KABARPAPUA.CO, Serui – Kasus Skabies yang ditangani Puskesmas Serui Kota mengalami penurunan. Berdasarkan data rekapitulasi pelayanan, tercatat 101 kasus pada Juni 2026, kemudian turun menjadi 72 kasus pada Juli 2026.
“Dengan demikian, terjadi penurunan sebanyak 29 kasus atau sekitar 28,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Kepala Puskesmas Serui Kota, dr. Agnes Irayne Lakoy.
Menurut Agnes, meski angka kasus mengalami penurunan, Puskesmas Serui Kota tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri, pakaian dan lingkungan tempat tinggal serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gatal hebat, terutama pada malam hari.
“Jika ada anggota keluarga yang mengalami gatal seperti ini, sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Jangan tunggu sampai semakin parah, sebab penanganan yang tepat dan menjaga kebersihan sangat penting cegah penularan,” paparnya.
Menurut Agnes, Skabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes Scabiei. “Tungau berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk ke lapisan kulit dan menimbulkan rasa gatal yang hebat, terutama pada malam hari,” jelasnya.
Menurutnya, Skabies dapat menular melalui kontak kulit yang dekat dan berlangsung cukup lama. Penularan juga dapat terjadi dalam lingkungan tempat tinggal yang memiliki kontak erat.
“Sehingga apabila salah satu anggota keluarga mengalami Skabies, anggota keluarga lainnya perlu mewaspadai kemungkinan penularan. Karena itu, penanganannya harus dilakukan dengan benar agar tak terjadi penularan berulang,” jelasnya.
Agnes mengatakan, gejala yang umum dialami penderita Skabies berupa rasa gatal yang sangat kuat dan biasanya semakin terasa pada malam hari. “Rasa gatal tersebut dapat menyebabkan penderita terus menggaruk hingga menimbulkan luka pada kulit,” ujarnya.
Menurut Agnes, bagian tubuh yang sering mengalami keluhan antara lain sela-sela jari, pergelangan tangan, siku, pinggang serta dapat ke bagian tubuh lainnya. “Apabila tak ditangani baik, luka akibat garukan dapat infeksi,” katanya.
Dalam penanganannya, kata Agnes, menggunakan salep permethrin merupakan salah satu obat yang efektif digunakan untuk mengatasi skabies. “Namun, ketersediaan obat itu di Serui saat ini, menjadi salah satu kendala,” terangnya.
Agnes mengatakan, di Puskesmasnya memberikan pengobatan sesuai kondisi pasien. Untuk salep permethrin saat ini memang agak sulit ditemukan di Serui.

“Ada beberapa obat yang dijual di apotek, seperti Scabimite dan Scabicide, tetapi penggunaannya tetap harus sesuai petunjuk dokter,” ujarnya.
Agnes mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan obat tanpa mengetahui cara dan dosis pemakaian yang tepat.
“Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan keluhan yang dialami memang disebabkan oleh skabies serta menentukan pengobatan yang sesuai,” paparnya.
Selain pengobatan, kata Agnes, kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal juga menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.
Pasien yang sedang menjalani pengobatan disarankan memperhatikan kebersihan pakaian, sprei, sarung bantal, selimut dan barang-barang lain yang sering bersentuhan langsung dengan kulit.
“Kalau sprei dan pakaian dicuci, bisa menggunakan air panas apabila memungkinkan, kemudian dicuci seperti biasa dan dikeringkan dengan baik. Kasur dan bantal juga dapat dijemur. Pakaian yang sudah dicuci dapat disetrika untuk membantu menjaga kebersihan,” terangnya.
Menurut Agnes, pengobatan yang dilakukan dengan benar perlu disertai dengan penerapan pola hidup bersih. Hal tersebut penting untuk mencegah terjadinya penularan kembali setelah pengobatan.
Ia juga menjelaskan, rasa gatal pada penderita Skabies tidak selalu langsung menghilang setelah pengobatan. Dalam beberapa kasus, rasa gatal dapat bertahan selama beberapa waktu meskipun tungau penyebabnya telah berhasil ditangani.
“Karena itu, pasien diminta tidak menghentikan pengobatan atau mengganti obat secara sembarangan tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Menurut Agnes, jika pengobatan dilakukan dengan benar dan kebersihan tetap dijaga, skabies dapat ditangani. “Tapi pengobatan tak dilakukan baik dan kebersihan lingkungan tak diperhatikan, keluhan dapat berlangsung lebih lama dan berisiko menimbulkan infeksi pada kulit,” katanya.
Agnes menambahkan, anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan penderita juga perlu diperhatikan. “Hal ini penting karena seseorang yang sudah tertular dapat belum menunjukkan gejala pada awalnya, tetapi kemudian mengalami keluhan atau menularkan kembali kepada anggota keluarga lainnya,” jelasnya. ***(Ainun Faathirjal)




















