KABARPAPUA.CO, Ilaga– Pemerintah Kabupaten Puncak melalui Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan (Disnaker Perindag) menggelar pelatihan serta menyalurkan bantuan peralatan pembuatan noken berbahan kulit kayu kepada pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) Orang Asli Papua (OAP). Kegiatan berlangsung di Aula Disnaker Perindag Kabupaten Puncak, Senin, 3 Agustus 2026. Kegiatan diikuti 30 peserta dan bertujuan meningkatkan keterampilan perajin sekaligus melestarikan warisan budaya khas Papua.
Pelaksana Tugas Kepala Disnaker Perindag Kabupaten Puncak, Ruth Alom menyampaikan program pelatihan dan bantuan peralatan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas perajin dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi.
“Kami berharap, pelatihan ini bisa meningkatkan keterampilan, menjaga kelestarian budaya, meningkatkan produktivitas dan pendapatan, serta memperkuat pemberdayaan perempuan,” kata Ruth.
Kepala Bidang Perindustrian Disnaker Perindag Kabupaten Puncak, Yuwenus Tabo menjelaskan seluruh peserta menerima bahan baku dan peralatan pembuatan noken asli berbahan dasar kulit kayu. Selain memberikan pelatihan teknis, pemerintah daerah juga berupaya memperluas akses pemasaran bagi produk kerajinan masyarakat.
Yuwenus bilang, Disnaker Perindag akan menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak untuk membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para perajin.
“Kami akan berupaya membuka akses pasar. Setiap kegiatan atau event di daerah diharapkan dapat menyediakan ruang bagi para perajin untuk memasarkan hasil karya mereka,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Perindustrian Provinsi Papua Tengah, Almince Mote. Ia menyatakan dukungannya terhadap pengembangan noken asli Puncak yang dibuat dari kulit kayu dan menilai program tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam memperkuat sektor IKM.
Noken kulit kayu khas Puncak memiliki ciri khas tersendiri karena menggunakan pewarna alami yang berasal dari kulit kayu, anggrek, dan buah-buahan tertentu. Keunikan tersebut menjadi nilai tambah yang membedakannya dari produk kerajinan serupa di daerah lain.
Salah seorang perajin sekaligus pemateri pelatihan, Hona Alom, menjelaskan proses pembuatan noken masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Noken berukuran kecil dapat diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga minggu, sedangkan ukuran besar membutuhkan waktu hingga satu sampai dua bulan.
Lamanya proses produksi turut mempengaruhi harga jual. Noken ukuran kecil dipasarkan sekitar Rp1,5 juta, sementara ukuran besar dapat mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan. *** (Diskominfo Kabupaten Puncak)


















