KabarPapua.co/Ainun Faathirjal)
Nyanyian itu menjadi bagian dari pengalaman kolektif masyarakat pesisir yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam pelaksanaannya, seorang pendayung biasanya memulai nyanyian, kemudian bagian lagu tersebut diulang oleh pendayung lainnya.
Ungkapan yang dinyanyikan dapat menggambarkan hal-hal yang mereka lihat, alami, atau rasakan selama perjalanan di laut.
Tradisi ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pengalaman masyarakat Ansus tidak hanya diwariskan melalui tulisan, tetapi juga melalui lagu, irama dayung, perjalanan laut, serta kebersamaan yang mempererat hubungan antargenerasi dalam menjaga identitas dan warisan budaya masyarakat pesisir.

Suasana pelaksanaan lomba perahu dalam Festival Arus Ansus yang digelar selama 3 hari di Ansus, Distrik Yapen Barat, Kepulauan Yapen, Papua. (KabarPapua.co/Ainun Faathirjal)
Cege menjadi salah satu cara masyarakat menjaga ingatan kolektif sekaligus memperkuat ikatan sosial di tengah kehidupan pesisir.
Melalui Festival Arus Ansus 2026, kekayaan budaya tersebut diharapkan semakin dikenal oleh generasi muda dan masyarakat luas.
Harapan agar festival ini menjadi agenda tahunan juga menjadi dorongan untuk terus merawat tradisi, mengembangkan kreativitas masyarakat, serta memperkenalkan potensi budaya dan pariwisata Ansus kepada khalayak yang lebih luas.***(Ainun Faathirjal)








